OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #17

Bab 16: Pengakuan Wahyu

Pagi itu, bantaran Code tampak terlalu tenang untuk sebuah pinggiran kota yang baru saja tanpa sadar menenggelamkan dirinya sendiri. Sisa-sisa banjir Code meninggalkan lapisan lumpur yang mulai mengering, pecah-pecah seperti kulit ular yang mengelupas. Ibu Siti berdiri di depan reruntuhan rumahnya yang tinggal sebagian. Kayu-kayu jati yang kokoh itu tampak seperti tulang belulang raksasa yang mencuat miring dari bumi.

Di atas sebuah meja kayu yang selamat, Ibu Siti membuat altar darurat. Keris pusaka itu diletakkan di sana, telanjang tanpa sarung. Sinar matahari pagi memantul di bilahnya yang berpamor, menciptakan pendaran lembut yang seolah-olah menyapu sisa-sisa aroma busuk sungai. Ada keheningan yang janggal, sebuah kedamaian yang terasa rapuh, seperti maaf yang diucapkan di depan liang lahat.

Keluarga itu selamat, tetapi mereka tidak lagi sama. Tetangga-tetangga berdatangan sambil membawa sapu, cangkul, dan harapan. Mereka membantu memindahkan puing-puing besar dengan semangat gotong royong yang murni. Namun di tengah keriuhan itu, sebuah bom waktu baru saja meledak di tangan Rina. Diary Ayah yang ditemukan di ruang rahasia semalam, kini terbuka lebar. Tulisannya yang sedikit memudar, tetapi tajam menceritakan sebuah narasi yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik setan:

“Wahyu, adikku sendiri, ia memelihara naga di dadanya. Ia iri pada besi tua ini dan ia bersumpah akan menyabotase langkahku sampai aku kembali ke tanah.”

 

Tamu dari Masa Lalu

Suara derit pagar besi yang miring memecah konsentrasi mereka. Dari balik bayang-bayang pohon mangga yang tumbang, muncul sosok lelaki tua. Langkahnya goyah, menyeret sandal jepitnya di atas lumpur kering. Wajah Paklik Wahyu kini tampak jauh lebih tua dari ingatan mereka. Keriputnya bukan sekadar tanda usia, melainkan juga jejak kecemasan dan kemarahan yang bertahun-tahun ia timbun.

“Siti...” suara Wahyu parau, nyaris habis. “Aku dengar semalam banjir besar. Maaf... aku datang terlambat. Jalanan tertutup lumpur.”

Rina maju melampaui Ibu Siti. Langkahnya tegas, menghancurkan kerak lumpur di bawah sepatu boots-nya. Di tangannya, diary Ayah diacungkan seperti sebuah surat dakwaan.

“Terlambat karena jalanan tertutup, atau terlambat karena skenario sabotase Paklik gagal total?” suara Rina tegas dan terang, membuat beberapa tetangga menghentikan aktivitas mereka. “Paklik menyabotase kontraktor Pak Joko, mengirim email ancaman, dan mencuri keris itu di tahun ‘98 saat kerusuhan memuncak, kan? Paklik ingin kami menyerah, menjual tanah ini dengan harga murah lewat tangan orang lain, lalu Paklik akan membangun kejayaan di atas darah kakak sendiri?!”

Suasana seketika membeku. Langit yang cerah terasa menekan.

 

Runtuhnya Benteng Iri

Wahyu terdiam. Matanya yang gelisah bergerak dari wajah Rina ke keris yang ada di altar, lalu ke wajah Ibu Siti yang tetap tenang. Seperti sebuah bendungan yang retak, pertahanannya jebol. Ia ambruk ke tanah, lututnya menghantam lumpur yang masih lembap. Air mata mulai mengalir, membasahi wajahnya yang berdebu, menciptakan aliran sungai kecil yang kotor di pipinya.

“Iya...” bisik Wahyu, suaranya lebih mirip desis ular yang terluka. “Aku iri sejak kita masih kecil. Mengapa Kak Hadi yang mendapatkan pusaka? Mengapa dia yang dianggap sebagai pahlawan, sementara aku hanya bayang-bayang yang tak dianggap? Saat Reformasi pecah, saat semua orang saling tuduh, aku melihat kesempatan. Aku yang membisikkan pada aparat bahwa dia adalah pengkhianat politik, penyimpan dokumen terlarang. Aku ingin dia diangkut, agar rumah ini kosong.”

Ia terisak, bahunya berguncang hebat. “Aku mencuri keris itu, Siti. Aku menjualnya ke kolektor di Jakarta untuk membangun bisnis kontraktorku sendiri. Aku pikir dengan uang itu aku bisa menang. Tapi kutukan itu berbalik. Bisnisku hancur, anak-anakku menjauh, dan setiap malam aku bermimpi air Code masuk ke tenggorokanku. Aku menjadi saingan Pak Joko secara diam-diam hanya untuk menguasai kembali tanah ini... aku ingin membeli tanah ini murah setelah kalian putus asa karena banjir, agar aku bisa mengubur rasa bersalahku di bawah semen bangunan baru.”

Lihat selengkapnya