Setelah tragedi ojek online minggu lalu, rasanya Shabira tak punya muka lagi untuk bertemu kakak seniornya si Pangeran Kampus II alias Elang. Dia benar-benar tak menyangka tentang hari itu. Antara beruntung atau apa ya, Shabira sulit menjelaskan. Yang pasti, sekarang rasanya malu untuk bertemu dengan Elang.
Beruntungnya, saat itu ojek online yang dipesan Shabira membatalkan penjemputan dikarenakan ban motornya harus ditambal. Pesan itu dikonfirmasi lewat whatsapp oleh drivernya, setelah pembatalan lewat aplikasi. Dan pesan itu terbuka setelah handphone Shabira telah diisi daya.
Selama seminggu ini, Shabira sebisa mungkin menghindar saat Elang mulai tertangkap oleh mata hazelnya. Seperti yang dilakukannya saat ini.
Shabira sedang mencari referensi untuk tugasnya di perpustakaan fakultas. Saat akan mengambil buku, dia melihat Elang baru saja memasuki perpustakaan. Sontak membuat Shabira kembali menuju tempat duduknya yang berada di pojok ruangan. Pura-pura sibuk bergelut dengan buku bacaan yang sempat diambil sebelumnya.
Jenny yang melihat tingkah Shabira yang tiba-tiba itu, terheran-heran. “Kamu kenapa, Bi?”
Shabira menggeleng, “Kita ke taman aja, yuk! Gue sumpek. Kepala gue keleyengan liat rak-rak buku.”
Jenny semakin mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, Shabira ini tipikal orang yang bisa betah berjam-jam di perpustakaan. Tapi, kenapa tiba-tiba seperti ini? Pasti ada yang nggak beres, pikir Jenny.
Melihat Jenny yang terlihat sedang berpikir, Shabira dengan cepat menarik gadis kutu buku itu. Sebisa mungkin tak memunculkan kegaduhan yang bisa mengganggu perpustakaan yang sepi ini.
“Udah cepetan! Siaga satu, nih,” bisik Shabira sambil melirik keberadaan Elang, yang ternyata masih betah memilah-milih buku-buki di rak.
Jenny yang masih kebingungan pun, mau tak mau menuruti langkah Shabira yang terlihat begitu panik.
“Kamu tuh kenapa, Bi? Akhir-akhir ini, aku perhatiin kamu aneh. Kayak menghindari sesuatu gitu. Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Jenny setelah mereka berhasil keluar dari perpustakaan. Keduanya kini sedang berjalan menuju taman depan fakultas ekonomi bisnis.
“Nggak apa-apa, kok.” Shabira mencoba terlihat seperti biasa-biasa saja.
Jenny tersenyum tipis. Ya, mungkin Shabira belum mau membagi ceritanya dan dia pun tak ingin memaksa.
“Eh, Bi, kita ke kelas aja, yuk! Bentar lagi jam Bu Gita,” ajak Jenny.
Shabira mengangguk setuju. Karena setelah ini, dia yakin tak akan bertemu dengan Elang lagi, untuk hari ini.
***
Mata kuliah terakhir di hari ini sudah berakhir. Setiap hari Selasa, jadwal kuliah Shabira hanya sampai jam dua lewat lima belas menit. Dosen keluar kelas, para mahasiswa pun turut keluar kelas. Begitu pun dengan Shabira dan Jenny.
“Jen, ke kantin ST, yuk! Gue kangen makan batagor di sana.” Shabira tiba-tiba membayangkan batagor bumbu kacang yang nikmat di sana. Jadi, sebelum pulang dia ingin mampir ke kantin kebanggaan anak teknik.
Di Universitas Bima Sakti, hampir setiap fakultas memiliki satu kantin kecil, dan satu kantin besar di dekat aula. Kali ini Shabira mengajak Jenny untuk makan di kantin ST yang berada di sekitar Fakultas Sains dan Teknologi. Tentu saja Shabira tahu makanan enak di sini, karena rekomendasi dari sahabatnya, Rigel.
Mendengar ajakan Shabira, Jenny tampak berpikir.
“Gue udah ajak Rigel, kok,” celetuk Shabira sedikit menggoda. Benar saja, rona merah perlahan timbul di pipi putih Jenny meski sedikit terhalang oleh kacamata besarnya.
“Boleh, tapi ini bukan karena ada Rigel, ya? Aku cuma laper.” Jenny memperbaiki kacamatanya yang hampir melorot. Lebih tepatnya, menutupi rasa malunya.