One Last Cry

Hello Dino
Chapter #5

Semua Karena Tugas

Berulang kali Shabira mengembuskan napasnya frustrasi. Entah sudah berapa kertas yang berakhir menjadi gumpalan sampah. Hal itu terjadi karena Shabira kesulitan membuat tabel dengan kolom dan baris yang banyak. Pikiran gadis itu terheran akan fungsi teknologi jaman sekarang. Untuk apa ada fitur table pada Microsoft Office, jika pada akhirnya dia harus bergulat dengan alat tulis dan penggaris untuk membuat tabel itu.

Mengapa harus manual, jika ada yang lebih praktis dan otomatis? Pikir Shabira yang sebenarnya tak mau pusing.

Shabira mencoba membuat worksheet sekali lagi, sebelum akhirnya kertas itu bernasib sama dengan kertas-kertas lainnya. Kali ini gadis pecinta kucing itu menyerah. Dia lebih baik menghitung banyak angka, dibandingkan harus membuat sesuatu menggunakan benda lurus.

Ditatapnya benda lurus itu. Shabira tersenyum miris. Gadis itu ingat sekali, sejak dulu ibunyalah yang dengan sabar membantunya mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan penggaris. Tapi, kali ini benar-benar tak ada yang membantunya. Setelah ibunya pergi untuk selama-lamanya, hanya kepada Rigel lah dia meminta bantuan. Apapun itu.

Shabira melirik jam di dinding. Lagi-lagi dia mendesah pelan. Jarum jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam dan tak mungkin Shabira meminta bantuan pada Rigel, si Pangeran Kampus kaleng-kaleng itu.

“Si Pangeran Kampus kaleng itu pasti udah melanglangbuana ke negeri antah-berantah,” gumam Shabira. 

Mata Shabira yang sudah hampir 5 watt ini menatap laptop yang masih menyala di sebelah kirinya. Seharusnya tugas Shabira sudah selesai dari tadi. Dia sudah mengerjakan buku besar, dilanjut dengan mengerjakan neraca saldo. Jika tidak harus disalin dalam tulis tangan, mungkin gadis itu sudah mencetaknya sedari tadi dan dianggap selesai. Namun sayang, dosennya itu meminta mahasiswanya untuk lebih rajin dengan tulis tangan. Demi nilai yang berkah, Shabira rela pusing-pusing.

Menepis rasa kantuknya, Shabira bangkit dari duduknya untuk sekadar melakukan perenggangan tubuhnya yang pegal.

“Belum tidur, Bi?” Suara bariton menginterupsi. 

Shabira yang sedang melakukan perenggangan tersentak kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di pintu kamarnya. Shabira merutuki dirinya karena seharusnya dia menutup pintunya rapat-rapat.

“Maaf, Ayah tadi cuma mau cek. Soalnya dari sepulang kuliah, kamu nggak ada keluar kamar,” Ayah takut kamu kenapa-napa, apalagi kamu belum makan, lanjutnya dalam hati.

Sudah lebih dari tiga kali Gara bulak-balik ke depan kamar anaknya, namun Gara hanya bisa diam-diam memperhatikan. Dia tak tega jika harus mengganggu anaknya yang sedang serius mengerjakan tugas. Namun semua rasa ‘takut mengganggu’ coba Gara tepis dengan memberanikan diri untuk berbicara pada Shabira, mengingat sudah hampir tengah malam anaknya belum makan. Belum tidur pula.

“Kamu udah makan?”

Belum sempat Shabira menjawab, perut gadis itu mendahului untuk menjawab. Shabira meringis malu. Bisa-bisanya perutnya keroncongan begitu terdengar jelas, di depan ayahnya pula. Awalnya Shabira ingin menolak, namun jika sudah seperti ini tak ada lagi alasan untuk menolak.

Gara tersenyum geli mendengar hal itu, namun segera dia kuasai diri. “Kalau begitu, yuk, kita makan. Tadi Ayah udah beli makanan kesukaan kamu. Tapi nggak apa-apa, kan, kalau kamu tunggu sebentar? Kayaknya udah agak dingin, biar Ayah angetin dulu,” kata Gara panjang lebar. Sepulang kerja tadi, Gara mampir ke warung langganan Shabira untuk membeli sop buntut kesukaan anak gadisnya itu.

Gara segera bergegas menuju dapur begitu melihat Shabira mengangguk samar. 

Sepeninggalannya Gara, Shabira menepuk perutnya pelan, “Lo nggak bisa diajak kompromi, ah.”

***

Gara tersenyum senang melihat anaknya begitu lahap memakan sop buntut kesukaannya. Tak salah jika dia harus mengorek tentang Shabira kepada Rigel, sumber informasi. Gara lakukan itu semua hanya untuk bisa dekat dengan Shabira, seperti orangtua normal pada umumnya. 

Di suapan terakhirnya, Shabira sejenak melirik ke arah jam dinding. Ternyata sudah menunjukkan jam sebelas. Segera gadis itu menghabiskan makanan dalam mangkuknya, lalu meneguk air minumnya cepat.

“Pelan-pelan, Bi. Nanti keselek,” saran Gara.

Shabira tak begitu menghiraukan ucapan Gara. Dia hanya melakukan apapun agar cepat selesai dan kembali ke kamarnya. Usai Shabira membereskan bekas makanannya, demi kesopanan, Shabira pamit pada ayahnya. “Uhm… Aku ke kamar dulu.”

“Jangan dulu tidur! Makanannya belum turun benar.”

Petuah Gara hanya dianggap angin lalu, karena setelah makan tadi rasa kantuk mulai mengganggu Shabira. Matanya tak lagi bisa diajak kompromi. Yang gadis itu ingat hanyalah memasang alarm dan berniat menyelesaikan tugasnya subuh nanti. Begitu masuk ke kamar, melanglangbuanalah Shabira ke penjuru negeri.

Sepeninggalan gadis itu, Gara termenung sesaat sambil memandangi makanan miliknya yang hampir tak tersentuh, saking terharunya melihat Shabira memakan makanan darinya. 

Lagi-lagi Gara menghela nafas berat. Sulit baginya untuk meluluhkan hati sang anak. Dia sudah berusaha untuk bisa diandalkan oleh Shabira, namun anaknya itu memilih menghadapi hal sulitnya sendiri.

Ini baru setahun, Gar!

Gara tersenyum miris. Bisa-bisanya dia mengeluh akan keadaan. Seharusnya dia tak begini. Ini baru sekian persen dari rasa sakit yang Anjani dan Shabira rasakan selama ini akibat ulahnya.

Gara segera menghabiskan sisa makanannya, lalu bergegas untuk melihat anaknya lagi. Usai urusan dapur selesai, di kamar bernuansa hijau muda lah Gara berada. Ini kali pertama Gara memasuki kamar Shabira, karena anaknya itu tak pernah mau terganggu privasinya, dan Gara menghargai itu. Pengecualian malam ini. Lelaki itu hanya ingin mengetahui lebih jauh tentang Shabira. Gara tak ingin menghabiskan waktunya lagi untuk menunggu Shabira membaik padanya. Dia harus menjemput kebaikan itu dengan caranya sendiri. Dengan mencoba lebih dekat dengan anak satu-satunya.

Mengamati setiap sudut ruang yang menjadi markas anak gadisnya. Tak ada boneka atau hiasan yang berbau feminim di ruangan 4 x 3 meter itu. Di dinding kamarnya hanya terdapat jam dinding berbentuk kaktus berwarna hijau.

Lihat selengkapnya