OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #16

Bab 15: Penghakiman di Rahim Code

Malam itu, bantaran Code seolah tidak lagi memiliki langit. Ia, seolah, hanya memiliki amarah. Airnya yang kedua datang bukan sebagai tamu dengan ketukan di pintu, melainkan sebagai eksekutor yang mendobrak. Lumpur hitam, pekat, dan dingin merangsek masuk ke dalam rumah dengan cepat, menelan halaman, menajiskan ruang tamu, dan merangkak naik hingga ke dada orang dewasa. Gotong royong yang dilakukan siang tadi seperti permainan. Setiap butir pasir yang ditumpuk Pak Lurah, setiap peluh yang diperas Budi, dan lainnya yang dilakukan warga terasa seperti lelucon di hadapan kekuatan alam yang mahadahsyat.

Rina berdiri di tengah arus yang menderu, mendekap gulungan blueprint homestay-nya agar tak kuyup. Kertas itu, yang sebelumnya ia anggap sebagai peta masa depan, kini terasa seperti beban yang ingin menyeretnya ke dasar lumpur. Lampu PLN padam total, meninggalkan kegelapan yang absolut kecuali kilatan lampu senter dari ponsel Andi yang gemetar.

“Evakuasi ke loteng! Sekarang!” teriak Rina. Suaranya serak, bertarung dengan deru air yang terdengar seperti geraman monster-monster kelaparan. Di bawah kakinya, rumah kayu itu bergoyang hebat. Dinding-dinding jati yang sudah tua mulai mengeluarkan suara berderak. Retakan-retakan pada dinding melebar serupa luka terbuka pada tubuh seorang raksasa yang sedang sekarat.

 

Penyingkapan Berdarah

Banjir ini seolah proses pembersihan paksa. Rahasia Ayah, Mas Hadi, kini nyaris telanjang. Surat dari kotak besi yang ditemukan siang tadi telah dibaca oleh mereka semua, tetapi maknanya baru benar-benar menghujam malam ini. Ayah adalah pion dalam permainan catur yang terlalu besar untuk ia pahami. Dan keris itu, pusaka yang selama ini dianggap sebagai jimat keberuntungan, ternyata adalah mahar bagi sebuah pengkhianatan.

Email sabotase yang menghantui Rina selama berhari-hari kini menemukan wajahnya. Dalam cahaya senter yang redup, Rina menyadari satu hal: pengirim email itu bukan sekadar kompetitor bisnis. Strategi penghancuran yang sistematis, pengetahuan tentang titik lemah rumah ini, dan dendam yang terasa personal... itu semua berasal dari darah yang sama.

“Dia! Paklik Wahyu pengkhianat itu!” teriak Rina sambil mendorong puing meja yang menghalangi jalannya. Ia merayap menuju altar kecil tempat Bu Siti biasa meletakkan keris. “Dia bukan mau membangun villa murah, dia mau menghapus jejak kejahatannya sendiri! Dia ingin tanah ini rata dengan lumpur agar rahasianya tenggelam selamanya!”

Sari, yang mendekap bayinya di sudut loteng, menatap Rina dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apakah kita benar-benar berbeda darinya, Rin? Kita semua menginginkan tanah ini untuk alasan kita masing-masing. Kita semua ingin membedah mayat sejarah Ayah untuk kepentingan kita sendiri.”

 

Penebusan di Ambang Maut

Budi, dengan otot-otot yang menegang dan wajah yang seolah tak lagi mengenal rasa takut, menjadi pilar hidup bagi keluarganya. Ia mengangkat Sari dan bayinya ke bagian tertinggi dari atap loteng, menjauhkannya dari arus yang mencoba menggapai loteng. Setiap gerakannya adalah doa fisik. Pakaiannya yang koyak dan tubuhnya yang basah kuyup adalah jubah penebusan bagi dosa-dosa judinya.

“Maafkan aku! Aku yang bikin sial rumah ini dengan membawa energi kotor!” raung Budi di tengah hujan yang menghujam. Namun, dalam raungannya ada kejujuran yang membebaskan. Untuk pertama kalinya, Budi tidak bertaruh melawan nasib. Ia sedang berkorban untuknya.

Di sudut lain, Andi masih setia dengan kameranya, meski tangannya gemetar. Ia melakukan siaran langsung terakhir, sebuah dokumentasi tentang keruntuhan sebuah dinasti kecil. “Ini akhir #RumahKita,” bisiknya ke arah lensa. Namun, di balik layar ponsel itu, Andi tidak lagi mencari views. Ia sedang merekam agar dunia tahu bahwa ada sebuah keluarga yang mencoba tetap utuh di tengah disintegrasi total.

Bu Siti duduk bersila di atas lantai loteng yang airnya mulai merembes naik. Ia memegang keris pusaka dengan kedua tangannya, diletakkan tepat di depan dada. Ia tidak lagi menangis. Suaranya muncul dalam lantunan doa tasawuf yang kuat, menembus bisingnya badai.

Lihat selengkapnya