Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #1

Prolog

Ruby berlari kencang sekali, karena ia pikir tak ada yang menyamai langkahnya. Saat itu Peter yang jaga, dan dia payah sekali, selalu mengeluh kalau harus menghitung lebih dari tiga puluh. Sementara itu, Ruby adalah anak yang pandai bersembunyi. Sepasang kaki kecilnya sudah penuh ditandai bekas-bekas bertualang. Goresan luka sana-sini memang sempat membuatnya tersedu-sedu, tapi kemudian ia maknai sebagai cendera mata tersendiri yang punya cerita.

Kini Ruby mendahului Alan yang hendak mengumpet di salah satu sudut andalan mereka. Jadi, Alan mengumpat, lalu buru-buru berbalik arah untuk mencari persembunyian lain. Ruby hanya tersenyum jail dan lanjut melesat melampaui pengkolan ujung rumah warna kuning.

“DUA PULUH LIMA ...!” Peter mengumumkan keras-keras. Dia memang suka begitu; biasanya, pertanda sudah kesal karena disuruh menghitung sambil memejamkan mata, ditinggalkan.

“LIMA PULUUUH ...!” teriak Peter lagi, nyaring sekali. "SUDAH, YAAA ...?"

“SUDAAAH …!” teriak Alan.

Peter yang tidak pernah suka jadi “kucing”, menggerutu dalam napasnya ketika menyusuri jalan permukiman yang lengang itu. Peter adalah anak yang tampan, tapi pemarah, dan cuping hidungnya selalu kembang-kempis tiap ia menggerutu. Kali ini juga begitu. Apalagi, hitungannya sampai lima puluh.

Lihat selengkapnya