OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #7

Bab 6: Selamatan Pertama

Hawa dingin yang merayap lewat celah-celah tipis dinding kayu jati membuat Ibu Siti refleks merapatkan kerudung putihnya yang bagian pinggirmya mulai menguning. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun pasti, ia menyalakan dupa di altar kecil yang terletak di sudut ruang tengah. Asap cendana mulai meliuk-liuk, menari di antara pilar-pilar rumah reyot, bertarung dengan aroma gurih sisa gudeg pagi dan bau lembap tanah yang dipicu oleh hujan yang mulai menderas di luar. Aroma wanginya perlahan menenangkan dirinya, dan memang itu yang harapkan agar pikiran dan batinnya cepat fokus menyatu dengan doanya.

Selamatan ini adalah selamatan pertama sejak kepulangan Rina. Bagi Siti, ini bukan sekadar jamuan makan, melainkan sebuah kontrak spiritual dalam tradisi ritual Jawa untuk memohon restu bagi rencana renovasi, sekaligus sebuah “pagar” gaib untuk melindungi keluarganya dari hasad atau kutukan iri hati yang sudah lama mengintai garis keturunan mereka. Ia percaya bahwa restu penguasa semesta tidak akan ia dapatkan jika dirinya sendiri tidak mau bersahabat dengan semesta termasuk dengan manusia.

“Ya Allah, jaga rumah kita dari nafsu dunia yang membutakan mata batin,” doanya mengalir dalam bisikan lirih, diselingi bunyi butiran tasbih yang beradu. Ia teringat nasihat para sesepuh: “Alon-alon asal kelakon.” Bukan berarti lamban dalam bekerja, melainkan kesadaran untuk bertindak dengan ketelitian nurani, memastikan setiap langkah tidak menginjak hak-hak yang tak terlihat.

 

Harmoni di Ambang Komersialisasi

Satu per satu tetangga mulai berdatangan, menembus tirai hujan dengan payung daun pisang atau mantel plastik sepuluh ribuan. Bu RT datang membawa tumpeng mungil dengan hiasan cabai merah yang meliuk, Pak Lurah menyumbangkan beberapa potong ayam goreng sebagai tanda hormat pada keluarga mendiang Mas Hadi, dan anak-anak kampung dengan riang membantu membentangkan tikar pandan yang aromanya khas.

Inilah potret gotong royong ala Yogyakarta pinggiran. Sebuah harmoni komunal yang selama puluhan tahun dijaga Siti sekuat tenaga, meski fondasi rumahnya sendiri mulai goyah.

Rina membantu mengatur letak piring, meskipun pikirannya tetap terpaku pada draf blueprint homestay di laptopnya. Bagi Rina, kerumunan tetangga ini adalah aset visual yang luar biasa. “Bu, selamatan seperti ini bagus sekali kalau dimasukkan dalam paket promo wisata. Turis-turis Eropa sangat menyukai budaya autentik yang masih ‘hidup’ seperti ini,” bisiknya pada Ibu Siti, matanya berbinar melihat potensi komersial di balik ritual suci.

Mas Budi berdiri di sudut ruangan dengan senyum lebar yang tidak sampai ke mata. Ia menyalami para tamu dengan keramahan yang berlebihan, seolah-olah ia sedang menyambut investor masa depan. Sari datang menggendong anaknya, wajahnya tampak sedikit lebih cerah; curhat semalam setidaknya telah membuang sedikit racun dari pikirannya. Sementara itu, Andi bergerak lincah di antara kerumunan, ponselnya terus merekam setiap sudut ruangan, setiap asap dupa, dan setiap gerak-gerik ibunya untuk diunggah ke TikTok.

 

Kidung Spiritual dan Bisikan Masa Lalu

Acara inti dimulai. Ibu Siti memimpin doa. Suaranya yang merdu melantunkan ayat-ayat suci, bertransformasi menjadi semacam qasidah spiritual yang menggetarkan udara. Di tengah lantunan doa, ia menyelipkan permohonan untuk semesta.

“Leluhur, ampuni kami. Mas Hadi yang hilang di tahun ‘98, semoga ruhmu menyaksikan niat kami hari ini. Jika pusaka itu kembali, jauhkanlah iri hati yang dulu pernah merusak persaudaraan kami.”

Lihat selengkapnya