OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #20

Bab 19: Membangun di Atas Puing Keakuan

Matahari Code merambat naik, menyentuh sisa-sisa semen basah di halaman rumah keluarga Siti. Udara tidak lagi berbau lumpur busuk, melainkan aroma kayu jati yang diamplas dan wangi kopi tubruk yang diseduh di dapur darurat. Rina berdiri di tengah halaman, tidak lagi menggenggam gulungan kalkir kaku ala biro arsitek Jakarta, melainkan secarik kertas sketsa tangan yang tampak lebih hidup.

Fondasi rumah itu kini telah diperkuat dengan teknik umpak tradisional yang dipadukan dengan penguat modern sebagai sebuah kompromi antara sejarah dan realitas. Bukan lagi dengan beton bertulang yang angkuh. Dan ini bukan lagi rencana pembangunan homestay mewah yang dulu ia gadang-gadang untuk mengejar gengsi ibu kota. Rencana itu telah hanyut bersama banjir kedua, dan Rina membiarkannya pergi tanpa rasa sesal.

“Ini simbol rumah kita yang baru,” ujar Rina kepada tim kecilnya, suaranya kini memiliki resonansi yang lebih dalam, tidak lagi melengking karena ambisi. “Kita tidak membangun tempat untuk orang asing yang sekadar ingin menginap. Kita membangun ruang komunal. Tempat belajar bagi anak-anak kampung tentang bagaimana mencintai tanahnya sendiri, tentang agama yang menyejukkan, dan tentang keris yang bukan sekadar besi, tapi doa yang ditempa.”

Desain itu sederhana: sebuah pendapa terbuka tanpa sekat yang luas, ruang tengah yang dialokasikan untuk perpustakaan mini, dan kamar-kamar etnik tanpa AC mewah—hanya ventilasi silang yang membiarkan nafas Sungai Code masuk dengan sopan. Di bagian atas, sebuah rooftop hijau disiapkan, bukan untuk pesta kebun, melainkan sebagai tempat selamatan dan melihat bintang saat malam tanpa polusi ego.

“Nak, ibu takkan lelah mengingatkan bahwa hati itu rumah sejati,” suara pelan Ibu Siti dari teras, seolah mampu membaca pikiran anaknya. Lalu lanjutnya dengan mengutip falsafah Jawa kuna: “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Segala kekuatan, kejayaan, dan angkara murka di dunia ini, hanya bisa dilelehkan oleh kelembutan hati dan kasih sayang.”

 

Alkimia Sosial

Puncak renovasi ini berubah menjadi sebuah perhelatan alkimia sosial. Warga pinggiran Code yang dulu memprotes keras, kini menjadi barisan depan yang menyatukan tangan. Pak Joko, yang tadinya hanya kontraktor pemburu margin, kini tampak asyik mengecat dinding dengan ketelatenan seorang seniman.

“Mbak Rina bijak mengubah rencana,” kata Pak Joko sambil mengusapkan kuas. “Rumah yang terlalu mewah di pinggir sungai itu seperti memakai jas tuxedo di tengah sawah. Indah, tapi menyakitkan mata yang melihat. Desain sederhana ini justru membuat rumah ini punya wibawa, punya pamor, seperti keris itu.”

Budi bergerak dengan kelincahan yang tak tampak sebelumnya. Ia mengelola inventaris material dengan kejujuran mutlak. Tidak ada lagi taruhan di balik layar, tidak ada lagi uang semen yang ia sisihkan untuk meja judi. Setiap sak semen yang ia angkut adalah bentuk pertobatan fisik. Ia membuktikan dengan aksinya. Ia menyadari, membangun rumah lebih memuaskan daripada mengundi nasib lewat algoritma judi.

Andi pun tak mau ketinggalan. Ia bertransformasi. Ia mendesain logo digital untuk tempat itu: “Rumah Ikhlas”. Sebuah siluet rumah joglo yang dipadukan dengan garis air sungai yang tenang. “Gue sadar, Mas,” kata Andi kepada Budi. “Konten yang paling viral itu bukan yang paling heboh, tapi yang paling jujur. Gue mau dunia tahu kalau kita nggak perlu jadi orang lain untuk jadi modern.”

Di sudut lain, Sari tampak sibuk mengajar anak-anak tetangga sambil tetap menggendong bayinya. Proses perceraiannya selesai dengan damai. Sebuah kedamaian yang lahir dari keberanian untuk melepaskan belenggu korupsi. Suaminya telah pergi, tapi martabat Sari telah kembali. Ia kini bukan lagi guru honorer yang tertekan. Ia menjadi pilar pendidikan di lingkungan barunya.

Lihat selengkapnya