Budi meringkuk di sudut kamar belakang yang pengap, sebuah ruangan yang lebih mirip sel isolasi daripada tempat istirahat. Cahaya pudar dari layar ponsel pintar menyinari wajahnya yang pucat, mempertegas lingkaran hitam di bawah matanya yang cekung. Di layar itu, aplikasi judi online berkedip-kedip dengan warna-warni neon yang menggoda, seumpama karnaval digital yang menjanjikan keselamatan di tengah reruntuhan hidupnya.
“Modal lima ratus ribu, menang besar malam ini!” bisik sebuah pop-up yang muncul dengan suara denting koin yang nyaring.
Jari Budi gemetar saat menekan tombol spin pada mesin slot virtual. Setiap putaran adalah detak jantung yang tertunda. Dulu, ia adalah kebanggaan keluarga. Ia seorang insinyur IT di Jakarta dengan gaji belasan juta dan masa depan yang secerah lampu-lampu di Sudirman. Namun, dua tahun lalu, dan hanya dalam dua tahun saja, sebuah kekalahan besar di meja judi yang bermula dari sekadar iseng meruntuhkan segalanya. Utang yang menggunung, pemecatan yang memalukan, dan akhirnya kepulangan yang penuh kekalahan ke rumah lama yang reyot di Yogyakarta. Kini, ia terjebak di rumah ini dengan dalih merawat Ibu, namun ia merasa rumah ini telah menjadi penjara bagi jiwanya, dan judi adalah satu-satunya pintu pelarian yang ia kenal.
Delusi dan Racun yang Manis
Uang renovasi yang ia curi dari dompet Sari pagi tadi, lembaran-lembaran rupiah yang seharusnya menjadi harapan bagi keponakannya, habis tak bersisa dalam waktu kurang dari satu jam. Angka di layar ponselnya kini menunjukkan nol besar.
“Sialan!” Budi membanting ponselnya ke atas kasur tipis yang berbau apek. Namun, tak sampai satu menit, ia menyambarnya kembali dengan gerakan refleks yang rakus. Notifikasi baru masuk, sebuah tawaran dari aplikasi pinjaman online ilegal dengan bunga yang mencekik leher.
“Cepat kaya, lunasi besok dari keuntungan homestay,” gumam Budi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Delusi itu terasa sangat manis di lidahnya, seperti rasa gudeg yang terlalu banyak gula namun menyembunyikan rasa busuk di dalamnya. Ia merasa seolah-olah sedang mengendalikan takdir, padahal ia hanyalah seekor tikus yang sedang berlari di dalam roda yang diputar oleh algoritma canggih dan pengawas jahat. Baginya, renovasi rumah yang direncanakan Rina adalah sebuah mesin ATM raksasa yang siap mencairkan dana kapan saja ia membutuhkannya.
Zikir di Tengah Gelapnya Nafsu
Ketukan pelan di pintu kamar mengejutkannya. “Mas, subuh sudah lewat. Ayo wirid sebentar,” suara Ibu Siti terdengar dari balik pintu yang sudah tampak lusuh dan usang.
Budi dengan sigap menyembunyikan ponselnya di bawah bantal, seolah-olah menyembunyikan dosa yang paling mengerikan. Ia melangkah keluar dengan wajah lesu, bergabung dengan Ibu di ruang tengah yang masih remang-remang. Di sana, Ibu duduk bersila, mengajari zikir tasawuf yang selama ini menjadi kekuatannya.
“La ilaha illallah...”
Suara Ibu mengalir tenang, ritmis, dan penuh kedalaman yang membuat dinding-dinding rumah seolah ikut bergetar. “Ayahmu dulu pernah bilang, Mas... judi itu setan yang dibungkus gula. Ia menawarkan kemudahan, tapi tujuannya adalah mematikan hati. Lawanlah dengan sabar. Ego dan nafsumu harus mati terlebih dahulu agar kau bisa melihat jalan yang benar.”