Sari duduk bersandar pada tiang penyangga loteng yang masih cukup kokoh, satu dari sedikit bagian rumah yang seolah menolak tunduk pada gravitasi. Di pangkuannya, sang bayi tidur dengan napas yang teratur, seolah-olah hiruk-pikuk bencana semalam hanyalah dongeng pengantar tidur yang jauh. Di bawah sana, sisa-sisa lumpur dari longsor susulan masih meninggalkan jejak basah. Deru air Sungai Code mulai melandai dan menjelma menyerupa bisikan yang lelah.
Rumah ini, yang kini lebih menyerupai kerangka raksasa daripada sebuah kediaman, telah menjadi saksi bisu bagaimana maut hampir saja merenggut sejarah mereka. Namun, dalam kerapuhan itu, Sari merasakan sebuah kekuatan yang asing: kejelasan.
Ia menatap layar ponselnya yang buram oleh usia. Di sana, draf gugatan cerai itu berkedip-kedip, seolah-olah menuntut untuk segera dilepaskan ke dunia. Bagi Sari, ini bukan sekadar urusan administrasi rumah tangga; ini adalah proklamasi kemerdekaan jiwa. Ia memutuskan untuk memotong tali yang menghubungkannya dengan suami yang tangannya berlumuran jelaga korupsi.
“Ini bukan tentang menghancurkan keluarga, Bu,” bisik Sari. Ibu Siti yang sedang duduk bersila di depan altar darurat mendengarkan dengan tenang, jemarinya tiada henti memutar butiran tasbih. “Ini adalah pilihan etis,” lanjut Sari, “Aku ingin membangun ‘rumah tangga harmoni’ versi baru. Sebuah harmoni yang tidak dibangun di atas tumpukan uang haram, tapi di atas kejujuran seorang guru dan tawa seorang anak yang merdeka.”
Ibu Siti tidak menghentikan wiridnya, ia mengangguk tipis sebelum berujar. “Harmoni yang dipaksakan di atas kebohongan adalah penjara, Nak. Kadang, sesuatu harus benar-benar hancur agar kita tahu apa yang sebenarnya layak untuk dipertahankan.”
Sari mencoba mencerna perkataan ibunya yang baginya mengandung maksud ganda: apakah ibunya benar-benar merestui perceraian itu, ataukah sedang mengingatkan bahwa kehancuran ini adalah konsekuensi dari ketidakjujuran kolektif mereka selama ini? Di mata Sari, “mandiri” adalah tujuan; di mata Ibu, itu adalah ujian.
Arsitektur Kasih Sayang
Di halaman yang masih berantakan, Rina tampak sibuk dengan sisa-sisa kertas sketsanya. Ia tidak lagi menggambar desain homestay mewah dengan kolam renang minimalis yang sempat ia impikan. Pensilnya bergerak tenang menciptakan desain baru. Perlahan, guratan itu menampilkan gambar sebuah rumah singgah sederhana yang merangkul struktur asli jati tua, dengan ruang-ruang terbuka yang membiarkan angin Code masuk tanpa penghalang berarti.
“Proyek ini bukan lagi tentang Jakarta, Dek,” kata Rina saat Sari turun dari loteng. “Ini tentang kita. Homestay ini akan menjadi ruang penyembuhan. Setiap retakan di dinding akan tetap kita tunjukkan, agar orang tahu bahwa rumah ini punya nyawa yang pernah berjuang.”
Budi dan Andi bergerak selaras di latar belakang. Mereka mengangkut batu-batu kali untuk memperkuat tanggul darurat, bahu-membahu dengan tetangga yang datang menyumbangkan semen dan tenaga. Pemandangan ini mustahil terjadi beberapa minggu lalu, saat ego mereka masih setinggi Merapi.
Tante Wahyu, lewat perantara yang mengirimkan dana penebusan, seolah-olah telah mengirimkan “darah” baru bagi jantung rumah ini. Uang itu, yang berasal dari penyesalan, kini beralih fungsi dari alat penghancur menjadi bahan pembangunan.
“Rumah kita retak secara fisik, Mbak,” ujar Sari sambil memandang tembok yang miring. “Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa hati kita benar-benar bersatu. Kita tidak lagi saling menyembunyikan foto, tidak lagi saling curiga soal uang.”