Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #2

Satu

Jika punya apa pun yang bisa ditawarkan dunia, kau ingin punya apa?

Waktu, Peter selalu menjawab, aku ingin punya waktu.

Sebab meskipun terkadang ucapannya memang tepat dalam merespons kata-kata selorohan teman-temannya, Peter sebenarnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencerna segalanya. Oleh karena itu ia sering kali kedapatan mengangguk-angguk setuju, memberikan suara satu pendapat, atau malah terlampau tidak memperhatikan—yang anehnya justru dinilai teman-temannya sebagai suatu sikap “tak terbaca” yang “misterius”. Tak jarang Peter ingin berteriak di wajah orang-orang itu dan mengonfirmasi bahwa, hei, aku hanya telat mikir.

Seperti kali itu.

Pada istirahat pertama, Mrs. Ruis memanggil Peter untuk mendiskusikan tentang kemampuannya melukis. Peter kebingungan. Ia pikir ia hanya menggambar saja, tanpa mengantongi potensi seorang Monet. 

Mrs. Ruis kemudian mengusulkan Peter untuk menjadi perwakilan kompetisi melukis mereka melawan Dominicus College semester depan, yang bisa mengamankan slot beasiswa untuk perguruan tingginya. Menyetujui usulan itu adalah langkah yang bijak dan baik. Mungkin ia bisa memelintir kepayahan dalam prospek seorang seniman yang sentimental menjadi citra seorang struggling artist. Itu keren. Peter menyukainya.

“Oke, Mrs. Ruis,” jawabnya. “Aku ikut.”

“Bagus! Nah, sekarang, bisakah kau panggilkan Alan ke ruanganku?”

Degup. Alis Peter seketika menyatu heran.

“Alan yang mana?”

“Alan kelas 2-C.”

“Kenapa?”

“Karena aku butuh bicara dengannya?” Mrs. Ruis mengangkat sebelah alis. “Ada apa, Peter?”

Peter menatap wanita itu lurus-lurus, malas dan bosan.

Jangan pura-pura tidak tahu. Semua orang sudah tahu, sejak dulu.

“Baik.” Peter memutuskan, lalu beranjak pergi.

Nah, seharusnya, Peter memikirkan perintah itu baik-baik terlebih dahulu sebelum sungguhan berjalan ke kelas 2-C yang tak pernah damai itu dan memangkal di bingkai pintu. Padahal, ia bisa saja mengelak, menyusun kerangka alasan yang komprehensif sehingga Mrs. Ruis bisa mengerti betapa ia benar-benar tidak ingin pergi memanggil “Alan kelas 2-C”.

Mata hijau Peter tak perlu berkelana terlalu lama, karena kelas itu nyaris kosong. Anak-anak sibuk sendiri di luar, meninggalkan tiga orang saja di dalam kelas, termasuk orang yang perlu dipanggilnya.

Alan, Peter memanggilnya dalam hati, penuh dengki.

Alan.

Alan duduk murung di bangku paling ujung. Rambut hitam ikalnya terkulai lepek berminyak, wajahnya tak pernah cerah, dan sudut-sudut bibirnya selalu menekuk ke bawah. 

Jika kau mengumpulkan seluruh kosakata yang bersinonim dengan sengsara, Alan menjadi salah satunya. 

Peter sering kali berpikir, tidakkah dia merasa begitu lelah dengan keadaan demikian? Bukankah seorang manusia diberkahi kantong nelangsa secukupnya saja, lalu mengapa Alan di sini seolah memiliki persediaan berlebih? Dia kenapa, sih?

Pemandangan anak itu selalu mengganggunya.

Tok, tok, tok! Peter mengetuk pintu dengan malas. Mereka berdua menoleh—Alan dan anak yang diketahuinya bernama Lenn.

“Bocah itu,” kata Peter, mengedikkan kepala pada Alan. “Aku baru saja dari ruang guru, dan Mrs. Ruis sekalian menyuruhku untuk memanggilmu.”

Harus jelas, batin Peter, karena tidak mungkin aku bicara lagi padanya.

“Oke,” jawab Alan, membuat Lenn menoleh cepat dengan tersinggung.

“Kau tadi tidak mau jawab ketika kutanya!” keluhnya.

Tapi Peter sudah berlalu tanpa peduli.


*


“Dengar ini: kalian sedang melihat titisan Oscar-Claude Monet.” Peter mengumumkan pada teman-temannya.

Dirk, Marcel, dan Laurens bertepuk tangan heboh penuh apresiasi.

Lihat selengkapnya