Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #11

Sepuluh

“Alan, Alan! Kenapa mamamu tidur terus?!”

“Kalau bangun, Mama pasti bengong, lalu menangis tersedu-sedu. Akhirnya, pasti tidur lagi.”


Selama perjalanan yang tak jauh itu, Layla mewartakan bahwa ia sudah bertugas membawakan buku-buku dan makanan untuk Alan—awalnya. Sebelum Layla tahu bahwa Mama Alan ternyata tidak mau melakukan apa-apa selain tergeletak di atas sofa.

“Mrs. Ruis sudah melakukan kunjungan,” kata Layla, “dan itu setidaknya mampu membuat Alan kembali berdiri dan mau mengurus dirinya sendiri—mandi, makan, dan lain-lain. Alan masih belum mau bersekolah, karena … kau tahu.” Layla mengembuskan napas panjang. “Sementara itu, aku sama sekali tidak pernah melihat ayahnya sejak pemakaman Ravenna.”

“Papa Alan adalah bajingan biadab yang harus terbakar di neraka,” celetuk Peter datar. “Tak heran jika dia ternyata kabur membawa uang asuransi Ravenna.”

“Apakah polisi perlu dilibatkan?”

“Dia memang sudah menjadi langganan penjara Arkala.” Peter mendengus. “Polisi juga bosan menangkapnya terus.”

“Hmm. Tapi ..., aku menyadari bahwa Mrs. Pedersen juga tidak responsif selama beberapa hari terakhir,” lanjut Layla. “Aku sudah menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi Alan menolak dan berkata bahwa ibunya memang begitu.”

“Mama Alan suka mencampur alkohol dan narkoba dalam gelas-gelas smoothies-nya,” sahut Peter, melayangkan tatapan meremehkan pada gadis itu. “Kejar ketertinggalanmu.”

Layla hanya mendelik.

Sebelum Peter mengambil jalan ke halaman belakang, Layla menarik lengannya dan mengembalikannya ke jalan menuju pintu depan. Peter mengempaskan tangan gadis itu dan berjalan mendahuluinya. Gagang pintu sudah siap dibukanya, sebelum tangannya tiba-tiba membeku beberapa inci di depannya.

Peter menatap tangannya yang tiba-tiba gemetar.

Ada apa ini?

Ketakutan apa ini?

Ia mengibas-ngibaskan tangannya seolah mencampakkan makhluk merayap tak kasatmata, mengelapkannya di kemeja, lalu berdeham dan bersiap untuk membuka pintu.

“Kau tahu pintunya terkunci, kan?”

“Apa?” Peter menoleh, nyaris lupa dengan keberadaan Layla. Ia kemudian berdeham lagi dan melangkah mundur. “Tentu saja aku tahu. Aku tidak bodoh.”

Layla memutar mata. Sakunya bergemerincing ketika gadis itu mengeluarkan kunci—yang kecil dan berkarat, tak terurus seperti rumahnya.

“Alan memberimu kuncinya?” tanya Peter, mengangkat sebelah alis.

Suara klik pintu menjadi jawabannya.

“Merunduk,” kata Layla.

Peter tidak mengerti dan tidak mendengarkan, sehingga kepalanya tahu-tahu menabrak dinding—atau setidaknya dipikirnya begitu—yang keras namun rapuh. “Dinding” itu berkelontang, cukup nyaring sebab suasana rumah yang hening, membuat nyeri di dahi Peter berdenyut-denyut bersamaan dengan telinganya yang sakit mendengar bunyi itu. Peter membungkuk dan berhasil melalui “dinding” itu, lalu berbalik dan menengadah.

“Apa-apaan ini?”

Di depan pintu rumah Alan membentang beberapa perabotan kayu yang ditumpuk hingga menjulang, mencapai langit-langit tembok. Perabotan itu seolah sengaja disusun untuk membuat dinding baru untuk menghalangi jalan utama menuju ke dalam rumah, dan hanya menyisakan lubang sempit untuk dilewati satu orang. Perabotan itu ditambal oleh potongan-potongan logam yang—setelah Peter lihat lebih dekat—ternyata adalah loyang persegi panjang yang pipih.

“Kreasi Mrs. Pedersen yang termutakhir,” ujar Layla. “Kata Alan, ibunya mulai sibuk ‘membentengi’ rumah setelah Ravenna meninggal.”

“Untuk apa?”

“Agar Mr. Pedersen tidak bisa masuk lagi.”

“Yah, Mama Alan tidak berhasil, kalau begitu.”

“Ya.” Layla mengangkat bahu. “Dia kembali ke sofa dan diam di sana seperti semula.”

Peter mengedarkan pandangan. Selain suasana rumah yang seratus kali lebih muram, tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan kali terakhirnya berkunjung ke sana. Ruang tamu Alan masih kusam oleh sofa-sofa kulit yang bolong-bolong; furniturnya kaya akan suara rayap beranak-pinak; lampu-lampunya menyala dengan sekarat; bau apak memenuhi seluruh sudut rumah.

“Aku dan Mrs. Ruis bantu merapikan sedikit,” ujar Layla, padahal tidak ada yang bertanya.

Peter tidak mengakui bahwa ia memang berekspektasi akan menemukan kekacaubalauan layaknya halaman belakang Alan waktu itu. Setidaknya, isi rumahnya jauh lebih baik.

Setelah berjalan masuk, mau tak mau kaset ingatan Peter berputar. Mama Alan dulu memiliki wajah yang rupawan, dengan rambut hitam ikal yang jatuh di dadanya. Hidungnya lancip, dan matanya biru terang seperti tak pernah mengedip. Ravenna juga punya paras seperti itu; hanya saja, rambutnya hitam masai sebahu. Papa Alan, di sisi lain, punya mata kelam dan wajah kotak yang tegas. Dahinya selalu mengerut; ujung-ujung bibirnya melengkung ke bawah. Rambutnya cokelat tua yang semrawut seperti jarang disisir. Sementara itu, Alan punya mata hitam yang khawatir. Gigi serinya masih besar-besar, dan pipinya gembil berbintik. Rambutnya hitam, semrawut seperti papanya, dengan ikal tanggung di ujung-ujungnya.

Lihat selengkapnya