“Gue balik sendiri. Minggir, ah!” kata Shabira untuk yang kesekian kali.
Seakan menutup telinga, Rigel masih berada di hadapan Shabira dan menghalangi jalan gadis itu.
“Lo balik sama gue. Titik!”
Decakan kesal keluar dari bibir merah alami Shabira. “Sekali ini aja, please, biarin gue pulang sendiri,” ucapnya sedikit memelas.
Ini masih siang, dan Shabira rasa aman-aman saja kalau dia pulang sendiri. Hari ini, Shabira pulang lebih cepat dari biasanya, karena memang sudah tak ada jadwal kuliah setelahnya. Maka dari itu, dia memilih untuk menghabiskan waktunya sendiri. Namun rencananya hanyalah tinggal rencana, terlebih setelah Rigel memergokinya di gerbang kampus.
Shabira kadang tak mengerti dengan pikiran Rigel. Lelaki itu lebih membela mengantarkan Shabira lebih dulu, dibandingkan kegiatannya yang masih berjalan itu. Shabira tahu, Rigel bukanlah lelaki yang tak bertanggung jawab, hanya karena meninggalkan kegiatannya demi Shabira. Lelaki itu pasti akan membereskan tugasnya terlebih dahulu, atau dia meminta tolong temannya untuk menghandle sesaat, sampai akhirnya Rigel kembali setelah mengantarkannya.
“Nggak! Lo pulang bareng gue. Lagian bokap lo udah titip lo ke gue. Jadi, lo tanggung jawab gue. Ayo, kita pulang!”
Satu lagi hal yang membuat Shabira lagi-lagi tak mengerti jalan pikiran Rigel. Lelaki itu sangat memegang teguh kepercayaan yang telah ayahnya bangun untuk Rigel. Gadis itu pun tak mengerti mengapa ayahnya begitu percaya terhadap sahabatnya yang songong ini. Keprotektifan Rigel semakin aktif, ketika Gara pergi bertugas dua minggu yang lalu.
“Please, El, kali ini aja! Gue bosen.” Lagi-lagi Shabira harus memasang wajah melasnya. Dia benar-benar membutuhkan waktu sendiri, bukan karena apa-apa, hanya karena dia ingin sendiri.
“Lo bosen bareng sama gue?”
Pertanyaan Rigel berhasil membuat sudut hati Shabira sedikit tersentil, apalagi wajah songong itu memasang wajah yang lebih serius. Bukan seperti itu maksudnya.
Kenapa sih ini bocah mikir kesitu? Padahal beneran deh gue cuma lagi ingin sendiri, Shabira membatin.
Tak mendengar jawaban dari sahabatnya, Rigel tersenyum tipis. “Oke deh, kalau gitu.”
Deg! Jantung Shabira sedikit mencelos.
“Oke deh, apa?” tanya gadis itu hati-hati. Shabira takut jika Rigel seperti ini. Terlihat aneh.
Lelaki itu mengacak-acak puncak kepala Shabira. “Pura-pura nggak tahu lagi. Lo balik sana, gih. Gue nggak bisa anter lo, ada urusan mendadak di himpunan. Maklum gue orang penting,” kata Rigel dengan senyum tengil di wajahnya, berhasil membuat Shabira mengernyitkan kening. “Lo balik, nanti sampe rumah, lo kabari gue. Kalau lo belok kemana dulu, lo tetep harus kabari gue. Oke?” lagi-lagi Rigel menepuk puncak kepala Shabira sambil memasang senyum lebarnya, dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban sahabatnya itu.
“Tumben aneh.”
Tanpa ingin memikirkan lama-lama tentang hatinya yang merasa bersalah pada Rigel, Shabira segera pergi untuk mencari udara segar.
***