Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #4

Tiga

Minggu itu seharusnya ia bisa fokus dengan kencannya bersama Kiera, tapi yang berkelana di benak Peter hanyalah panas demamnya pada masa lalu dan bukit sialan itu. Matanya pun kerap kali lebih saksama memperhatikan gerak-gerik Alan—betapa pun ia tak peduli, betapa pun ia tak mau tahu—seolah memastikan tak akan ada konflik menjengkelkan antara anak itu dan teman-teman sekelasnya. Setidaknya, sejauh ini, anak-anak itu tahu lebih baik dan menjaga jarak dengannya, membiarkan Alan tersisihkan seperti biasa di tengah kerumunan. Namun celetukan asal teman-teman Peter perihal sikap menyedihkan Alan yang memancing perhatian anak-anak perempuan, kini mau tak mau membuatnya berspekulasi sendiri, karena tampaknya memang benar demikian.

Anak-anak perempuan seolah memiliki kompetisi sendiri; barangsiapa berhasil mendekati Alan, ialah pemenangnya. Hadiahnya apa, Peter pun tak tahu. Seringnya, satu-dua teman sekawan duduk-duduk di sekitar Alan tiap makan siang, berusaha membuatnya bicara, tapi Alan tetap tenggelam dalam pusaran kesengsaraannya yang memuakkan. Lama kelamaan, mungkin anak-anak itu muak juga, karena tak ada yang bertahan lama.

Kecuali Layla.

Peter mengenal Layla dari pertemuan mereka di ruang guru, karena ternyata gadis itu juga akan menjadi perwakilan kompetisi akademik dan kompetisi seni melawan Dominicus.

“Ternyata kau pintar juga, ya?” tanya Peter waktu itu; sungguhan bertanya, bukan mengolok.

Layla, gadis berkulit kecokelatan dan bermata hitam bulat, memandangnya tidak suka, tapi tidak berkomentar. Peter pikir dia memang tidak suka berbincang-bincang. Anak-anak akademis memang seperti itu (meskipun Layla juga melukis).

Awalnya, sepanjang yang diperhatikannya, Layla hanya sigap mengingatkan Alan terhadap kewajiban-kewajiban akademiknya, PR-PR yang jarang dikerjakannya, kepentingan dasar menuntut ilmu, dan ceramah-ceramah lainnya—hingga bahkan Peter tak tahu apakah ia lebih muak terhadap Alan atau terhadap sikap sok suci Layla.

Tapi, ya, gadis itu tidak pernah pergi.

Maka suatu hari, ketika mereka tengah menunggu Mrs. Ruis di kantornya, Peter menuruti rongrongan keingintahuannya terhadap motif gadis itu.

“Dia sebegitu bodohnya, sehingga kau rela melakukan proyek pribadi untuk memperbaikinya?”

“Siapa, maksudmu?”

“Pedersen.”

Seolah diingatkan, mata Layla berpendar. “Oh, bukankah kau dulu berteman dengannya?”

“Jawab pertanyaanku,” tukas Peter tak sabar.

Layla mengulum bibirnya, memicingkan mata. “Memang kenapa?”

“Tinggal bilang ya atau tidak,” gerutu Peter.

“Apa urusanmu?” Layla mulai defensif.

“Pikat si pecundang dan menangkan hadiahnya? Itukah sayembara yang beredar di antara kalian para gadis?”

“Apa maksudmu—”

“Oh, jangan bertingkah sok polos.” Peter memutar mata. “Kau pikir gadis-gadis itu akan dengan senang hati menghampiri Alan?”

“Ada apa dengan Alan? Menurutku, dia tidak buruk—”

“Kalian bahkan tidak akan tahu keberadaannya jika waktu itu dia tidak bertingkah!” gertak Peter.

“Lalu kenapa kalau dia jadi menonjol setelah itu?” tantang Layla. “Apakah itu salah?”

“Kau mau apa dengannya?”

