OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #18

Bab 17: Perjuangan di Atas Reruntuhan

Matahari pagi pasca pengakuan Paklik Wahyu terasa berbeda. Ia tidak lagi menyengat, melainkan membasuh. Lumpur yang kemarin menjerat kaki kini mulai mengeras, retak-retak membentuk pola labirin di halaman rumah. Budi dan Andi berjongkok di antara puing-puing kayu jati yang berserakan, mencoba memilah mana yang masih bisa menjadi penyangga dan mana yang harus direlakan menjadi kayu bakar.

Meski lumpur di luar mulai mengering, atmosfer di dalam dada mereka masih terasa becek. Ada sisa-sisa nafsu, amarah, dan residu ego yang tidak bisa surut hanya dalam satu malam. Budi merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan layar retak yang selama ini menjadi “kasino pribadi” dalam genggamannya. Jarinya gemetar—bukan karena dingin, melainkan karena sakau akan adrenalin taruhan. Dengan satu tarikan napas yang berat, ia menekan lama ikon aplikasi judi itu dan memilih opsi uninstall.

“Aku berhenti, Dek,” bisik Budi. Suaranya serak, seolah kata-kata itu harus melewati kerikil di tenggorokannya. “Pengakuan Paklik Wahyu kemarin... itu… mm… seperti melihat cermin yang pecah. Aku sadar sekarang, iriku dengan bayang-bayang kesempurnaan Ayah membuat aku lari ke judi. Aku pengen menang instan supaya nggak kelihatan kalah di mata almarhum. Ternyata, selama ini aku cuma berjudi dengan nyawa rumah ini.”

Andi terdiam, memandangi layar ponselnya sendiri. Di sana ada draf pesan rahasia kepada seorang kolektor barang antik. Itu sebuah rencana cadangan untuk menjual keris pusaka jika proyek homestay Rina gagal. Ia menghapus draf itu dengan gerakan cepat.

“Gue juga, Mas,” sahut Andi akhirnya, kepalanya tertunduk. “Ego digital gue... merasa lebih pintar dari sejarah. Gue pikir nilai-nilai Jawa yang Ibu agungkan itu kuno, membelenggu, dan bikin kita miskin. Ternyata, tanpa nilai itu, kita cuma orang-orang yang tersesat di rumah sendiri. Gue lebih ‘kuno’ karena cuma tahu cara pamer, bukan cara peduli. Aku merasa termasuk wong Jawa sing ilang jawane. Tapi, tragedi ini menyadarkanku bahwa jawa yang dimaksud Ibu bukan sekadar nama suku. Jawa yang dimaksud Ibu adalah istilah dari kesadaran diri, asal-usul diri, kepedulian terhadap sesama, terhadap alam, sehingga tahu etika, unggah-ungguh

Budi menatap Andi tanpa berkedip. Ia melihat Andi bukan Andi yang biasanya. Dan itu membuatnya meragukan ucapan adiknya itu. Apakah Andi benar-benar menghargai nilai Jawa, ataukah ia hanya sedang mengadopsi narasi baru agar kontennya tetap relevan? Identitasnya kini berada di persimpangan antara menjadi pemberontak atau menjadi pelestari yang oportunis.

 

Tumpeng dan Alkimia Pengampunan

Siang itu, halaman yang porak-poranda disulap menjadi ruang selamatan darurat. Tetangga datang membawa tikar, piring-piring seng, dan sebuah tumpeng kuning yang menjulang gagah di tengah kemelaratan. Di atas altar kayu yang masih lembap, keris pusaka disemayamkan. Ia tidak lagi memancarkan pendar biru yang mengancam, melainkan tampak tenang, seolah-olah besinya telah mendingin setelah menyerap semua racun keluarga.

Ibu Siti memimpin doa. Suaranya, yang biasanya lembut, kini terdengar berwibawa dengan resonansi batin yang kuat.

“Duh Gusti Allah, Penguasa Arus dan Diam. Ampuni iri yang telah menjadi banjir di hati kami sebelum ia menjadi banjir di sungai kami,” pimpin Ibu. “Kami kembalikan rumah ini pada-Mu, bukan sebagai batu dan kayu, tapi sebagai tempat sujud.”

Bagi tetangga yang hadir, doa ini adalah tanda berakhirnya kutukan. Namun bagi keluarga Siti, ini adalah awal dari sebuah tanggung jawab yang lebih berat. Mempertahankan keikhlasan di tengah sisa-sisa kehancuran jauh lebih berat dari apa pun.

Rina menatap tumpeng itu dengan pandangan seorang perencana. “Ini akan menjadi ruh dari homestay kita nanti, Bu. Bukan sekadar penginapan modern. Ibu akan melihat ini akan menjadi tempat bagi orang-orang untuk belajar ‘Ikhlas Jawa’. Kita tidak menjual kemewahan, kita menjual ruang untuk berdamai dengan kehilangan.”

Sari, yang duduk di samping Ibu sambil memangku bayinya, mengangguk dengan sorot mata yang baru. “Aku sudah ambil keputusan, Mbak Rin. Aku bakal ajuin cerai. Suamiku... dia masih memeluk uang korup itu lebih erat daripada memeluk anak ini. Aku mau mulai baru di rumah ini, meskipun cuma jadi guru honorer lagi. Lebih baik makan nasi garam, tapi hati nggak berisik karena dosa orang lain.”

Rina menatap antara kaget dan takjub. Baginya, pernyataan Sari adalah sebuah “maaf” yang aktif. Ia memaafkan dirinya sendiri karena pernah memilih jalan yang salah, tetapi ia tidak memberikan “maaf” yang membiarkan kejahatan suaminya terus berlanjut. “Mbak mendukung keputusanmu, Dek. Semoga ini adalah bentuk ikhlas yang tegas, bukan pasrah yang buta.”

 

Lihat selengkapnya