Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #12

Sebelas

Balmoral adalah sebuah kota yang kabur. Tentu, cahaya warna-warni dari setiap lampu kendaraan dan lampu depan rumah akan selalu menempati barisan paling depan dalam ingatan, tetapi mengenai kesibukan dan segala seluk-beluk masyarakat yang berkutat di dalamnya, hanyalah asap perapian yang mengudara. Terang-benderang, ingar-bingar, lalu … apa?

Balmoral bersinonim dengan semua hal yang modern. Jika kau membicarakan kemutakhiran zaman, singgahlah di sana. Segala-gala yang ada dalam cerita fiksi atau televisi malam hari, bertempat di sana—minus mobil terbang. Sepertinya belum ada mobil terbang.

Lalu tentang orang-orangnya yang serba tak ingin tahu, mungkin itu pun benar adanya. Mereka terlalu sibuk berlalu-lalang untuk menoleh dan mengetahui apa yang salah. Tak akan ada yang sadar jikapun kau tendang tong sampah tetanggamu ke trotoar—atau anakmu—atau anak siapa saja yang kau temukan teronggok di pinggir jalan.

Tanpa dimaksudkan untuk berima dengan nama kotanya, orang-orang Balmoral sedikit-banyak tak bermoral.

Sebelum pagi hari yang cerah di ingatannya, sebelum tiba di rumah putih berpagar bunga yang kini ditinggalinya, Peter tinggal di Balmoral. Rumah-rumah tembok-batu itu adalah tempatnya bermukim, di antara orang-orang sibuk yang tak sempat tengok kanan-kiri. Mereka juga tak sadar ketika ia ditendang ke pinggir jalan, teronggok di sana.

“Diam di sini, dasar tidak tahu diuntung!” kata ibunya, mengempaskan Peter ke trotoar di depan rumah mereka yang abu-abu. 

“Ibu! Aku minta maaf!” Peter meraung dalam tangisan. Sebelah matanya yang bengkak hanya bisa melihat kelebatan rok panjang Ibu, yang berayun-ayun ketika dia naik kembali ke tangga rumah.

Dari balik pintu, Esther mengintip sambil terkikik. Ketika Ibu kembali sampai ke puncak tangga, Esther tampak berbisik seperti meminta sesuatu. Ibu mengangguk, sebelum menghilang ke dalam rumah. Esther kemudian menuruni tangga rumah dengan semangat, senyuman paling lebar terplester di wajahnya.

Ia menghampiri Peter dan berbisik dengan culas di telinganya, “Kau tidak pantas mendapatkan hukuman seringan ini, karena masih banyak hukuman yang lebih baik untuk anak-anak cengeng tak berguna sepertimu.”

Kata-kata itu nyaris membuat Peter kembali menangis, tetapi ditahannya. Sekuat tenaganya yang masih tersisa, ia berusaha lari menuju rumah, tapi Esther menariknya kuat-kuat kembali ke pinggir jalan.

“Aku tidak mau di luar!” tanya Peter terisak. “Biarkan aku dihukum di dalam saja!”

“Kalau kau mati, nanti Ibu yang disalahkan!” seru Esther. “Ibu bilang, lebih baik kau diurus oleh Mr. Rumbardh.”

“Tidak!”

“Anak-anak cengeng mati di tangannya.”

“Kau pembual!”

“Yah, seperti Ibu mau membuang uang untukmu saja,” cemooh Esther.

Wajah Peter sudah basah oleh air mata.

“Berdoa saja, ada yang minat memungutmu.” Esther menyeringai kejam.

Darah Peter membeku seperti tembok-tembok yang mengelilinginya.

“Jangan tinggalkan aku, Esther!” pinta Peter, menyambar lengan sweter wol Esther yang hangat.

Esther mendorong Peter hingga tersungkur di atas trotoar, menendangnya keras-keras, lalu berlari masuk rumah dan membanting pintu di belakangnya.

Setelah menggedor-gedor pintu tanpa hasil, Peter memutuskan untuk tetap duduk di depannya, menatapi jejeran rumah yang sama dengan rumahnya: tembok batu, abu-abu, tinggi, dengan anak-anak tangga naik yang mengantar ke depan pintu. Sirene ambulans atau mobil polisi terngiang-ngiang di telinganya.

Hujan baru selesai, dan ia kedinginan.


*


Peter membuka mata. Tubuhnya bergelimang debu dan polusi kota, tetapi sesuatu yang hangat menghinggapinya. Jemarinya yang terasa beku terulur, mengangkat selembar selimut rajut yang bersih.

“Ibu?” Peter bergumam serak.

“Ayah.”

Sebuah tangan besar mengusap kepalanya yang dingin.

Memang benar. Itu Ayah. Peter ingat, Ayah tersenyum hangat padanya. Peter juga ingat, Ayah tidak pernah memarahinya dan akan selalu membelanya. Peter ingat, bagaimanapun juga, Ayah kembali untuknya.

Maka Peter tersenyum, membiarkan kedua lengan Ayah yang kuat menariknya dalam pelukan. Di dadanya, Peter menenggelamkan hidung kecilnya yang beku.

“Ayah.”

Peter kembali terlelap, hingga terbangun di dalam mobil trail yang menggerung memecahkan keheningan malam. Di kanan-kirinya tak ada kerlap-kerlip lampu kota yang gemerlap. Pendengarannya pun tidak mendengar lolongan sirene atau klakson mobil yang tak sabaran. Tetapi, di balik kemudi ada Ayah.

“Kita mau ke mana?”

“Ibu dan Esther memutuskan untuk tinggal di Balmoral dulu. Kau tahu ibumu sibuk dan sulit meninggalkan pekerjaannya, kan? Jadi, kau akan tinggal sementara denganku.” Ayahnya menjelaskan.

Peter terdiam. Ia sedang tidak suka dengan ibu dan kakaknya, jadi keputusan itu terdengar sangat menyenangkan.

Lihat selengkapnya