“Apa pentingnya kemauanku untukmu? Kenapa kau tiba-tiba peduli?”

“Aku tidak peduli!”

Suara Peter menggaung di ruangan kosong itu.

Sialan, apa yang sedang kulakukan? Peter memejamkan mata untuk mengendalikan diri. Sungguh, ia tidak peduli.

Untunglah, sebelum Peter menggelar renungan tak penting atas perilakunya, Mrs. Ruis datang dengan tergopoh, ganti memandang mereka berdua dengan bingung dan salah tingkah.

“Er …, kalian baik-baik saja?”

Yeah,” sambar Peter, mengangguk mantap tanpa menatap balik Layla yang memicingkan mata tajam.

“Oke.” Mrs. Ruis mengangkat bahu. “Omong-omong, perwakilan kompetisi seni kita hanya ada kalian. Oh, kalian tidak perlu datang ke Dominicus kecuali saat penjurian. Tapi, Layla, seperti perwakilan bidang Matematika yang lain, kau perlu ke Dominicus dengan Mr. Faber, yang akan mendampingi tim Akademik.”

Layla mengangguk.

“Nah, bagaimana persiapan kalian, kalau begitu?” tanya Mrs. Ruis, menatap mereka bergantian.

Peter refleks bertukar pandangan dengan Layla, tapi buru-buru mengalihkannya.

“Aku sudah ke bukit,” mulai Peter, mengabaikan kilasan tentang Alan dan masa kecilnya. “Mungkin akan melukis itu.”

“Layla?”

Gadis itu terdiam cukup lama dan, ketika Peter menoleh, tertunduk dalam-dalam. Mrs. Ruis yang penasaran mencondongkan tubuh untuk melihat keadaannya, hingga tahu-tahu kedua bahu Layla naik-turun gemetar.

“Kau menangis?” tanya Peter, heran sekaligus terkejut.

“Diam!” hardik Layla. “Aku tidak tahu harus melukis apa!”

“Temanya kan sudah jelas, lanskap—”

“Iya, tapi apa?!” bentak gadis itu, mengangkat kepalanya. Kedua mata hitam itu memandang Peter: rasa frustrasi dan kecewa bergelimang dengan air matanya. “Aku paling kesulitan menggambar lanskap ….”

Sedikit-banyak, Peter bisa mengerti itu, meskipun dalam kasusnya keenggananlah yang lebih sering menghambat kreativitasnya, bukan kemampuan. Tapi entah mengapa Peter tak ingin banyak bersimpati pada gadis itu, jadi ia tidak menanggapi keluh kesahnya.

“Peter.” Tiba-tiba Mrs. Ruis menyela. “Bisakah kau membantunya?”

Tidak.”

Tentu saja tidak. Peter melemparkan tatapan mencela pada gurunya itu. “Kenapa tidak kau saja? Kau kan gurunya.”

Mrs. Ruis tersenyum sedih. “Aku hanya koordinator.”

“Aku yakin Mr. Lange bisa membantu—”

“Tidak, tidak, tidak!” potong Layla, menatap Peter tak habis pikir. “Kau serius?”

Mr. Lange adalah pria ceking yang pucat dan banyak tingkah, selalu mengenakan overall beige andalannya plus topi baret hijau. Padu-padan bajunya memang tidak rukun, tapi dia selalu menyebutnya ‘seni’. Ia memang guru Seni, tapi lebih menguasai seni teater dan seni tari. Guru Seni lain adalah Mr. Boswel, tapi ia lebih tak bisa diharapkan.

“Yah—” Peter kehabisan kata-kata. Rasa panik tiba-tiba merambat ke tengkuknya. “Belajarlah sendiri! Memangnya aku ini apa, tutor seni? Kalau tak bisa melukis, mundur saja!”

Sebelum mendengar ada bantahan, Peter menyerbu keluar ruangan.

Lihat selengkapnya