Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #9

Delapan

“Mana Alan?”

“Oh, tadi ibunya bilang, dia sedang pilek.”

“Hmmm …. Seharusnya, kamu jangan percaya pada ibunya.”

“Memang kenapa?” tanya Peter, mengernyit defensif. “Menurutmu, Mrs. Pedersen berbohong?”

Ruby hanya mengangkat bahu.

Musim panas sudah selesai. Ini adalah hari pertama mereka kembali ke sekolah. Peter memang tidak sabar untuk memulai hari di sekolah barunya, tapi dadanya senantiasa berdesir oleh kekhawatiran wajar yang membuatnya tidak tenang. Anak-anak di sini sudah saling mengenal sejak TK, sementara Peter adalah pendatang baru. Jika tidak ada Ruby dan Alan, mungkin ia sudah kelimpungan.

“Hei,” sahut Peter. “Kau bekal apa hari ini?”

Ruby merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus wafer cokelat.

“Haaah? Memang kenyang?”

“Kenyang, kok!” sahut Ruby ceria. “Memang biasanya bekalku begini. Oh, besok sepertinya aku akan bekal jeruk.”

“Hmmm ….”

Meski Peter yakin Ruby tidak akan kenyang hanya makan sebungkus wafer cokelat, kekhawatirannya lenyap bersamaan dengan setengah hari pertamanya yang berjalan semulus pantat bayi. Anak-anak di sana menyambutnya dengan hangat, bertanya rebutan tentang tempat tinggal lamanya di “Balmoral yang keren itu”, dan banyak hal lainnya. Peter bahkan mengantongi banyak nama: Dirk, Marcel, Laurens, Zeke, Jozef …, siapa lagi, ya?

“Ruby!”

Pada jam istirahat, Peter sudah berniat untuk menghampiri Ruby dan berbagi bekalnya, tapi gadis itu melesat cepat sekali keluar kelas. Peter hendak menyusulnya, namun Dirk mencegahnya.

“Kau kenal dengannya?” tanya Dirk.

“Tentu saja. Dia temanku. Alan juga, tapi tidak masuk hari ini, katanya pilek.”

Dirk mengedarkan pandangan meremehkan pada teman-teman yang lain.

“Anak itu bau!” kata Dirk.

“Iiihhh ….”

“Tidak, kok! Ruby suka menanam bunga.”

“Bajunya juga jelek!” tambah Jozef. “Kalau kau perhatikan, mungkin dia cuma punya dua gaun. Kotor-kotor, lagi!”

“Dia juga kurapan!”

“Iiihhh ….”

“Kalau Alan, dia agak dungu.”

“Ya, ya! Mereka juga suka memungut makanan sisa di kafetaria karena tidak pernah dibawakan bekal.”

“Iiihhh ….”

“Menjijikkan!”

“Hmmm …. Ya sudah, aku mau ke kamar mandi saja, kalau begitu!” putus Peter, buru-buru keluar dari kelasnya.

Setelah mencari-cari, jauh di samping ruang peralatan di belakang lapangan sekolah, Peter menemukan Ruby yang tengah bersandar pada dinding, menggigit wafernya sedikit-sedikit.

“Ruby!” panggil Peter, mendudukkan diri di sampingnya. Ia mengeluarkan sebuah cupcake dan sepotong roti lapis isi keju, mengulurkannya pada gadis itu. “Pilih salah satu!”

Ruby memandangnya tak yakin.

“Besok, aku akan minta Ayah untuk membekaliku banyak makanan, biar kita bertiga bisa makan sama-sama di sini.”

Ruby tersenyum lebar sekali. “Oke, Peter!”

Namun, keesokan harinya, hanya Alan yang berjalan bersamanya ke sekolah, sementara Ruby tidak ada. Padahal, Ayah sudah menyiapkan bekal yang banyak sekali: tiga sandwich, beragam buah, wafer-wafer, berpotong-potong keju, dan … apa lagi, ya? Semuanya dimasukkan dengan rapi ke dalam keranjang bekalnya yang terbuat dari anyaman.

“Mana Ruby?” tanya Peter agak kesal.

Alan hanya mengangkat bahu seolah Peter sudah tahu sendiri jawabannya. Lalu, Alan malah balik bertanya.

“Kau tahu kenapa anak-anak yang lain tidak suka padaku dan Ruby?”

“M-Mereka tidak suka padamu dan Ruby?” Peter pura-pura terkejut. Sedikit rasa bersalah membercaki dahinya.

Alan mengangguk sedih. “Mmm hm. Mereka dulu pernah menyembunyikan sepatuku, sehingga aku harus pulang dengan kaki telanjang. Lalu, Papa memergoki kakiku.”

“Lalu?”

Alan mengangkat bahu. “Esok harinya, aku pergi dengan kaki telanjang lagi. Hanya saja, sambil terpincang-pincang.”

“Kenapa terpincang-pincang?”

“Papa memukuli telapak kakiku dengan kawat.”

“Aduh!”

“Karena aku menghilangkan sepatuku.”

“Siapa yang menyembunyikan sepatumu?”

Alan menggeleng-geleng.

“Bilang saja, biar kuhajar!”

“Ah, biar saja. Sepatuku juga, kan, tetap hilang.”

Peter menggembungkan pipi. Hidungnya kembang-kempis.

“Ruby juga sering dijaili, tahu. Anak laki-laki lebih sering mengganggunya, dulu.”

“Dulu?”

“Mmm hm. Dulu, gaun Ruby bermacam-macam.”

“Oooh …!” Peter membayangkan. Ruby pasti senang berputar-putar memamerkan rok gaunnya yang bergelombang.

Lihat selengkapnya