Sari mematikan mesin motor tuanya di halaman yang permukaannya kini lebih menyerupai rawa kecil setelah hujan. Suara mesin yang terbatuk sebelum mati seolah menjadi metafora bagi staminanya sendiri yang sudah berada di ambang batas. Di bahunya, tas kulit imitasi yang mulai mengelupas terisi penuh dengan buku cerita anak-anak, seperti dongeng tentang kancil yang cerdik, semut yang gotong royong, dan pangeran yang jujur. Buku-buku itu terasa sangat berat, seberat ironi yang ia pikul setiap kali melangkah masuk ke rumah suaminya.
Hari ini, kelas 3 SD tempatnya mengajar sedang gaduh luar biasa, namun kebisingan itu tak ada apa-apanya dibandingkan kegaduhan di dalam kepalanya. Sebuah pesan WhatsApp dari suaminya, seorang pejabat menengah di dinas pendidikan, masih membekas di layar ponsel: “Pulang malam, ada rapat dinas di hotel. Jangan tunggu.”
Sari tahu persis apa arti “rapat dinas” itu. Itu adalah kode untuk pertemuan di ruang remang-remang, di mana aroma kopi mahal bercampur dengan bau uang tunai yang berpindah tangan secara ilegal, dana renovasi sekolah atau proyek buku ajar yang disunat. Sudah tiga tahun pernikahannya terasa seperti kandang burung yang disepuh emas yang tampak terhormat dari luar, namun di dalamnya ia sedang membusuk perlahan, dikonsumsi oleh keheningan yang penuh dengan kepalsuan.
Lodeh dan Rahasia yang Mendidih
Di dapur, Ibu Siti sedang mengaduk sayur lodeh di atas api kecil. Aroma santan dan lengkuas yang meruap seharusnya menenangkan, tetapi bagi Sari, kepulan uap itu terasa seperti tabir yang menutupi banyak hal yang tak terucap.
“Kenapa mukamu keruh begitu, Nak? Makan dulu, ini lodeh kesukaanmu,” ujar Ibu Siti tanpa menoleh, seolah ia bisa membaca beban di pundak anaknya hanya dari bunyi langkah kaki.
Sari melangkah maju dan memeluk ibunya dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ibu yang mulai membungkuk. Bau minyak kayu putih dan bumbu masakan adalah satu-satunya wilayah netral di mana Sari merasa aman.
“Bu, tadi di sekolah anak-anak minta aku cerita tentang ‘rumah yang harmoni’. Aku berdiri di depan kelas, bicara tentang kasih sayang dan kejujuran, tapi rasanya lidahku kelu. Bagaimana aku bisa mengajar tentang harmoni, kalau aku sendiri tidak memilikinya?” bisiknya, suaranya tercekat.
Sebagai guru SD yang idealis, Sari adalah pilar moral bagi murid-muridnya. Namun di rumahnya sendiri, ia adalah saksi bisu dari korupsi suaminya yang perlahan menggerogoti nuraninya. Bayi mereka yang berusia dua tahun sering sakit-sakitan, demam yang datang tiba-tiba tanpa sebab medis yang jelas. Sari yakin, bayinya sedang menyerap stres yang ia pancarkan, sebuah manifestasi fisik dari rumah tangga yang sedang retak. Ia merasa bersalah kepada bayinya, tetapi ia merasa tak kuasa menepis perasaan stres itu.
Rina masuk ke dapur dengan blueprint yang digulung rapi, langkahnya penuh energi yang kontras dengan kelelahan Sari. “Mbak Sari! Besok kontraktor datang. Tolong dukung aku ya soal homestay ini. Kalau ini jalan, kita semua punya pegangan.”
Sari melepaskan pelukannya dari Ibu dan tersenyum paksa. “Bagus, Rin. Uangnya bisa buat tabungan kuliah anakku nanti. Tapi hati-hati... rumah ini punya caranya sendiri untuk menyimpan cerita pilu. Jangan sampai betonmu justru mengunci rahasia yang seharusnya dilepaskan.”
Mas Budi tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur, matanya tampak gelisah, tangannya bergetar kecil saat ia mencoba menyulut rokok. “Dek Sari, pinjam lima ratus ribu dong. Buat... buat modal usaha kecil-kecilan. Janji, kali ini pasti balik.”
Sari mendesah panjang, matanya menatap tajam ke arah kakaknya. “Mas, jangan bohong. Kamu curi uang jatah renovasi atap dari tabunganku kemarin, kan? Saldoku kosong tadi pas mau tarik tunai.”
Budi menunduk, menghindari tatapan Sari. “Maaf, Dek. Kemarin itu cuma ‘salah baca’ pola. Kali ini pasti menang, eh, maksudku pasti berhasil usahanya.”