Kompetisi Dominicus akan segera tiba, setidaknya bagi Peter, dan hingga kini ia belum menemukan bayangan lanskap yang tepat untuk diuji. Mrs. Ruis mengatakan bahwa ada baiknya ia berefleksi dan memikirkan momen-momen berharga untuk ditarik keluar dan diburaikan dalam kanvas. Serta-merta sebentang taman subur mengusik pikirannya, dan tak mau pergi-pergi.
Ketika jemarinya mengangkat kuas, Peter membayangkan lima jemari lain yang menggenggamnya. Jari-jari penuh tanah, jauh lebih mungil dari miliknya. Lalu alunan tawa anak-anak menggema di benaknya, melayangkan desau musim semi yang hangat dan benderang.
Peter memejamkan mata.
“Kenapa harus lanskap?” tanyanya dengan nada menuduh, ketika menghampiri Mrs. Ruis di kantornya, seolah menuntut tanggung jawab. “Kupikir still life sedang digemari?”
“Bukan aku yang menentukan, Peter,” jawab Mrs. Ruis sabar. “Kenapa dengan lanskap? Kau butuh latihan?”
Peter tersinggung. “Aku bisa melukis lanskap.”
“Oh, aku tahu,” ralat Mrs. Ruis. “Lalu apa yang merisaukanmu?”
“Pemandangan ada di mana-mana,” lanjut Peter. “Kita sudah cukup mengapresiasinya, bukan? Bagaimana dengan benda-benda kecil di sekitar, yang terlalu sering kita abaikan, padahal kesederhanaannya justru kunci filosofisnya yang istimewa. Mengapa tak kita apresiasi? Hal-hal macam itu perlu diperhatikan, kau tahu?”
“Peter.” Mrs. Ruis mengangkat kedua tangan. “Temanya sudah ditentukan. Kali ini giliran Dominicus. Mungkin tahun depan?”
Opsi itu tak cukup baik bagi Peter, namun ia juga tidak akan menggadaikan kesempatannya hanya karena ketidakbecusannya membentengi diri dari kenangan pahit.
“Berikan aku contoh lanskap yang bagus,” tukasnya. “Suruh aku pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan referensi. Lanskap di kepalaku terlalu menjemukan untuk dilukis.”
“Taman Peoni?”
“Tidak,” sambar Peter tajam, memicingkan mata. “Terlalu menjemukan.”
“Kupikir bukit di belakang rumahmu menyuguhkan pemandangan yang cukup asri,” saran Mrs. Ruis. “Pernahkah kau memperhatikannya?”
“Itu cuma bukit.”
“Ya, tapi terkadang hal-hal kecil macam itu terlalu sering kita abaikan, bukan, sehingga melewatkan keistimewaannya?”
Peter bergeming. Memang selama ini ia jarang bermain ke sana, terutama karena bukit itu terletak di belakang rumahnya dan rumah Alan. Mereka memang tetangga.
“Lalu, di mana lagi?” tuntutnya.
Mrs. Ruis mengembuskan napas lelah. “Aku tidak tahu, Peter—”
Perkataan Mrs. Ruis terputus oleh suara ribut-ribut di luar ruangan. Khas perkelahian. Maka mereka berdua buru-buru keluar untuk mencari tahu.
Alan, batin Peter, tapi kali ini anak itu tidak sedang menundukkan kepala dan menerima siraman asinan pedas.
Alan menyerang.
Kejadiannya cukup cepat, sehingga Peter nyaris sulit membedakan mana tangan dan kaki Alan, mana tangan dan kaki Jozef, karena kedua tangan-kaki mereka saling bertautan kacau seolah hendak membentuk simpul. Wajah Alan yang biasa ditekuk muram kini tampak berang; mata hitamnya menyala-nyala oleh amarah yang mungkin sudah disimpan lama. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan seruan-seruan tanpa kata yang sarat akan kegeraman dan … sesuatu lainnya.
Pemandangan itu membuat Peter tercenung di depan ruang guru. Tubuhnya memaku.
Mr. Lange dan Mrs. Ruis berhasil memisahkan Alan dan Jozef, tapi kemarahan Alan tampaknya belum padam sampai sana.
“Tarik kembali ucapanmu! TARIK KEMBALI!”
Jozef tidak menjawab, hanya merintih kesakitan.
“JANGAN DIAM SAJA!”
“Alan, sudah, sudah ….”
Sesuatu yang ganjil merangkak ke balik dada Peter ketika melihat pipi Alan yang berkilauan; air mata berlomba turun membasahi wajahnya. Alan meraung, meraung, membiarkan diri jatuh ke atas lantai dan meringkuk begitu saja.
Dan Peter nyaris limbung ketika mendengar apa yang Alan ucapkan bagai jampi dalam napasnya:
“Aku tidak meninggalkan Ruby …. Aku tidak meninggalkan Ruby ….”
*
“Kau tahu bahwa sikapnya justru untuk menggaet simpati, kan? Lihat saja. Setelah insiden itu, beberapa anak perempuan jadi kasihan padanya.”
“Aneh sekali. Kalau pura-pura tolol dan lemah seperti itu, sih, aku juga bisa.”
“Tidak perlu pura-pura juga kau sudah tolol dan lemah.”
“Brengsek!”
“Pete, apelmu menghitam, tuh.”
“Pete? Peter!”
“Hm?” Peter mengerjap-ngerjapkan mata, mengedarkan pandangan pada teman-temannya yang penasaran. Sudah berapa lama aku melamun?