One Last Cry

Hello Dino
Chapter #4

Pangeran Kampus

Masa orientasi mahasiswa akan berakhir. Biasanya akan ditutup dengan acara pentas seni sederhana yang akan menampilkan pertunjukkan seni dadakan dari para mahasiswa baru di masing-masing fakultas. Setiap kelompok akan diberi waktu 45 menit untuk memikirkan apa yang akan ditampilkan di akhir acara. Bisa berupa paduan suara, band, drama atau menari.

Setiap kelompok berbondong-bondong untuk menampilkan yang terbaik, karena akan ada hadiah menarik untuk kelompok terbaik. Hal ini tentu saja tak dilewatkan oleh kelompok yang digawangi oleh Shabira dan keempat mahasiswa baru lainnya. Shabira dan teman-temannya berunding untuk menentukan seperti apa penampilan mereka nanti.

“Jadi, kita mau nampilin apa, nih?” tanya lelaki berkacamata yang sedang asyik memainkan tutup botol. Kebiasaan yang sering dilakukannya ketika bingung melanda.

Semuanya tampak berpikir.

“Gimana kalo kita fashion show aja?” celetuk Freya, salah satu teman kelompok Shabira.

Ucapan gadis yang sering memelintir ujung rambutnya ini membuat pandangan seluruh anggota kelompok tertuju padanya. Tercengang. Mereka tak bisa membayangkan jika harus berlenggak-lenggok di depan umum dalam waktu lima menit.

Lama terdiam…

“Gue setuju! Ah, pasti cewek-cewek terpana dengan ketampanan gue,” kata Moza dengan kepercayaan diri tingkat dewa.

Double tercengang. Shabira dan dua lainnya menatap lelaki berambut klimis itu dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Freya menatap dengan sumringah, ternyata ada yang sependapat dengannya. Bagi Shabira, ini gila.

“Ah, enggak! Jujur aja nih, gue nggak setuju. Yang lain, dong.” Akhirnya Shabira mengeluarkan suaranya. Pernyataan ini berhasil menurunkan senyum yang tersungging di wajah dua orang tadi.

“Yah, gagal deh gue jadi model,” kata Freya setengah berbisik, namun masih bisa didengar oleh empat orang lainnya.

Semuanya tampak berpikir lagi.

Hingga gadis berkepang dua dan berkacamata yang sedari tadi hanya memperhatikan perbincangan teman-temannya, mulai bersuara, “Uhm… aku boleh usul, nggak?” tanyanya malu-malu. Gadis yang bernama Jenny ini tampak sedang memainkan ujung kukunya.

Shabira yang berada di samping Jenny langsung menepuk pundak gadis itu, “Tentu aja boleh, dong. Semua berhak bersuara, iya nggak temen-temen?” jawab Shabira dengan antusias dan diangguki oleh teman-teman yang lain.

Jenny tersenyum tipis, lalu menghela nafas berat seolah melepaskan rasa gugupnya, “Gimana kalau kita main perkusi?”

Semua teman-temannya melongo tak percaya, termasuk Shabira. Sedangkan Freya mendengus kesal, lebih tepatnya gemas.

“Uhm… maaf, nih, Jen. Boleh nggak agak naikin volume suaranya? Jujur aja nih, meskipun gue persis di samping lo, gue nggak denger lo ngomong apa,” kata Shabira hati-hati. Dia yakin, gadis di sampingnya ini tipikal orang yang sering demam panggung. Buktinya saja, berbicara di forum kecil seperti ini, Jenny berbicara seolah bergumam. Ditambah lagi suara riuh dalam ruangan ini pun turut meredam suara gadis berkacamata itu.

Jenny menundukkan kepalanya sesaat, lalu mendongak menatap satu persatu temannya. Mencoba mengumpulkan kepercayadiriannya. Dalam hatinya, tiba-tiba terpikir tentang waktu yang tersisa menuju pentas seni nanti. Jika dia menunda untuk berpendapat, itu artinya beberapa waktu tersisa terbuang sia-sia.

“Gimana kalo kita main perkusi?” tanya Jenny sekali lagi dengan volume lebih besar dari sebelumnya. Walau tak terlalu signifikan, yang penting masih tetap terdengar oleh keempat teman lainnya.

“Ide bagus tuh!” seru Yori sambil menaikkan kacamatanya yang tadi sempat merosot. Yori menatap teman-teman di hadapannya, “Kita semua bisa nyanyi bareng-bareng sambil mainin alatnya.”

“Alatnya?”

Yori mengacungkan botol yang sedari tadi dimainkannya, “kita bisa pake ini, terus isi segenggam pasir atau kerikil. Gampang, kan? Sisanya, kita pinjem aja ke bu Sri. Sendok, cangkor atau ember kek. Apa aja, deh. Iya, kan, Jen?”

Jenny mengangguk malu-malu. Yang lain pun turut mengangguk setuju.

Shabira melihat detak jarum jam di tangannya. Gadis itu langsung melihat ke sekeliling ruangan, rupanya banyak kelompok yang sudah memulai latihannya. “Berhubung waktunya sekitar 20 menit lagi. Sekarang kita gerak cepat cari bahannya, oke!?”

Lihat selengkapnya