“Baru pulang, Bi?”
Suara berat memantul gendang telinga Shabira, ketika gadis itu baru saja menutup pintu rumahnya. Berhasil membuat Shabira sedikit terkejut mendengarnya, meski masih bisa dikuasai.
Shabira mengangguk, cepolan rambutnya yang tak rapi pun turut mengangguk saking semangatnya anggukan Shabira. “Ayah udah pulang?” tanyanya dihiasi seulas senyum. Shabira mendekati Gara dan mencium tangan ayahnya itu.
Hati Gara menghangat mendengar suara yang tak lagi dingin dari anaknya. Hatinya pun selalu hangat ketika Shabira membiasakan diri untuk mencium tangannya ketika pamit datang atau pergi. Lelah yang dirasakan Gara selama dua minggu karena pekerjaannya yang padat, perlahan menguap melihat Shabira yang terlihat bahagia.
Gara mengangguk pelan. Suaranya tercekat hanya sekadar untuk berkata “Iya, Ayah baru pulang”.
“Ayah, udah makan?”
Lagi-lagi pertanyaan Shabira berhasil membuat lidah Gara kelu. Matanya sedikit memanas dan sebisa mungkin Gara mencoba untuk tak menumpahkan air matanya karena haru.
Pria itu menggeleng. “Bira mau makan bareng Ayah? Biar Ayah masak sekarang,” kata Gara dengan semangat. Namun persekian detik kemudian, pria itu menyadari satu hal, “Itu pun kalau Bira mau,” lanjutnya pelan.
Rasanya terlalu lancang jika mengajak Shabira makan bersama seperti itu. Meski jelas Shabira adalah anak kandungnya. Semenjak pertemuan perdana mereka dua tahun lalu, ayah-anak ini sangat jarang untuk makan bersama, karena Shabira selalu menghindarinya.
“Aku mau kok,” jawab Shabira sedikit canggung. Tangannya tak henti memilin tali paper bag, jujur saja dia gugup. Entah ada angin apa, ketika melihat ayahnya pulang, Shabira merasa ingin sekali membuka hati untuk ayah kandungnya.
Semenjak mengetahui fakta bahwa Gara adalah ayah kandungnya, jujur saja dalam lubuk hatinya paling dalam Shabira merasa senang. Karena selama ini dia sama sekali tak pernah tahu bagaimana dan siapa sosok ayahnya. Namun, rasa kecewa dan marah lebih menguasai hatinya, sehingga selama hampir dua tahun ini Shabira selalu bersikap dingin pada Gara.
Shabira marah dan kecewa terhadap Gara yang bisa-bisanya membiarkan ibunya berjuang sendirian selama ini. Dia tahu, yang dilalui ibunya sangatlah berat. Tapi dia tak bisa hidup dalam kukungan kekecewaan terus menerus.
Sejak ditinggal selama dua minggu oleh Gara—dan itu kali pertama Shabira ditinggal lama oleh ayahnya setelah bersama, gadis yang memiliki lesung pipit di pipinya ini merasakan ada yang kurang dalam kesehariannya. Meski Rigel tak pernah absen untuk membuat harinya berwarna, tapi tetap saja ada yang berbeda. Dan detik ini, Shabira mengetahui jawabannya.
Dia merindukan sang Ayah.
…
“Ayah senang bisa masak dan makan bareng sama Bira,” ucap Gara setelah menghabiskan suapan terakhirnya. Ini kali pertama mereka melakukan hal itu bersama-sama.
Setelah mengeksplor bahan yang bisa dimasak dalam kulkas, akhirnya Gara dan Shabira memutuskan untuk memasak telur balado, karena hanya itu yang didukung keadaan. Di rumah mereka, selalu tersedia telur yang biasa dipakai jika malas memasak atau diperlukan buru-buru. Alhasil, hanya telur baladolah yang bisa mereka masak, meski harus menunggu proses yang sedikit lama.
Shabira tersenyum menanggapinya. Ingin menjawab ‘Iya’ pun lidahnya terasa kelu. Canggung. Gadis itu melanjutkan makannya lagi.
Gara tersenyum tipis. Dalam hatinya tak henti-henti berucap syukur karena bisa lebih dekat dengan anaknya.
Gara menarik diri dari kursinya, lalu menyimpan piring bekas ke wastafel. Tak langsung duduk kembali, Gara bergegas ke kamarnya yang tak jauh dari ruang keluarga.
Rumah minimalis yang ditinggali oleh Shabira dan Gara ini terdiri satu lantai, dengan dua kamar, satu ruang tamu, dua kamar mandi, ruang keluarga yang merangkap ruang makan, dan dapur. Kamar yang digunakan Gara adalah kamar yang dulu dipakai oleh Anjani.
Gara keluar dari kamar, dengan membawa paper bag di tangan kanannya. Pria itu melihat Shabira sedang mencuci piring bekas makan tadi di wastafel. Dengan langkah lebar, Gara menghampiri. Setelah sebelumnya menyimpan paper bag yang dipegangnya di meja makan.
“Biar sama Ayah aja, Bi.” Gara mencoba mengambil alih, namun Shabira menggeleng.
Shabira menoleh ke arah ayahnya yang berdiri tepat di sebelahnya. Sambil tersenyum, gadis itu menggeleng lagi, “Bentar lagi selesai kok. Tanggung. Ayah tunggu aja di sana,” kata Shabira sambil menunjuk ke arah meja makan dengan lirikan matanya.
Shabira kembali bergelut dengan cucian piringnya. Tangan gadis itu dengan lihai membilas piring-piring yang penuh busa dengan air mengalir. Piring yang sudah dibilas disimpan di ember kecil, agar saat dipindahkan ke rak piring kondisinya tak terlalu basah.
Dari pada harus menunggu Shabira di meja makan, Gara berinsiatif untuk membantu dengan mengeringkan piring-piring basah di ember.
“Jangan suruh Ayah duduk, loh! Biar kita beresin ini sama-sama, ok!?” ucap Gara dengan cepat, saat Shabira menyadari aksi darinya.