Once Upon a Sunny Day

Vicky L.
Chapter #14

Tiga Belas

Selama beberapa saat, dapur itu hanya berdesau oleh suara angin dari halaman belakang dan desing api kecil di kompor. Ketiadaan respons dari Ayah membuat Peter mengucek matanya yang keruh dan berdeham.

“Esther menelepon, malam itu. Ketika—ketika Ruby menghilang,” bisik Peter, mencoba mengganti topik pembicaraan, perlahan menaikkan pandangan untuk melihat ayahnya. “Apa Ayah tahu?”

Sesuatu seolah menghantam wajah teduh ayahnya, membuatnya terbelalak dengan tatapan tak terbaca.

“Sepertinya tidak,” lanjut Peter. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”

Ayah mengusap wajah dengan gusar dan mengembuskan napas panjang, membuat Peter menelan ludah. Barangkali kebencian terhadap Esther yang membuatnya menunda pertanyaan itu selama bertahun-tahun, atau barangkali, lagi-lagi, karena apatinya sendiri. Sebab, setelah mendengar suara Esther malam itu, ada bagian di dirinya yang merasa puas lantaran sang kakak kena batunya, berganti peran dengannya. Ia merasa puas karena akhirnya Esther merasakan apa yang selama ini dialaminya. Ia merasa tidak bersalah meninggalkan Esther membusuk di rubanah.

“Aku … hampir kehilanganmu malam itu, Peter.”

“Maksud Ayah?”

“Ibumu tidak pernah bermasalah karena kau tinggal di sini,” mulai Ayah, menyibukkan diri dengan lap dapur. “Itulah mengapa dia tidak memperhitungkan kepergianmu.”

Peter mendengus tidak peduli.

“Tapi, mendapatkanmu saja belum cukup bagiku. Kalian berdua adalah anakku—dan mungkin aku tidak bisa membuktikannya pada tahun-tahun awal, tetapi aku sudah berubah. Aku meyakinkannya bahwa aku bisa kembali, tapi ibumu tidak mau membagi kalian.”

“Ke mana … Ayah pergi? Pada tahun-tahun awal?” tanya Peter, sedikit ragu. “Ibu tidak pernah benar-benar bilang.”

“Di sini,” jawab Ayah. “Aku tinggal di sini. Dan kau … lahir di sini, Peter.”

“Apa?”

Ayah memijat pelipisnya. “Dulu, aku seorang yang kacau. Ketika usiamu baru setahun, aku harus mendekam di Arkala karena kecerobohanku. Ibumu mengurusmu sendiri, setidaknya hingga kau empat tahun. Kesehatannya mulai melemah. Ia tidak bisa menjaga diri sendiri, apalagi menjagamu. Akhirnya, ia bertolak kembali ke Balmoral, ke kediaman kakaknya—”

“Tunggu,” sambar Peter. “Apa maksud Ayah? Ibu tumbuh dan besar di Balmoral, tak pernah ke mana-mana.”

Ayah melarikan kedua tangannya ke kepala, memeganginya begitu kencang seolah akan lepas dari lehernya. Peter dibiarkan menunggu jawaban dalam detik-detik yang menegangkan, yang begitu lama. Terlalu lama.

“Ayah ….”

“Ibu yang kau kenal adalah ibu Esther, kakak dari ibu kandungmu.”

Suara Ayah nyaris tak terdengar, tetapi Peter dapat menangkap kata-katanya dengan jelas.

“Apa?” Peter memicingkan mata. “Aku tidak mengerti.”

“Ingrid murka ketika tahu bahwa aku menghamili adiknya juga,” lanjut Ayah pelan. “Kalian berdua adalah anak-anakku, tetapi Ingrid bukan ibumu.”

“Apa maksudmu?” Peter memandang ayahnya dengan kebingungan yang memusingkan. “Ibuku—ibu Esther—mereka bersaudara? Dan kau menghamili keduanya?”

Ayah mengangguk lemah. Telinga Peter berdengung, membuat pandangannya nyaris berkunang-kunang.

“Apakah itu sebabnya, Ibu selalu menghukumku? Apakah itu alasannya membenciku? Dan dia membiarkanku tinggal di rumahnya selama bertahun-tahun untuk melampiaskan semua kemarahannya—”

“Untuk menghukumku,” potong Ayah, membuang muka. “Dia tidak pernah memaafkanku. Dia selalu menyalahkanku atas kematian adiknya, atas kelahiranmu. Sepeninggal ibu kandungmu, Ingrid tidak mau melepaskanmu. Aku bebas ketika usiamu enam tahun, dan sempat menemuimu dan Esther setiap waktu istirahat di sekolah, ingat? Ingrid tidak pernah tahu. Namun, ketika kau tersungkur di trotoar waktu itu—itu adalah kesempatanku untuk benar-benar membawamu kabur. Pergi dari sana.”

“Bagaimana bisa ….”

“Aku tahu Ingrid tidak akan mencarimu,” Ayah tidak menghiraukannya, “tetapi anakku adalah kau dan Esther, maka aku harus mengambil kakakmu juga.”

“Lalu mengapa Esther masih di Balmoral?” sambar Peter. “Mengapa dia tidak ikut ke sini?”

Ayah bergeming selama beberapa saat. Peter sudah menarik napas untuk mendesaknya kembali sebelum Ayah akhirnya melanjutkan.

“Aku sempat berhasil, kau tahu, membawa Esther bersamaku.”

“Apa—” Peter menelan ludah. “Apa yang terjadi?”

Kepala Ayah menggeleng enggan, terkubur di balik kedua lengannya. Peter mengerti, mungkin kegagalan mendapatkan Esther masih menghantuinya—meski Peter sendiri sebenarnya bersyukur dengan itu—tetapi Ayah sudah telanjur bercerita sejauh ini.

Berusaha menekan emosi, Peter mendekat dan mengulurkan tangan untuk mengusap punggung ayahnya.

“Ayah bisa menceritakannya padaku sekarang,” ujarnya melembut. “Semua akan baik-baik saja.”

Perlahan-lahan, Ayah mendongak. Matanya tampak tersiksa, seolah telah memendam beban yang begitu lama.

“Kau bahagia tinggal bersamaku, kan?” tanya Ayah tiba-tiba.

“Tentu saja.”

“Aku tidak bisa bilang bahwa aku adalah ayah yang baik—memang bukan—tetapi semua kulakukan untuk kalian.”

Peter hanya diam mendengarkan.

Lihat selengkapnya