OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #15

Bab 14: Membasuh Lumpur, Menanam Rahasia

Matahari bangkit di atas cakrawala bantaran Code dengan cahaya yang tampak terlalu bersih, seolah-olah ingin membasuh dosa-dosa yang tumpah ke bumi semalam. Di halaman rumah keluarga Siti, air Sungai Code telah mundur kembali ke pelukannya yang dalam. Namun, ia meninggalkan kado perpisahan yang pahit. Lumpur amis setebal betis beraroma amis sejarah dan pembusukan melingkupi mereka.

Ibu Siti berdiri di tengah halaman yang kini lebih menyerupai rawa cokelat. Di tangan kanannya, ia menggenggam keris pusaka seperti seorang nabi memegang tongkatnya. Bilah itu, meski tak terhunus, seolah-olah menguarkan pamor yang menenangkan udara di sekitarnya. Perabotan rumah tangga, kursi jengki peninggalan Ayah, meja makan yang kakinya pincang, hingga tumpukan buku sekolah Andi tergeletak berantakan. Sebagian masih terapung di genangan sisa di sudut-sudut ruangan yang kini terbuka karena dinding yang runtuh.

Namun, pemandangan pagi ini berbeda. Kegelapan semalam tampaknya telah meluluhkan kerak-kerak kebencian. Satu per satu, tetangga kampung datang menembus pagar yang miring. Bu RT, yang kemarin memimpin demonstrasi dengan megafon penuh amarah, kini datang membawa ember-ember plastik dan sapu lidi. Pak Lurah muncul dengan kaus oblong putih, membawa beberapa karung pasir dan semen di bak mobil pikapnya.

“Kami salah sudah protes soal homestay kemarin, Bu Siti,” ujar Bu RT sambil menyeka keringat yang mulai membasahi dahinya. Suaranya tidak lagi melengking. Ada nada penyesalan yang mungkin tulus, atau mungkin sekadar rasa takut kolektif setelah melihat amukan alam semalam. “Rumah Bu Siti ini milik kampung. Kalau rumah ini ambruk, sejarah Code juga ikut hanyut. Mari kita selamatkan bareng-bareng!”

Kalimat “Rumah ini milik kampung” terdengar seperti bentuk solidaritas yang luhur, tetapi di telinga Rina, itu juga terdengar seperti klaim kepemilikan yang halus bahwa rumah ini tidak akan pernah benar-benar bebas dari campur tangan warga, meski nantinya berubah menjadi bisnis modern.

 

Arsitektur Pemulihan dan Penebusan

Ibu Siti tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung kedalaman hikmah spiritual yang sulit diukur. “ Alon-alon waton kelakon, Bu RT. Terima kasih. Maafkan kami juga yang kemarin mungkin terlalu menutup diri. Di dalam lumpur ini, kita semua sama-sama basah.”

Rina segera mengambil alih kendali. Insting arsiteknya bangkit dari sisa-sisa kelelahan semalam. Ia mulai mengoordinasi warga seperti sedang memimpin proyek mercusuar di Jakarta. “Prioritas pertama adalah fondasi yang tergerus air! Kita perkuat dengan karung pasir Pak Lurah. Jangan sentuh bagian atas dulu sampai struktur bawah stabil. Rooftop kita tunda, fokus pada keselamatan nyawa rumah ini!”

Budi bergerak dengan energi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia mengangkat balok-balok kayu jati yang berat dengan bahunya sendiri. Peluh bercucuran membasahi kausnya hingga lepek. Ada semacam kegilaan dalam gerakannya seperti sebuah upaya penebusan dosa atas uang-uang yang ia curi dan judi yang ia sembah. Matanya kini lebih jernih, seolah-olah air banjir telah mencuci selaput delusi yang selama ini menutupi pandangannya.

Sari bergerak di dapur darurat yang dibuat di teras, membagikan nasi bungkus dan teh hangat. Bayinya, yang semalam batuk-batuk hebat, kini tertawa melihat keramaian gotong royong itu. Sementara itu, Andi tidak melepaskan ponselnya. Ia merekam setiap momen pembersihan itu dengan sudut pandang sinematik. “True Jawa Spirit #BanjirChallenge #GotongRoyong”. Unggahannya meledak; ribuan likes mengalir masuk, memvalidasi bahwa penderitaan keluarganya kini telah menjadi tontonan yang menginspirasi dunia maya. Namun bagi Andi, ini bukan lagi sekadar konten. Ini adalah caranya berdamai dengan kenyataan bahwa “kuno” ternyata bisa menyelamatkan “modern”.

 

Galian yang Menyingkap Kebenaran Ganda

Di tengah keriuhan itu, Pak Joko, sang kontraktor kembali bersama tim intinya. Wajahnya tampak kusam, matanya terus melirik ke arah lubang dinding yang mengungkap ruang tersembunyi semalam.

“Fondasi utamanya selamat, Mbak Rina. Kayu jatinya luar biasa, seolah-olah ia meminum air banjir itu untuk menguatkan dirinya,” lapor Pak Joko. “Tapi ruang tersembunyi itu... ada yang aneh. Tanah di bawahnya tidak basah sama sekali, padahal sekelilingnya terendam.”

Lihat selengkapnya