Andi selonjoran di atas tikar pandan yang anyamannya mulai terlepas di ruang tengah, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dentum K-pop yang meledak keras lewat earphone. Irama sintetik itu adalah dinding kedap suara yang ia bangun untuk memisahkan dirinya dari realitas rumah yang ia benci. Di layar ponselnya, draf video TikTok terbaru sedang diputar ulang: ia melakukan gerakan dansa ala idol di depan pilar jati yang kusam, dengan caption provokatif: “Escape Yogya #GenZRebel #OmahBoring”.
Bagi Andi, yang baru menginjak usia tujuh belas tahun, pikirannya makin mantap menilai bahwa rumah ini adalah perwujudan dari segala hal yang menghambat kemajuan. Genteng yang bocor setiap kali langit Yogyakarta bergejolak, aroma dupa Ibu yang menyesakkan dada setiap subuh, dan rentetan nilai-nilai Jawa “kuno” yang dijejalkan di sekolah maupun di meja makan—semuanya terasa seperti rantai karatan.
“Gue mau Jakarta, spotlight, panggung besar. Bukan gotong royong basi yang cuma bikin capek jiwa raga,” gumamnya sambil terus menggulir layar marketplace.
Namun, ada satu hal yang membuatnya tetap terjaga semalam. Keris pusaka yang ia foto secara sembunyi-sembunyi kemarin ternyata menarik perhatian besar. Seorang penawar misterius dengan akun tanpa foto profil mengirimkan pesan langsung (DM): “Kirim besok. Lokasi COD ditentukan malam ini. Bayar cash, tiga kali lipat dari harga pasar.” Bagi Andi, keris itu bukan lagi identitas leluhur; itu adalah tiket pesawat one-way menuju kebebasan.
Konten di Atas Luka Lama
Protes tetangga kemarin, yang ia rekam dengan sudut pandang “warga kolot vs modernitas”, telah menembus angka lima puluh ribu penonton. Kolom komentarnya menjadi medan perang antara mereka yang membela hak warga dan mereka yang mendukung renovasi Rina. Andi tersenyum tipis; baginya, drama keluarga adalah komoditas.
“Keren, konten drama keluarga selalu laku,” batinnya.
Namun, kepuasan itu terganggu saat ia melihat Budi lewat dengan langkah gontai. Bentrokan mereka soal keris kemarin masih meninggalkan sisa ketegangan. Di mata Andi, Budi adalah prototipe kegagalan, penerus Ayah yang terjebak dalam labirin judi online dan pengangguran kronis.
“Generasi lo itu egois, Mas. Kalian cuma jago ngerusak,” cetuk Andi tanpa melepas earphone-nya. “Gue jual pusaka itu juga buat masa depan gue. Daripada lo pake buat spin slot, mending gue pake buat kursus dance di Jakarta.”
Budi hanya meliriknya dengan mata merah, entah bosan atau sedang tidak memiliki energi untuk membalas. Kegagalan Budi adalah cermin masa depan yang paling ditakuti Andi, dan itulah sebabnya ia merasa harus menjual “sejarah” sebelum sejarah itu menelannya bulat-bulat.
Labirin Nasihat dan Realitas
Rina masuk ke ruang tengah dengan rambut yang sedikit lepek terkena sisa gerimis. Gulungan blueprint di tangannya nampak sedikit basah. “Andi, bantu Mbak promo homestay ini di TikTok kamu, dong. Kamu kan punya banyak followers. Influencer gratis buat kakak sendiri, masa nggak mau?”
Andi mengangkat sebelah alisnya, matanya tetap terpaku pada layar ponsel. “Asal duit komisinya masuk kantong gue, oke-oke aja. Di dunia ini nggak ada yang gratis, Mbak. Bahkan doa Ibu pun butuh sesajen bunga, kan?”
Sari, yang sedang menyuapi anaknya di sudut ruangan, ikut nimbrung dengan nada yang lebih berat. “Jangan kayak Mbak, Dek. Mbak sekolah tinggi-tinggi, tapi akhirnya sadar kalau tradisi Jawa itu yang menguatkan hati saat dunia luar mencoba menghancurkan kita. HP itu cuma alat, jangan sampai dia yang menguasai kamu.”