Ruang loteng itu kini terasa seperti sebuah sekoci yang terlalu kecil untuk lima jiwa yang sarat dengan kebencian. Di luar, suara air Sungai Code bukan lagi sekadar gemericik, melainkan deru mesin raksasa yang lapar, menekan fondasi rumah dengan tekanan yang membuat kayu-kayu jati tua itu benar-benar mengkhawatirkan. Bau lumpur banjir yang amis dan pekat mulai menyusup ke sela-sela lantai loteng, membawa serta sisa-sisa eksistensi mereka yang hanyut di bawah sana: foto keluarga yang basah, ijazah yang hancur, dan harapan yang kini menjadi sampah organik.
Andi meringkuk di sudut paling gelap, memeluk lututnya erat-erat. Ponsel cadangan di tangannya berkedip merah, sementara draf video TikTok-nya yang bertajuk “Keluarga Ketar-Ketir di Tengah Banjir” gagal terunggah karena sinyal yang terputus. Baginya, kegagalan unggah itu terasa lebih menyakitkan daripada fakta bahwa rumahnya mungkin akan roboh malam ini. Ponsel itu adalah satu-satunya jendela menuju dunia di mana ia merasa berharga, sementara di dalam ruangan ini, ia hanyalah seorang remaja yang dianggap tidak tahu apa-apa.
“Ini gara-gara ego semua orang!” ketus keras Andi tiba-tiba. Suaranya pecah, sebuah campuran antara amarah pubertas dan ketakutan eksistensial yang murni. “Semua orang di sini cuma mikirin diri sendiri! Mbak Rina mau jual identitas rumah ini jadi homestay cuma biar bisa punya duit buat foya-foya di Jakarta! Mas Budi rakus judi karena nggak mau capek kerja tapi pengen jadi bos! Mbak Sari... bertahan sama suami korup itu karena takut miskin, kan? Dan Ibu... Ibu sembunyikan rahasia Ayah selama puluhan tahun cuma buat jaga image keluarga yang sebenarnya udah busuk!”
Andi berdiri, meskipun loteng yang rendah memaksanya untuk sedikit membungkuk. “Gue tolak semua nilai Jawa kuno kalian! Kesabaran, nrimo, harmoni... itu semua cuma omong kosong buat nutupin kepengecutan! Gue mau minggat dari sini, gue harus pergi!”
Perang Kata di Atas Bah
Rina, yang wajahnya tampak tirus dengan lingkaran hitam di bawah mata, membalas dengan nada yang serasa luka dibasuh dengan garam. “Egois kamu, Dek! Kamu pikir aku bangun homestay ini buat siapa? Buat kalian! Buat renovasi genteng yang hampir jatuh ke kepalamu, buat bayar utang-utang Mas Budi yang nggilani itu! Aku kerja keras di Jakarta, dapet maki-maki bos, cuma buat menyelamatkan rumah ini agar kita nggak jadi gelandangan!”
Budi menyela dengan tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. “Menyelamatkan rumah atau menyelamatkan gengsimu sebagai arsitek sukses, Rin? Kamu nggak pernah tahu susahnya jadi laki-laki di rumah ini setelah Ayah hilang. Aku ini penerus yang gagal karena setiap kali aku melangkah, bayangan ‘kesempurnaan’ Ayah selalu menjegal. Judi itu satu-satunya tempatku ngerasa punya kendali, meskipun harus kalah!”
Sari, yang masih menggenggam foto misterius suaminya dan Ayah, menatap mereka semua dengan pandangan kosong. “Kita semua tersesat,” bisiknya. “Andi benar, kita semua punya rahasia yang kita peluk lebih erat daripada kita memeluk satu sama lain. Suamiku, Ayah kita... mereka semua bagian dari jaring-jaring yang sama. Kita semua sedang tenggelam bukan sekadar karena air sungai, tapi lebih karena beratnya dosa yang kita bawa ke atas loteng ini.”
Di lantai bawah, banjir kini telah setinggi pinggang. Lumpur cair makin mengental serupa ego yang selama ini mereka tumpuk di dalam hati kini telah meluap yang mungkin sebentar lagi melampaui kapasitas jiwa mereka, dan menuntut untuk diakui.
Suara Nurani: Kematian Ego
Di tengah hiruk-pikuk pertengkaran itu, Ibu Siti mengangkat tangan kanannya. Gestur itu sederhana, tetapi wibawanya membuat udara di loteng seolah membeku. Suaranya muncul, tenang sekaligus tegas, membawa frekuensi yang berbeda dari amarah anak-anaknya.
“Cukup! Hentikan semua ini!” Suara Ibu Siti bergaung di ruang sempit itu. “Kalian bicara tentang rumah, tentang duit, tentang masa depan... tapi tidak ada yang bicara tentang hati. Ego kalian harus mati malam ini juga, agar rumah hati kalian bisa bangkit. Rumah ini bisa hancur, harta bisa hanyut, tapi kalau jiwa kalian ikut hanyut, tamatlah sejarah kalian. Tamatlah kita.”