Air Sungai Code tidak lagi sekadar mengalir; ia merayap, menjilat, dan akhirnya mengklaim. Lumpur cokelat pekat yang membawa aroma busuk sampah kota dan rahasia tanah pegunungan telah menggenangi halaman rumah hingga setinggi betis. Rina berdiri di teras, mematung dengan gulungan blueprint yang ia dekap erat di dada. Anehnya, meskipun hujan menghujam tanpa ampun, kertas kalkir itu tetap kering, seolah-olah ambisinya memiliki medan magnet sendiri yang menolak realitas alam.
Malam tadi adalah malam penyingkapan yang brutal. Rahasia tentang Ayah yang menjadi korban pengkhianatan Paklik Wahyu masih menggantung di udara seperti jelaga yang tak mau hilang. Identitas Rina sebagai arsitek modern yang logis sedang berbenturan dengan kenyataan bahwa ia adalah pewaris dari sebuah tragedi yang dikemas dalam bentuk keris pusaka.
“Rumah ini harus menyelamatkan dirinya sendiri dulu sebelum ia bisa menyelamatkan kita,” gumam Rina. Namun, suaranya tenggelam oleh deru mesin pikap yang membelah genangan air di depan pagar.
Pak Joko muncul bersama timnya. Mereka turun dengan sepatu boots anti-air setinggi paha, membawa peralatan survei yang nampak kontras dengan suasana kampung yang sedang berduka karena banjir. Wajah Pak Joko tidak secerah biasanya, ada gurat kecemasan yang bukan berasal dari rasa takut akan air.
“Mbak Rina, ini survei darurat! Saya sudah bilang, cuaca tidak mendukung,” ujar Pak Joko sambil memeriksa dinding yang mulai retak. “Fondasi rumah ini sebenarnya kuat, kayu-kayunya jati tua yang solid. Tapi banjir ini... ini simbol, Mbak. Alam sedang memberi tanda. Jangan paksa homestay ini dibangun di atas tanah yang sedang marah.”
Rina mendengus, mencoba mempertahankan topeng profesionalitasnya. “Justru kita mulai hari ini, Pak. Di Jakarta, turis-turis bosan dengan hotel yang steril. Mereka suka cerita banjir yang autentik, mereka suka melihat bagaimana masyarakat bertahan di pinggir sungai. Ini adalah selling point!”
Namun, di balik retorika itu, hati Rina sedang goyah. Jika Ayah bukan pahlawan politik yang bersih seperti yang selama ini ia yakini dan jika keris itu memang membawa kutukan karena ego, apakah rumah ini layak dijual kepada orang asing? Apakah ia sedang membangun sebuah tempat peristirahatan atau sedang membangun sebuah monumen keserakahan baru?
Galian yang Menyingkap Dosa
Tim survei mulai bergerak cepat di bawah guyuran hujan. Lumpur terciprat ke mana-mana saat mereka menancapkan alat ukur tanah. Budi, dengan wajah yang masih pucat karena sisa euforia kekalahan judi semalam, menawarkan diri membantu mengangkat peralatan. Ia bergerak dengan semangat yang mencurigakan, berharap mendapatkan upah harian yang bisa ia putar kembali di layar ponselnya.
“Pak, cepat ya ukurnya. Biar pondasinya segera dicor agar saya tidak nganggur lagi,” seru Budi. Lalu bergumam yang hanya ia sendiri mendengarnya, “Dan bisa mulai mengelola operasionalnya,” Ia berbicara seolah-olah homestay itu sudah berdiri tegak, sebuah delusi yang ia bangun untuk menutupi rasa malunya.
Di sisi lain, Sari sedang sibuk mengevakuasi anaknya ke lantai dua, sementara Andi terus merekam segala kekacauan ini. “Gila, viewers gue naik lagi! Banjir Challenge di rumah keris kutukan!” teriak Andi dari kejauhan.
Ibu Siti hanya berdiri di teras, tangannya tak henti memutar tasbih. “ Sabar, Nak. Banjir ini bukan hanya menguji kekuatan tembok, tapi menguji kejujuran hati kita semua,” bisiknya. Suara Ibu terdengar seperti doa yang mencoba menjinakkan arus sungai.