Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #10

Sembilan

Lukisan Naporia teronggok begitu saja di sudut kamarnya, tak lagi dilihatnya setelah entah berapa lama. Kali ini Peter seolah tidak mengenal perasaan-perasaan yang mendorongnya menggoreskan gambar itu, tidak mengenal alasan untuk menyelesaikannya. Musim gugur pun sudah menjelang, sementara Naporia adalah musim panas dan segala yang terang benderang.

Ayah Peter tidak bertanya tentang keabsenannya bermain keluar seperti biasa, atau perubahan frekuensi bicaranya yang kian hari kian minim.

Tok, tok, tok!

Pintunya diketuk. Peter menurunkan volume radionya dan membukakan pintu.

“Seseorang menunggumu,” kata ayahnya, tersenyum. “Perempuan.”

Sialan.

“Aku akan segera keluar.” Peter kembali menutup pintu dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.

Kiera adalah hal terakhir yang dipikirkannya. Peter tidak tahu—tidak sempat memikirkan—apa yang harus dilakukannya dengan gadis itu, dengan mereka berdua. Suatu hari Kiera sungguhan membuatnya senang, namun hari-hari lain tak ada sama sekali sekilas bayangan gadis itu yang tebersit di benaknya. Dan Peter cukup merasa tak nyaman lantaran hubungan mereka tampaknya lebih berarti bagi gadis itu daripada baginya.

Di beranda rumahnya, Peter memandangi punggung Kiera yang tertutup geraian rambut cokelatnya yang dikepang sebagian. Gadis itu mengenakan sweter wol merah yang hangat, dengan rok panjang cokelat.

“Hei.” Peter tersenyum setengah hati, duduk di hadapannya.

“Hai.” Kiera membalas senyumnya, dengan lebih tulus. “Kau baik-baik saja?”

Peter mengangkat bahu. “Sepertinya begitu.”

Kiera mengangguk. Peter menduga, gadis itu masih penasaran dengan kejadian baku hantam tempo hari. Dirk, Marcel, dan Laurens berkali-kali pula menyambangi rumahnya, tapi Peter bersikeras tak ingin menemui mereka. Ia tidak tahu siapa dirinya di antara anak-anak itu.

“Jadi …,” Kiera memulai, “kau mau memberitahuku sesuatu?”

“Tentang?”

“Entahlah. Apa pun itu.”

Peter memandang Kiera dengan ragu. Gadis itu tampak lebih hangat dan polos dengan padu-padan warna serta penampilan yang dipilihnya kali ini. Peter tahu Kiera tulus memedulikannya, dan tidak ingin mengorek hanya untuk mengumbarnya lagi di depan umum, tapi ….

Ia juga tidak tahu siapa dirinya di hadapan Kiera.

“Kau gadis yang baik—”

“Oh, tidak, tidak, jangan memulai dengan kalimat itu.” Kiera tersentak dari tempat duduknya, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Kau tidak bicara padaku, Peter!”

Itu memang benar, dan Peter tidak akan menyangkal. Ia hanya menunduk.

Kiera mengembuskan napas kasar. “Apakah kau menyukaiku?”

“Sepertinya?”

Apa?

“Sepertinya,” ulang Peter, tak yakin. “Aku tidak tahu.”

“Aku tidak memahamimu!”

“Apa yang kita lakukan?”

“Apa yang kita lakukan?” tuduh Kiera, kembali duduk dan mencondongkan tubuh padanya. “Apa, Peter, yang sudah kita lakukan? Oh, kuharap kita melakukan sesuatu. Kau bahkan tidak menganggapku ada!”

Peter memijat pelipisnya. “Maafkan aku, Kiera.”

Lihat selengkapnya