Pemakaman Ravenna berlangsung sepi.
Ketika usianya lima belas, selalu ada wajah-wajah ceria dan sosok-sosok menakjubkan yang mengitarinya, seolah tak ingin terlihat lama-lama tanpanya. Tapi kini Peter hanya melihat Alan, Mr. dan Mrs. Pedersen, ayah Peter, beberapa tetangga mereka, pastor, Mrs. Ruis, Layla, dan beberapa orang lain yang mungkin teman Ravenna. Pemakaman memang seharusnya bersifat muram, tapi keluarga Alan selalu tampak muram, dan semestinya Mr. dan Mrs. Pedersen bisa memperlihatkan kemuraman yang jauh lebih muram pada pemakaman putrinya, bukan?
Hanya Alan yang terlihat menderita.
Keputusan Peter untuk duduk di samping Alan, mengejutkan ayahnya. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Peter hanya memberi tahu ayahnya bahwa “Aku menengok Alan di rumah sakit”, namun tidak membahasnya lebih jauh. Ayahnya tahu lebih baik daripada memancing pembicaraan darinya. Lalu malam kemarin Peter memberi tahu lagi, “Aku akan menemani Alan di pemakaman kakaknya,” dan ayahnya tidak berkata-kata lagi.
Semua temannya pasti akan bertanya-tanya mengapa Peter tidak hadir di sekolah hari itu, tapi itu urusan lain.
Prosesi pemakaman selesai. Hanya Alan dan Peter yang tertinggal di sana. Mereka masih duduk, menghadap peti Ravenna, diam seribu bahasa. Setidaknya begitu, ketika Alan lalu bersuara—begitu sendu dan kalah, atau merana, seperti seharusnya.
“Aku tahu kakakku tidak bahagia, dan mungkin … aku tidak cukup menjadi alasan untuk membuatnya tinggal.”
Peter menggeleng tak tampak. Begitulah: Alan dan segala belas kasihannya pada diri sendiri.
“Maka dari itu, kupikir aku bisa lari saja dari sini, tapi bahkan melarikan diri pun aku tidak becus ….”
“Hentikan, Alan,” gertak Peter. “Aku tidak ke sini untuk mendengar keluh-kesahmu yang cengeng begini.”
“Aku tidak bisa menjadi sepertimu, Peter.”
“Tak ada yang memintamu menjadi sepertiku.”
Alan menggelengkan kepala.
“Aku tahu kita tidak perlu membicarakannya,” ujarnya lirih. “Tapi yang ada di benakku hanya itu. Selama delapan tahun. Hanya itu.”
Sesuatu seolah mencengkeram jantungnya, maka Peter memejamkan mata erat-erat. Ia tahu bahwa keputusannya untuk menemani Alan akan berujung pada topik ini—yang tak mau diingatnya, tak mau diakuinya, tak mau diketahuinya. Namun barangkali Peter Usia Delapan Tahun masih membayang-bayangi tindak-tanduknya jika berkaitan dengan Alan.
Keluarga Alan tidak sempurna, setidaknya Peter tahu itu. Mereka dulu selalu bermain di luar rumah, tapi ketika sempat mengunjungi rumah Alan, Peter panik melihat ibu Alan yang tergolek “pulas” di atas meja makan, di depan blender yang masih setengah penuh, mengigau-ngigau. Alan bilang, “Mama memang suka minum jus lalu tidur lama sekali.”
Papa Alan beda lagi. Tak ada yang baik dari kehadirannya—bahkan auranya pun tidak menyenangkan. Sejak dulu, Peter tak pernah mau dekat-dekat dengan Papa Alan; mengidentikkan berpapasan langsung dengannya sama dengan bertatap-muka dengan Medusa. Alan sendiri bilang bahwa papanya “jahat”, dan ketika Peter menanyakan maksudnya dengan jahat, Alan hanya menjelaskan, “Kalau ada Papa, rumahku jadi neraka.”
Mau tidak mau, Peter memahami itu.
Bahkan di usianya yang masih delapan tahun, sedikit-banyak informasi sepotong-sepotong itu telah dipahaminya dengan baik sehingga ia dapat memetik makna keji di balik kata-kata Alan tentang keluarganya.
Tak ada yang baik dari keluarganya.
Alan telah terpuruk bertahun-tahun, dan Peter amat sangat benci melihatnya begitu. Peter tahu bahwa Alan jauh lebih rentan dengan tragedi delapan tahun lalu, tetapi selama ini ia tidak mau tahu. Ia memilih jalan memutar untuk tidak mengindahkan kejadian itu, dan buktinya ia kini baik-baik saja. Bukankah mudah begitu saja?
