Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #6

Lima

Nenek Peter selalu punya cara yang aneh untuk mengungkapkan kerinduan. Wanita 70 tahun itu sudah tinggal sendirian sejak lama, di kota yang letaknya 2,5 jam dari tempat tinggal keluarga Peter. Esther dulu pernah bilang bahwa Nenek memang sengaja ditinggalkan sendiri oleh ayah dan kakek Peter, karena sebuah episode tantrum yang keterlaluan (Peter tidak tahu apa). Bahkan, Kakek baru kembali padanya ketika mereka telah berpisah selama 10 tahun. Ayahnya sendiri tidak pernah banyak bicara tentang Nenek.

Akan tetapi sore itu Peter menemukan sebuah kardus besar di atas keset depan pintunya. Dan, begitulah: isinya obat-obatan tidak jelas berikut perkakas kebun yang sudah berkarat. Itu tandanya, Nenek ingin dikunjungi. Maka, karena Peter satu-satunya cucunya yang bisa berkunjung, ayah Peter mengutusnya ke Bai Limena, kota tempat tinggal Nenek.

“Halo, Nek.”

Peter tidak merentangkan tangan, atau menghambur memeluk neneknya, karena itu tidaklah natural. Nenek Peter duduk di kursi sofanya yang kempes. Pandangannya selalu menghakimi, dengan dagu terangkat seolah malas menghiraukan siapa pun. Nenek selalu memakai riasan yang mencolok—kini matanya dipoles warna ungu periwinkle dan bibirnya merah membara mengilap. Maskara seolah dapat menetes dari ujung-ujung bulu matanya. Rambutnya sudah putih seluruhnya; menjadi ikon mode, alih-alih membuatnya terlihat tua. Kecantikan yang angkuh masih terbayang di wajahnya, meski berbayang pulasan usia.

“Julius dapat pesanku?” tanya Nenek.

Peter mengangguk, lalu berjalan lebih jauh memasuki rumah. Ia tidak membawa banyak barang, karena hanya akan menginap selama akhir pekan saja. Nenek lagi pula tidak suka dikunjungi lama-lama.

Keesokan harinya, ketika petang, setelah sebelumnya mereka hanya sibuk menghabiskan waktu di depan televisi tanpa bercakap-cakap sama sekali, Nenek akhirnya bicara lagi.

“Kakakmu sudah minggat?”

“Esther tidak minggat, Nek.” Peter mendengus terhibur. “Ia tinggal di Balmoral.”

“Sudah berapa lama dia di Balmoral terus, hah?” Nenek berdecak. “Dunia sudah gila. Kau harus siap-siap, Nak: cepat atau lambat, hanya dirimu sendiri yang bisa kau andalkan.”

“Tentu, Nek.”

“Oh, kau tahu apa lagi pula!”

Peter hanya tersenyum maklum. Kunjungan ke rumah Nenek berarti wejangan yang tak habis-habis (seperti seharusnya), sindiran di sana-sini tentang kesalahan yang dilakukan ayah dan ibunya, atau hal-hal terbaik yang bisa saja terjadi jikalau tidak ada ini dan itu. Banyak hal. Tapi tak ada pasokan makanan berlimpah, atau kecupan hangat di pipi, atau bertubi-tubi hadiah macam sweter norak atau gantungan kunci buatan tangan. Nenek hanya membutuhkannya sebagai tempat sampah keluhannya. Lapar? Hangatkan makananmu sendiri dari freezer, itu pun kalau masih ada sisa. Jika tidak ada, keluar saja dan berjalanlah jauh untuk ke toko terdekat, atau ketuklah pintu tetangga untuk minta sedikit camilan. Nenek hanya menyediakan satu porsi makanan untuk dirinya saja, tak menginginkan orang selain dirinya di rumah itu.

“Kenapa kakakmu tidak datang-datang?” tanya Nenek tiba-tiba, ketika mereka sedang makan malam di depan televisi. Peter sengaja membawa bekal dari rumah untuk dua hari.

“Dia mungkin masih sibuk,” jawab Peter, tak menghiraukan.

“Memang sudah seharusnya begitu.”

Nenek beranjak ke ruang tamu. Terdengar bunyi grasak-grusuk yang agak mengkhawatirkan sehingga Peter menaruh piringnya ke atas meja, menegakkan tubuh dan siap menyusul ketika Nenek muncul lagi dengan sebuah album foto di genggaman. Peter tidak jua heran, karena Nenek memang tidak jarang menunjukkan memento-memento dari tahun-tahun kehidupannya yang telah lalu.

“Kau adalah kesayangannya,” sahut Nenek, melemparkan album itu ke pangkuan Peter.

Peter mengangsurkan senyum getir, tapi tak menahan diri untuk membuka-buka album foto itu. Nenek belum pernah memperlihatkan album foto itu. Hanya ada satu foto pada setiap halaman; fotonya, dengan keterangan usianya. Peter usia 3 bulan, Peter usia 1 tahun, Peter usia 2 tahun ….

“Ayah yang memberikan ini pada Nenek?” tanya Peter, tergelak geli.

Nenek hanya mendengus. Jemari Peter membolak-balik halaman lagi. Peter usia 6 tahun, Peter usia 7 tahun ….

Peter usia 8 tahun (dan teman-temannya).

Tangannya terpaku.

“Kenapa dia ….”

Kenapa dia ada di sini?

Sebuah tangan tak kasatmata mencengkeram ulu hatinya. Betapapun suara-suara di kepalanya riuh memerintahkan untuk membanting-tutup album foto itu, seluruh tubuhnya gigil membeku. Matanya terpaku begitu saja, tak bisa berpaling, tak bisa berkedip—hanya lurus memandang gambar itu.

Sudah berapa lama sejak wajah itu terakhir dilihatnya?

Sudah berapa lama sejak mereka bertiga sama-sama?

Buk!

Album foto di tangan Peter sudah tertutup rapat, direnggut paksa oleh Nenek. Peter akhirnya bisa mengalihkan pandangan, bingung, waspada, tak terima—hingga tiba-tiba ia dikejutkan oleh tetes-tetes air mata yang membasahi pipinya.

Lihat selengkapnya