OMAH CODE

Era Ari Astanto
Chapter #22

Epilog: Di Ambang Muara

Satu tahun setelah langit Yogyakarta seolah tumpah dan tanah di pinggiran Code memutuskan untuk menelan rahasia-rahasianya, sebuah oase berdiri tegak. Bangunan itu bukan lagi rumah reyot yang gemetar setiap kali guntur menyapa, namun juga bukan istana kaca yang angkuh memunggungi kampung. Ia adalah sebuah anomali arsitektural yang oleh Rina dinamai “Rumah Ikhlas”. Di sini, beton dan kayu jati tua berpelukan dalam desain yang bernapas, membiarkan angin sungai masuk tanpa rasa sungkan, seolah-olah rumah ini adalah perpanjangan dari paru-paru bumi itu sendiri.

Ruang komunal di bagian depan kini menjadi jantung yang berdenyut bagi kampung. Setiap sore, suara gaduh anak-anak yang belajar tembang Macapat bersahutan dengan lantunan wirid tasawuf. Mereka tidak hanya belajar nada, tetapi belajar tentang frekuensi hidup. Di atas, rooftop hijau yang subur dengan tanaman herbal dan sayur mayur menjadi saksi bisu selamatan bulanan. Di sana, batas antara “milikku” dan “milikmu” lebur dalam aroma tumpeng yang mengepul.

Dari dapur, aroma gudeg Ibu Siti yang manis dan legit—sebuah resep yang bertahan melewati tiga rezim politik dan dua banjir besar—bercampur dengan wangi dupa cendana dari altar keris pusaka di ruang tengah. Keris itu kini tidak lagi diselimuti kain mori yang mencekam; ia berdiri di balik kotak kaca jernih, memantulkan cahaya matahari sore dengan binar yang damai. Kutukan iri yang dulu menghitamkan bilahnya seolah sirna, terserap oleh keikhlasan orang-orang yang kini menghuninya.

 

Penjaga Gerbang Batin

Ibu Siti duduk di teras, di atas kursi jengki yang sandarannya telah diganti dengan anyaman rotan baru. Tangannya memutar pela tasbih dari kayu jati, kayu yang sama yang menyelamatkan mereka saat banjir. Matanya mungkin telah meredup oleh usia yang menyentuh angka 66, tapi binar di dalamnya adalah jenis cahaya yang tidak butuh listrik untuk menyala.

“Ini rumah Code kita. Rumah ikhlas kita. Tapi, ingatlah Nak, rumah sejati itu di hati, bukan di dinding,” gumamnya pelan saat Rina duduk di sampingnya. Ibu Siti sering merenungkan Jalaluddin Rumi, namun ia membumikannya dengan falsafah Jawa kuno, “Gusti bakal paring margi kanggo wong sing gelem laku.” Tuhan akan memberi jalan bagi mereka yang mau melangkah, mau berusaha. Bagi Ibu Siti, melangkah bukan berarti pindah tempat, melainkan berpindah dari “aku” menuju “Kita”, dari “dua” menjadi “satu”.

Rina, yang kini hanya akan kembali ke Jakarta untuk urusan birokrasi, menatap ibunya dengan rasa takjub yang baru. Proyek “Rumah Ikhlas”, atau ibunya menyebut dengan “Rumah Code”, telah menjadi model nasional untuk pariwisata etis. Turis mancanegara datang bukan hanya untuk mencari kemewahan, melainkan juga untuk mencari apa yang mereka sebut sebagai “wisata spiritual”. Mereka membayar untuk belajar kesabaran, ikut membersihkan sungai, dan memotret candi-candi bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek sejarah.

“Bu, proyek ini bukan lagi soal portofolio atau nama besar di Jakarta,” bisik Rina sambil menyandarkan kepala di bahu ibunya. “Ini bukti cintaku. Sekarang aku tahu, membangun rumah yang tidak bisa roboh itu bukan sekadar pakai semen kualitas wahid, tapi pakai maaf yang kualitas wahid.”

Diam-diam, Rina menyebut “cinta” dengan makna “penebusan” dalam hatinya. Ia menebus ambisinya yang dulu ingin menjual rumah ini demi kemegahan Jakarta dengan membangun sesuatu yang justru membuat Jakarta harus menoleh ke arah Code untuk belajar tentang kemanusiaan.

 

Menyala di Balik Layar Monitor

Budi telah bertransformasi total. Jika dulu tangannya gemetar mencari tombol judi online, kini jemarinya lincah mengelola sistem reservasi homestay yang transparan. Ia menemukan jenis adrenalin yang berbeda: adrenalin kejujuran. Tak ada lagi “uang panas”, yang ada adalah keringat dingin saat memastikan setiap tamu mendapatkan layanan yang manusiawi.

Di sela kesibukannya, Budi membuka kelas IT gratis untuk pemuda kampung di ruang bawah tanah, ruang yang dulu merupakan gudang rahasia Ayah. Ia memberikan mereka senjata baru, keahlian digital, agar mereka tidak terjebak dalam lubang gelap judi yang pernah hampir mematikan jiwanya. Budi telah menjadi “penerus Ayah” dalam versi yang lebih bersih. Ia menyadari falsafah “urip iku urup”, hidup itu harus menyala untuk kehidupan dengan cara yang sangat literal.

Lihat selengkapnya