OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #11

Bab 10: Rahasia Ayah, Muara Luka Sembilan Delapan

Ibu Siti duduk simpuh di atas tikar pandan yang seratnya mulai mencuat, seolah ingin menusuk sisa kesabarannya. Di luar, langit bantaran Code sepertinya belum ingin berhenti tumpah. Hujan deras menghujam atap seng dengan irama yang brutal, menciptakan simfoni kekacauan yang sinkron dengan kegaduhan di dalam dadanya. Suara aliran sungai yang membengkak terdengar seperti geraman raksasa lapar, sebuah pengingat bahwa banjir musiman bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kepastian yang sedang merangkak menuju ambang pintu.

Tasbih di jemarinya berputar pelan, setiap butiran kayu kokka itu terasa seperti beban sejarah yang ia pilah satu per satu. Andi baru saja meledakkan bom waktu dengan tuduhannya soal keris dan sosok “Tante bermata Paman” yang iri. “Mungkinkah sebuah fragmen masa lalu yang selama ini kusimpan di balik lipatan mukena dan doa-doa sunyi akan muncul kembali?”

“Ya Allah, beri kekuatan sabar yang tak bertepi,” wiridnya mengalir, sebuah mantra untuk meredam gemuruh di kepalanya. Ia teringat bait dari seorang ulama besar yang sering ia renungkan saat fajar: “Luka adalah tempat di mana cahaya memasuki dirimu.” Namun, bagi Siti, luka ‘98 adalah lubang hitam yang lebih banyak mengisap cahaya daripada memancarkannya.

 

Bayang-Bayang 1998

Pikiran Siti terlempar kembali ke Mei ‘98. Yogyakarta saat itu seumpama kuali yang mendidih. Asap ban terbakar dan teriakan mahasiswa di Gejayan menembus hingga ke gang-gang sempit Code. Malam itu, Mas Hadi pulang dengan napas memburu. Bajunya koyak, wajahnya kusam oleh debu dan keringat ketegangan. Di pinggangnya, terselip sebilah keris pusaka yang dibungkus kain mori, benda yang selama ini dianggap sebagai “nyawa” dari rumah mereka.

“Siti, jaga keris ini. Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah,” bisik Hadi malam itu, suaranya parau. “Wahyu... adikku sendiri, dia sudah dibutakan oleh iri sejak kecil. Dia pikir keris ini adalah kunci kekuasaan, padahal ini adalah amanah untuk menjaga harmoni. Ada kutukan lama yang mengatakan: jika pemiliknya egois, ia akan hilang ditelan bayangannya sendiri.”

Malam itu adalah kali terakhir Siti melihat suaminya. Apakah Hadi benar-benar ditangkap karena aktivitas oposisinya? Ataukah ia memilih “menghilang” untuk menyelamatkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar nyawanya? Di balik lemari, Siti menemukan sepucuk surat pendek yang ditulis terburu-buru, “Aku menjadi korban kekerasan politik yang kotor, Siti. Tapi ingat, rahasia keris ini jangan pernah kau bongkar sampai anak-anak kita mampu membunuh ego mereka masing-masing.”

Selama hampir tiga dekade, Siti hidup dengan misteri itu. Ia membesarkan anak-anaknya di atas tanah yang menyimpan rahasia berdarah, membiarkan rumah mereka tetap reyot sebagai bentuk “puasa” atas kemewahan yang dulu sempat ditawarkan oleh Wahyu jika mereka bersedia menyerahkan pusaka tersebut.

 

Konfrontasi di Bawah Temaram Lampu

Keluarga itu berkumpul di ruang tengah saat hujan mereda menjadi gerimis tipis yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memberikan kesan dramatis pada wajah-wajah yang penuh curiga.

Rina maju pertama, gulungan blueprint proyeknya ia letakkan di lantai seolah-olah itu adalah senjata yang tumpul. “Bu, tolong jujur. Andi bilang Ayah dibunuh bukan karena politik, tapi karena keris ini. Apa benar ada perebutan harta di keluarga kita?”

Budi menimpali dengan suara serak, matanya liar mencari celah. “Atau Ibu sebenarnya tahu di mana keberadaan Ayah selama ini? Apa Ibu menyembunyikan uang pusaka itu untuk diri sendiri sementara aku harus bergelut dengan utang?”

Lihat selengkapnya