OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #8

Bab 7: Protes Kampung

Matahari Yogyakarta merambat naik dengan keangkuhan yang menyengat, membakar sisa-sisa embun di bantaran Code. Namun, hawa panas yang menyelimuti halaman rumah keluarga Siti pagi itu bukan berasal dari langit. Truk kontraktor Pak Joko baru saja berhenti, mengeluarkan desis rem angin yang terdengar seperti peringatan, tepat di depan segerombolan warga yang telah memasang barikade manusia.

Rina berdiri di teras, blueprint tergulung di tangannya seperti tongkat komando yang gemetar. Di depannya, spanduk dari kain kafan bekas bertuliskan cat semprot merah membentang: “Tolak Homestay! Jaga Harmoni Kampung!”

Bu RT berdiri di garis depan, menggenggam megafon murahan yang sesekali mengeluarkan bunyi denging statis yang menyakitkan telinga. “Kami tidak butuh wisatawan berisik! Kami tidak butuh sampah plastik dari kota berserakan di sini! Kampung kita bukan pasar, Mbak Rina! Rumah Bu Siti itu warisan, sebuah amanah, bukan mesin pencetak duit!”

Suara Bu RT bergetar oleh campuran antara kecemasan tulus dan ego otoritas yang terusik. Bagi warga, rencana Rina bukan sekadar renovasi bangunan, melainkan upaya merobek selaput tipis yang selama ini melindungi mereka dari dunia luar yang rakus. Mereka takut “Omah Code” akan menjadi mercusuar kemewahan yang justru memperjelas kegelapan kemiskinan di sekitarnya.

 

Retorika Jakarta di Tanah Mataram

Rina melangkah maju, memasang senyum profesional yang sudah ia asah dalam belasan presentasi di gedung-gedung tinggi Jakarta. Ia mencoba memposisikan diri sebagai juru selamat.

“Bu RT, Pak Lurah, dan saudara-saudaraku semua, tolong dengarkan dulu,” suara Rina tenang, terukur, dan penuh manipulasi nada yang sopan. “Homestay ini justru akan membawa rezeki bagi kita semua. Anak-anak muda kampung ini tidak perlu lagi merantau jauh. Mereka bisa bekerja di sini sebagai pemandu, staf, atau penyedia jasa. Uang kas bagi RT pun akan bertambah. Dan yang paling penting, gotong royong tidak akan hilang. Selamatan selapan (35 hari) sekali akan tetap kita adakan dan terbuka untuk siapa saja. Ini adalah cara kita melestarikan budaya dengan cara yang mandiri.”

Pak Joko, kontraktor berbadan gempal dengan keringat yang mengucur di lehernya, ikut mengangguk dengan semangat yang dipaksakan. “Benar, Bapak-Ibu. Kami menggunakan material lokal. Desainnya Jawa modern, bukan gaya Barat. Tidak ada gentrifikasi yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya ingin mempercantik apa yang sudah ada.”

Namun, retorika kemajuan itu justru memicu ledakan baru. “Prett! Paling nanti turis-turis itu mabuk-mabukan di rooftop! Pakai baju minim, merusak adat istiadat kita yang santun!” teriak seorang ibu dari kerumunan, suaranya melengking penuh prasangka.

Andi, yang berdiri bersandar pada pagar berkarat, tidak melepaskan ponselnya dari kerumunan. Ia merekam segala cacian dan ketegangan itu dengan senyum licik. Baginya, ini adalah bahan bakar untuk konten viral. Protes ini bukan lagi tentang rumah, melainkan tentang engagement dan jumlah views.

Mas Budi mencoba masuk ke tengah kerumunan, mencoba melakukan mediasi dengan gayanya yang sok tahu. “Tenang, tenang... nanti ada sistem bagi hasil untuk lingkungan!” serunya. Namun suaranya lemah, tak berwibawa. Pikirannya masih melayang pada angka-angka di situs judi online yang sedang menunggu taruhannya. Sementara itu, Sari berdiri di ambang pintu memeluk anaknya, memilih diam. Ia merasa memahami sesuatu yang tidak dipahami Rina. Protes ini adalah manifestasi dari iri sosial yang mendalam. Tetangga-tetangga ini telah lama hidup berdampingan dalam kemelaratan yang setara, dan ketika satu rumah mencoba untuk “terbang”, mereka merasa harus menariknya kembali ke tanah agar rasa setara itu tetap terjaga.

Lihat selengkapnya