Sari mengangkat bayinya dengan gerakan yang lebih menyerupai sebuah upaya penyelamatan diri daripada sekadar memindahkan tidur. Di loteng kayu yang sempit dan berdebu itu, ia bisa mendengar suara air yang merayap di lantai bawah dengan suara serak yang lapar, mencucup ubin, menelan furnitur, dan menghapus jejak kaki mereka satu per satu. Yogyakarta malam ini tidak sedang menangis; ia sedang tenggelam. Lumpur banjir yang masuk membawa aroma busuk sungai—campuran antara limbah rumah tangga, bangkai, dan sejarah yang membusuk—yang kini merayap naik menembus celah-celah papan lantai loteng.
Ponselnya mati kehabisan daya, namun layar hitam itu seolah masih memproyeksikan pesan terakhir suaminya yang ia baca sebelum listrik padam: “Pulang besok, rapat selesai. Ada bonus buat kamu.”
Sari tahu persis dari mana “bonus” itu berasal. Rapat di hotel mewah itu hanyalah panggung sandiwara untuk membagi-bagi sisa dana bantuan operasional sekolah yang dikerat secara halus. Sebagai seorang guru SD yang setiap hari berhadapan dengan anak-anak bermata jernih, Sari merasa setiap rupiah yang dibawa suaminya adalah jelaga yang mengotori susu anaknya. Bayinya kembali terbatuk, sebuah batuk kering yang kronis. Dokter bilang itu alergi, tapi Sari tahu itu adalah manifestasi fisik dari stres yang ia simpan di dalam rahim, yang kini diwariskan lewat pelukan.
“Rumah tangga harmoni?” gumam Sari sinis, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi hujan yang menghantam genteng tepat di atas kepalanya. Ia menyelimuti bayi itu dengan kain jarik lama milik Ibu, sebuah kain yang baunya selalu mengingatkannya pada masa kecil yang jujur, meski miskin.
Perjamuan di Atas Puing Kepercayaan
Di loteng yang kini menjadi satu-satunya wilayah kering, keluarga itu berkumpul seperti pengungsi di negeri mereka sendiri. Cahaya senter yang diletakkan berdiri di atas lantai menciptakan bayangan raksasa yang menari-nari di dinding, memperbesar ketegangan yang ada.
Rina duduk di sudut, jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk kalkulator meskipun ia tahu angka-angka kerugian proyek homestay-nya sudah melampaui batas kewarasan. Budi duduk di dekat tangga, diam membatu, wajahnya yang biasanya penuh tipu daya kini kosong, seolah seluruh egonya telah hanyut dibawa arus air di bawah sana. Andi sibuk dengan ponsel cadangan yang baterainya tinggal lima belas persen, mencari sinyal di antara celah genteng untuk terus memperbarui konten “bencana”-nya. Sementara Ibu Siti, di tengah segala kekacauan, masih duduk bersila, bibirnya bergerak tanpa suara, memutar tasbih yang talinya sudah mulai rapuh.
“Bu, aku sudah nggak tahan,” curhat Sari tiba-tiba. Suaranya memecah keheningan yang menyesakkan. “Aku melihat suami yang setiap hari bicara moral di mimbar dinas, tapi tangannya berlumuran uang haram. Aku guru, Bu. Aku mengajar anak-anak untuk tidak mencuri, sementara aku makan dari piring yang dibeli dengan hasil curian. Mau cerai, tapi aku takut merusak konsep ‘harmoni’ yang selama ini Ibu ajarkan. Apakah aku harus tetap menjadi martir dalam rumah tangga yang retak ini?”
Ibu Siti menghentikan gerakan tasbihnya. Ia meraih tangan Sari, kulitnya terasa dingin tapi genggamannya masih memiliki kekuatan yang tersisa. “Sari, rumah tangga itu ibarat rumah kita ini. Ia reyot, ia bocor, bahkan malam ini ia tenggelam. Tapi fondasinya bukan hanya kayu jati, melainkan iman dan penerimaan. Sabar itu bukan berarti membiarkan dirimu hancur, Nak. Ingat apa yang dikatakan seorang ulama besar bahwa ‘Cinta menyembuhkan retak, tapi kadang cinta juga yang harus mematahkan tulang yang salah tumbuh agar bisa lurus kembali.’ Tinggalkanlah jika itu memang racun bagi jiwamu, tapi pastikan doamu lebih besar daripada amarahmu.”
Makna ucapan Ibu terasa multitafsir di telinga Sari. Apakah Ibu memberinya izin untuk pergi, ataukah Ibu sedang memintanya untuk melakukan “operasi jiwa” yang menyakitkan pada suaminya? Fondasi yang dimaksud Ibu apakah itu kesetiaan pada manusia, atau kesetiaan pada prinsip kebenaran?
Nafsu dan Simbolisme Banjir
Sari merenungkan dilema etisnya. Ia melihat Rina, yang dulu melarikan diri ke Jakarta untuk membangun identitas baru, tetapi kini terpaksa kembali dan terjebak dalam lumpur yang sama. Apakah ia harus kabur seperti Rina? Ia teringat renovasi kecil yang ia bantu lakukan beberapa hari lalu dengan mengecat dinding ruang depan agar tampak lebih segar untuk calon tamu. Cat itu kini pasti sudah rusak, lepuh oleh air banjir. Baginya, banjir ini serupa simbol yang terlalu nyata. Rumah tangganya selama ini hanyalah dinding yang dilapisi cat indah untuk menutupi retakan struktural yang mematikan. Banjir nafsu suaminya kini telah melampaui ambang pintu.