Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #7

Enam

Keheningan pagi itu digegerkan oleh suara klakson mobil yang panjang dan lama, seolah pengendaranya tertidur di atas kemudi, setelah sebelumnya menabrak sesuatu yang keras sekali. Tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan warga setelahnya, karena para bapak langsung bergegas keluar dan mencari tahu sumber keributan.

Masih mengenakan baju tidurnya, Peter menggosok matanya yang belum usai diselimuti kantuk, menyusul ayahnya yang sudah keluar rumah.

“Ada apa?” tanya Peter mengantuk.

Tapi ayahnya langsung merangsek masuk ke kerumunan, hilang di balik tubuh tinggi-tinggi para pria. Peter tak bisa mempertahankan kantuknya lebih lama dari itu, sehingga ia pun mengekor ayahnya dan menemukan penampakan yang … berantakan.

Peter mengenali mobil bobrok itu; dan setelah bagian belakangnya menabrak pohon hingga ringsek, mobil itu tampak tak lebih bagus dari barang rongsok. Tapi bukan mobil itu yang menarik perhatiannya, melainkan sosok yang terkulai di balik kemudi.

Alan.

Ayah Peter sudah sibuk bersama para pria lainnya, berusaha mengeluarkan anak lelaki itu dari impitan kursi mobil dan kemudinya. Alan tampak tak sadar diri; pipi kanannya mencium klakson mobil maka mempertahankan bunyi bising yang menggegerkan pagi. Dari posisi Peter berdiri, tak terlihat darah atau luka apa pun di wajahnya.

Entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya ayah Peter berhasil menarik Alan keluar dan menggotongnya bersama Mr. Van Buren. Peter tidak tahu kapan ambulans datang, atau seberapa jauh matahari sudah beranjak ke langit, tapi kemudian Alan dibawa masuk ambulans dan sosoknya hilang di balik pintu mobil yang tertutup.


*


Mrs. Ruis minta laporan soal perkembangan lukisannya, namun pikiran Peter bukanlah perihal Naporia dan air terjun Knife’s Edge berikut air jernih kehijauannya, bukan pula mengenai harum gulali peppermint yang belum ada resepnya.

“... bukit itu sore ini. Ya, kan, Peter?”

Layla mengguncang bahunya.

“Apa?!” sentak Peter. Ekspresi melamunnya seketika berubah jengkel.

“Kubilang, karena kau sudah menentukan objek lukisanmu, yang bukan bukit di belakang rumah, aku akan mengunjunginya sore ini dan mencoba melukisnya.”

Peter ingat, ia pernah cukup merelakan bukit itu untuk Layla, namun ketika gadis itu mengatakannya seperti sekarang—seolah dia punya hak penuh untuk datang ke sana dan melukis bukit beserta hantu-hantu kenangan yang tak bisa dilihatnya—Peter tak ingin memberinya kepuasan itu.

“Tidak,” ujarnya. “Kau tidak boleh melukis bukit itu.”

“Kau serius? Oh, Mrs. Ruis, yang benar saja!” Layla melempar kedua tangannya di udara, kentara amat frustrasi. “Kau bahkan tidak melukisnya!”

“Lalu?” tukas Peter tak acuh.

“Masa bodoh denganmu! Aku tetap akan ke sana.”

Layla menyambar tasnya dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Peter bersama Mrs. Ruis. Curiga dengan percakapan tak menyenangkan yang akan diusung gurunya, Peter turut bangkit.

“Peter.” Mrs. Ruis menarik tangannya. “Kau mau duduk dulu sebentar?”

“Tidak.”

Mrs. Ruis tersenyum simpatik—dan itu cukup bagi Peter untuk merasa amat geram sehingga ia mencampakkan tangan sang guru keras-keras.

“Lepaskan aku!”

“Peter, dengar ….” Mrs. Ruis mengembuskan napas panjang. “Kakak Alan ditemukan tewas di tempatnya bekerja, pagi tadi.”

Berita itu mengejutkan si anak lelaki. Kemarahannya menguap seketika; tubuhnya tiba-tiba lemas sehingga ia duduk berdebum begitu saja di atas kursi.

Ravenna. Peter baru saja melihatnya dua hari yang lalu.

“Bagaimana …?”

“Dia pergi dengan tenang.”

“Apa maksudnya, ‘pergi dengan tenang’?”

“Peter,” Mrs. Ruis melanjutkan, “benturan di kepala Alan tidak terlalu parah, sehingga besok dia sudah bisa pulang. Ibunya masih belum memahami apa yang terjadi—kau tahu soal ibunya, kan?”

Ibu Alan suka mencampur smoothies dengan alkohol, lalu larut lama-lama di dalamnya.

“Ya.”

Lihat selengkapnya