Tiap kali mendengar berita duka, Peter berpendapat bahwa sebaiknya seluruh cuaca dan langit dicat mendung saja, hujan-petir sekalian, sehingga para orang yang berduka dapat berduka sehabis-habisnya pada hari itu saja. Menangis sejadi-jadinya. Meraung sekeras-kerasnya. Tapi kemudian biarkanlah matahari esok hari menyongsong langit dengan begitu terang; cahayanya melampaui gumpalan awan, lalu langit disiram segala warna yang menyenangkan agar duka itu tertanam bersama rintik hujan yang hilang dalam tanah. Maka semuanya akan baik-baik saja.
“Mengapa kau tak bisa langsung lupa?” tanya Peter, menoleh pada Alan. Nada menuduh entah bagaimana terkuar begitu saja dari perkataannya. “Lebih mudah begitu, kau tahu?”
Alan menggeleng lemah. “Aku tidak bisa ….”
“Kalau begitu, setidaknya berhentilah memperlihatkan penderitaanmu pada seluruh dunia. Kami tahu kau menderita. Aku tahu kau menderita. Lakukanlah sesuatu dengan itu.”
“Mudah bagimu untuk berkata begitu,” gumam Alan, tapi Peter mendengarnya dan tersinggung.
“Apa maksudmu?”
Alan menggeleng lagi. “Lupakan.”
Sesuatu bergejolak di perut Peter, menguapkan sulur-sulur panas yang merambat ke tengkuknya, memberatkan napasnya. Ia mengerti maksud Alan, tapi tidak adil bagi Alan untuk berkata bahwa rasa kehilangan itu lebih mudah diatasi Peter, karena apa yang diketahuinya?
“Jangan berani-berani bilang bahwa kau lebih kehilangannya.”
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya … kau tahu kini aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi.” Alan serta-merta menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangan. Bahunya naik-turun lagi, dengan napas pendek-pendek yang berangsur menjadi isakan.
“Air matamu tidak habis-habis, ya?”
Peter turut mengembuskan napas panjang, menopang dagu dengan kedua tangan. Secarik daun mendarat di atas peti Ravenna, dan Peter bertanya-tanya tentang peti matinya sendiri. Siapa yang akan datang ke pemakamannya? Bagaimanakah proses kematiannya? Apakah sakit? Apakah semudah terlelap? Ke manakah ia selanjutnya akan berada?
“Menurutmu … dia masih hidup?” cicit Alan.
Di manakah dia sekarang berada?
Peter tidak tahu, dan berbongkah rasa bersalah menimpanya ketika menyadari bahwa harapannya sudah lama padam.
*
“Siapa yang tidak mau mati di tempat kumuh seperti itu?” celetuk Dirk, tertawa-tawa dengan Marcel.
“Sayang sekali, padahal aku suka pergi ke tempat es krim itu hanya untuk melihat Ravenna.”
“Kau tidak lihat Kristie, manajernya? Tapi kalau kau memang suka mata-mata sayu tukang sakau seperti itu, sih ….”
“Hei!” Marcel meninju bahu Dirk, namun langsung berpaling pada Peter. “Tapi benar, tidak? Ravenna pakai narkoba?”
“Kita tidak boleh menjelekkan orang yang sudah meninggal ….” Laurens mengingatkan.
“Oh, diamlah, Laurens. Bagaimana dengan pacarmu, si Jozef yang mulutnya rombeng itu?” tuduh Dirk.
Peter berkedip terkejut. “Kau suka laki-laki?”
“Tidak,” ujar Laurens, melayangkan tatapan mengancam pada Dirk. “Aku menyukai Daisy, tapi Dirk dan Jozef juga menyukainya.”
“Siapa yang tidak suka dengan cewek jagoan yang menyiram Pedersen dengan asinan pedas!” Dirk tertawa-tawa bangga. “Aku suka gadis-gadis beringas seperti itu.”
“Kau menjijikkan,” cela Peter.
“Oh, diamlah!” Dirk mengalungkan lengan ke bahunya. “Omong-omong, kau sudah sampai mana dengan Kiera?”
“Memang aku akan memberitahumu?”
“Oh!”
“Oh!”
Dirk dan Marcel berseru bersamaan, memegang dada mereka seolah telah ditembak. Laurens hanya memutar mata.