Malam itu Dirk tak sempat mengajak Peter bicara empat mata, karena Kiera Haag keburu datang bersama teman-temannya.
“Kita bahas nanti,” ujar Dirk.
“Sungguh tak sabar,” sahut Peter sarkastis, lalu membiarkan Kiera menggandengnya pergi.
Sesungguhnya ia tidak benar-benar antusias menyambut malam ini. Pikirannya masih tertuju pada lukisannya yang belum selesai, dan jika Peter mau mengingat, sebenarnya janji temunya dengan Kiera bahkan tak dicetuskannya. Tapi mereka telanjur di sana, meniti langkah menuju pasar malam yang ramai.
Kiera Haag mengenakan gaun selutut, dengan sebuah kardigan cokelat yang menutupi sebagian badan atasnya. Rambutnya dia biarkan berkibar diterpa angin, mengantarkan harum manis yang menggelitik indra penciuman Peter.
“Kau mau memenangkan boneka itu?” tanya Kiera, menunjuk sebuah boneka beruang yang terpampang sebagai hadiah di salah satu kios permainan.
Tembak-tembakan, memang. Tapi kadang para penjaga kios ini suka bermain curang.
“Kupikir kita mau ke rumah hantu dulu?” tanya Peter mengalihkan. “Akan merepotkan jika ke sana dengan membawa boneka sebesar itu, kan?”
Usul itu tampak membuat Kiera senang, karena gadis itu mengangguk-angguk dan nyaris menyeret Peter ke wahana rumah hantu.
Sepanjang perjalanan yang tak jauh, Peter bertanya-tanya apakah David, kakak Marcel yang langganan menjadi hantu, memang sungguhan menaikkan tingkat keseraman wahananya. Apakah dia tetap menjadi monster labu? Membayangkannya malah membuat Peter terkekeh dalam hati alih-alih ketakutan.
“Omong-omong, ada apa dengan kalian saat di kafetaria kemarin?” tanya Kiera tiba-tiba. Peter menoleh dan menemukan matanya yang penasaran, bibirnya yang mencebik menggemaskan.
Oh, yang benar saja.
“Dirk hanya bodoh saja.” Peter mengangkat bahu tak mempersoalkan.
“Begitukah?” Kiera mengangguk pelan di sebelahnya. “Kupikir temanmu itu memang agak dungu.”
Peter tak menduga akan mendengar penilaian macam itu, terlebih dari Kiera, maka ia tertawa. “Kau pikir begitu?”
“Ya,” kata Kiera memperjelas. “Kerjaannya hanya mengomentari orang, atau terpana tiap melihat gadis mana pun lewat di depannya. Aku sempat heran mengapa kau mau menyibukkan diri dengan orang macam itu.”
Nah, komentar terakhir itu menyinggungnya.
“Maksudmu?” tanya Peter defensif.
Kiera barangkali menyadari ini, jadi ia menoleh dan menatapnya bersalah. “Maaf, maksudku …, kupikir kau lebih cerdas dari gerombolan yang kau sebut teman itu.”
Pikirnya, Kiera adalah tipikal gadis yang suka bicara tanpa berpikir. Berisik saja, hanya karena paras dan penampilannya memang menarik. Ia tak tahu gadis itu bisa berpendapat seperti ini—meskipun tak bertempat.
“Kau perwakilan sekolah untuk kompetisi melukis, kan?”
Pikirnya, gadis itu tak bisa mengejutkannya lagi.
“Bagaimana kau tahu?”
Kiera tersenyum. “Aku tahu.”
Mereka sudah tiba di pintu rumah hantu, tapi pikiran Peter berkelana. Matanya memandangi Kiera, dengan kedua alis bertaut, mencari-cari informasi yang ia pikir diketahuinya hanya dengan melihat yang bisa dilihat saja. Ia memang tidak mencari tahu apa-apa tentang Kiera Haag. Apakah selama ini ia telah salah memberikan penilaian?
Rasanya ada sesal yang terbenam di dadanya, terlebih ketika ia tahu bahwa—merefleksikan pendapat Kiera—ia lebih mendengarkan celetukan asal teman-temannya daripada mencari tahu sendiri.
“Kita mau masuk?” Gadis itu bertanya, dan Peter menatap bibirnya yang bicara.
Lalu hanya sebentar, hanya sepersekian detik, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
“Ya.” Peter akhirnya bersuara, meski terdengar melamun. Sebuah senyum diulaskannya dengan tak yakin. “Ayo, masuk.”
*
Entah karena sogokan Dirk atau Marcel, tapi David sudah mengganti kostumnya. Pria bertubuh besar itu terbungkus overall butut yang sobek-sobek dan topi fedora penuh tambalan. Beberapa kepal jerami menyembul dari segala di tubuhnya. Wajahnya dirias hingga pucat; hanya selengkung garis di bibirnya yang tampak berwarna, merah panjang dari telinga ke telinga.
Barangkali, memang karena sogokan Dirk atau Marcel, hingga David memberi tahu teman-teman hantunya untuk muncul dengan lebih heboh dan menegangkan, membuat pengalaman rumah hantu kali itu sedikit lebih ingar daripada tahun kemarin.
Meskipun Peter sama sekali tidak takut, Kiera tidak berbohong ketika berbisik padanya di kafetaria waktu itu. Dia sangat penakut, dan mudah melompat. Namun, alih-alih turut terkejut, reaksinya justru membuat Peter terpingkal-pingkal.
“Hentikan!” Kiera memukul-mukul lengannya, setelah mereka melewati pintu keluar.
Tubuh Peter masih berguncang oleh tawa—tawa yang begitu puas, hingga tak bersuara.
“Peter!” Kiera memukulnya lagi lebih keras.
“Maaf!” seru Peter tanpa terlihat menyesal. “Yang barusan itu bodoh sekali ….”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Tidak, tidak.” Peter mulai menguasai diri. “Maksudku, kunjungan barusan itu.”
“Aku, kan, sudah bilang kalau aku penakut!” Kiera mengayunkan tangan lagi untuk memukulnya, tapi Peter tangkas menangkapnya.