Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #13

Dua Belas

“Kenapa sekarang, Peter?” desak Ayah. “Kenapa baru sekarang, kau menginginkannya lagi? Lihat apa yang dilakukannya. Hidupmu kembali tidak tenang, kan? Kau sudah di jalur yang tepat, tak lama lagi kau bisa mendapatkan beasiswa untuk berkuliah. Kenapa kau ingin berteman dengannya lagi?”

“Aku tidak tahu, oke?!” Peter berbalik, mengusap kasar wajahnya. 

Memang, kehidupannya sudah berjalan dengan mulus sekarang—sebelum Alan datang membawa masalah-masalahnya kembali.

Alan sialan. Apakah bocah itulah sumber petakanya?

Tapi itu tidak benar.

Peter tahu itu tidak benar.

“Aku sudah tidak pernah mengingatnya,” ujar Peter tajam, lebih pada dirinya sendiri. “Tapi dia—”

Dia tak ingin dilupakan.

Kilasan memori tentang masa kecilnya seketika berlomba-lomba menerobos benaknya, dan Peter tidak bisa lari lagi.

Ia menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan pengingat yang sama berat, yang membuat lidahnya seolah meletup ketika mengucapkan:

“Dulu kami selalu bertiga.”

Payung-payung binatang, gaun-gaun berenda, bekal-bekal terbagi tiga, bunga-bunga tertanam, bukit-lembah terjelajahi, es krim-es krim belepotan, piama-piama dinosaurus, tayangan televisi malam hari …. Semua itu serta-merta tercerabut dari kehidupannya sejak Ruby tak lagi ada.

Ia tidak tahu ke mana gadis itu pergi.

Ia tidak tahu bagaimana keadaannya.

Ia hanya tahu bahwa Ruby, Ruby sahabatnya, telah benar-benar menghilang, dan ia tak tahu cara mengatasi dukanya sehingga memilih untuk melupa. Mengingat berarti merasa, dan hati Peter Kecil tak sanggup melampaui rasa-rasa itu semua. Hingga kini.

“Aku tahu aku telah gagal menjaga Ruby,” pengakuan tiba-tiba meluncur keluar dari mulut Peter, ketika ia bergumam lebih kepada dirinya sendiri, “tetapi apa salahnya jika aku mencoba lagi, dengan Alan? Aku belum terlambat, kan …?”

Ada alasan mengapa dulu Peter lebih memilih Ruby dan Alan daripada teman-temannya yang lain. Bukan hanya karena Alan-lah anak pertama yang mengajaknya berteman, atau karena Ruby gadis yang sangat menyenangkan, tetapi … karena mereka menjalani kehidupannya yang dulu.

Ibunya selalu berkata, “Duka tidak perlu ditengok lama-lama.” Setiap kali Peter menangis, Ibu selalu bertanya apa alasannya; apakah cukup penting sampai ia harus menangis? Jika alasannya dinilai terlalu remeh, Ibu akan berkata, “Dan kau menangis karena hal sebodoh itu?”

Kemudian tubuhnya remuk oleh segala macam rasa sakit.

Esther akan selalu mencari cara untuk terus mengobarkan kemurkaan Ibu kepada Peter. Oleh karena itu, dia menjadi kejam; Peter seolah mempunyai dua sosok Ibu di rumah. Namun, tak ada yang bisa dimintai tolong, karena tiap ia mengadu, tak ada yang menaruh peduli. Maka ia melepaskan amarahnya di sekolah, membebaskan perasaan bingung dan sedihnya dengan menghajar anak mana pun yang berani mengganggunya, menantang setiap guru yang menegurnya. Jika Ibu tahu, ia akan diseret kembali ke rubanah, dikurung dan tidak mendapat jatah makan, kecuali Esther sedang merasa dermawan dan meninggalkan sisa. Begitu seterusnya.

Namun Peter Kecil tak mampu pergi. Ia pikir, hidup memang sudah seharusnya begitu, hingga Ayah menemukannya.

Ibu membuat Peter dan Esther mengira bahwa Ayah sudah lama hilang dari kehidupan mereka, bahwa Ayah tak lagi peduli pada mereka. Tetapi Ayah selalu berusaha bertemu, mencari-cari kesempatan—yang akhirnya datang pada malam itu, delapan tahun yang lalu.

Jika tetap di Balmoral, siapa yang bisa menjamin bahwa Peter masih hidup kini—delapan tahun kemudian? Siapa yang bisa menjamin bahwa kehidupannya tidak akan seporak-poranda kehidupan Ruby dan Alan?

“Ayah menyelamatkanku, jadi mengapa aku tidak boleh menyelamatkan mereka juga?”

Sebab ketika bersama mereka, Peter menemukan bahwa kemarahannya bisa dilampiaskan untuk hal-hal yang lebih baik—untuk membela, melindungi, dan menjaga mereka. Dan pikirnya, jika ia bertindak sebagai pelindung, Ruby dan Alan akan terhindar dari malapetaka yang pernah dihidupinya dahulu, sebelum Ayah menyelamatkannya.

Apakah itu salah?

Barangkali, kini, ketika melihat Alan yang malang dan menderita, alam bawah sadarnya menyangka bahwa dengan menyelamatkannya … Peter telah menyelamatkan Ruby juga. Bahwa, ia bisa membayar kegagalannya menyelamatkan Ruby waktu itu.

Sehingga Alan tidak akan berakhir seperti Ruby.

Sehingga Alan tidak akan menghilang.

Lihat selengkapnya