15 Tahun Kemudian.
“Hei, kau tidak boleh merokok di sini!”
Sebuah tangan asing menjumput rokok yang terapit di antara jemarinya sebelum melemparkannya ke tanah. Wanita yang geram itu menginjak-injak rokok malang dengan penuh dendam, sementara matanya menusuk pria berambut pirang kusam bermata cekung yang terduduk abai di hadapannya.
“Yang mana anakmu?” tuntut wanita itu, merentangkan lengan pada sebentang taman bermain di depan mereka.
Peter mengusap wajahnya dengan penuh kegusaran. “Memang aku perlu punya anak?”
Wanita itu tampak makin berang. “Pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi!”
Sebenarnya Peter enggan menanggapi wanita yang berisik itu jika saja konfrontasinya tidak menarik perhatian banyak orang, dan ia tidak sedang ingin diciduk polisi hari ini. Dengan malas, Peter menyambar tas ranselnya dan berjalan pergi—setelah menabrak bahu wanita itu lebih dulu. Ia memang masih picik seperti itu.
Langkahnya sudah cukup jauh memunggungi keriaan taman bermain yang hanya boleh dikunjungi orang-orang dewasa yang sudah punya anak itu, ketika saku celana belelnya bergetar oleh ponsel yang berdering.
“Kaukah yang berjalan dengan ransel itu?” tanya suara di seberang.
“Mmm hm.”
Tin, tin!
Peter berjalan ke sisi, mempersilakan sebuah mobil sedan berwarna cokelat muda melintas di sampingnya. Di balik kemudi, seorang pria bermata gelap dengan rambut hitam ikal tersenyum lebar padanya, penuh kelegaan.
“Aku tahu ribut-ribut di taman itu karena ulahmu,” komentarnya usil. Peter hanya mengangkat bahu dan menyeringai.
Alan tertawa lepas. “Oh, naiklah!”
Setelah melempar ranselnya ke jok belakang, Peter naik ke kursi penumpang dan membanting pintu mobil—yang langsung disesalinya.
“Ups. Sori.”
“Tak usah khawatir. Ia tidak selemah yang terlihat. Kuat, gadis ini.” Alan menepuk-nepuk kemudinya sembari menjalankan kendaraan.
Peter mendengus terhibur. “Mobil ini kau anggap perempuan?”
“Memang kenapa?” tanya Alan, penuh keheranan yang dilebih-lebihkan. “Kapan lagi aku bisa punya mobil sendiri, kan? Apalagi setelah akhirnya bisa bebas melaju sedikit di atas batas kecepatan.”
“Sisi lain sang ayah teladan, para hadirin,” ejek Peter. “Jangan bilang kau namai juga, mobil ini?”
“Salam kenal dari Cecile!”
Peter tersedak tawa. “Sengaja kau namai sama dengan simpananmu, ya, supaya jika salah ucap, istrimu tidak curiga?”
“Simpananku, kan, kau!”
Mereka berdua tergelak puas sekali hingga sakit perut.
Setelah mengurai tawa yang rasanya tak pernah berubah, hanya tertinggal suara deru mobil yang halus. Perlahan, dengan sepasang mata hijau yang curiga, Peter menyusuri petak-petak tanah dan bangunan yang dilaluinya, menuduh bahwa tidak seharusnya toko sepeda itu ada di petak yang dulunya toko es krim.