One Last Cry

Hello Dino
Chapter #9

Rasa yang Belum Pernah Ada

Shabira pernah mendengar bahwa semakin kita berusaha menghindari sesuatu, maka semakin sering sesuatu itu menghampiri kita. Mungkin itu yang dirasakan Shabira akhir-akhir ini. Efek kejadian tempo lalu, saat Shabira terus berusaha menghindari Elang, lelaki itu hampir selalu ada di dekatnya. Apa ini ada hubungannya dengan pernyataan yang pernah Shabira dengar?

Dan di saat Shabira mencoba untuk bersikap seperti biasanya. Benar saja, lelaki itu tak terlalu sering muncul di dekatnya. Kalaupun mereka berpapasan, hanya sesekali melempar senyum atau sekadar menyapa. Ternyata itu lebih nyaman, dibandingkan ketika gadis itu terus-terusan bersembunyi setiap kali menyadari keberadaan Elang.

Seperti pertemuan tak sengaja pagi ini. Hari Minggu Shabira biasa diisi dengan lari keliling komplek. Biasanya, Shabira melakukan hal itu bersama Rigel, namun untuk hari ini sahabatnya itu absen karena ada acara di kampus. Berakhir dengan Shabira berlari sendiri keliling komplek. Tapi siapa sangka, di tengah perjalanan, Shabira bertemu dengan Elang yang juga sedang lari.

“Loh, lo anak sini?” tanya Shabira setelah tadi saling menyapa.

Elang menggeleng sambil menyeka keringatnya di kening, “Bukan, saya anak komplek sebelah. Kebetulan lagi cari bubur di sini. Kata mama saya, sih, ada bubur enak di sini. Kamu tahu?”

“Oh, pasti yang dimaksud mama lo buburnya Mang Ade. Emang maknyus, sih. Lo mau gue anter ke sana?” Shabira mencoba bertingkah seperti biasanya. Seolah tak pernah terjadi sesuatu.

“Boleh, kalau itu nggak mengganggu kamu.”

Shabira tersenyum mendengar jawaban Elang. “Ya udah kalau gitu. Ayo! Kita kudu gercep! Bubur Mang Ade cepet banget ludesnya.”

Tanpa Shabira sadari, gadis itu menarik tangan Elang—yang berusaha menyejajarkan langkahnya—dengan semangat. Seulas senyum, menghiasi pagi hari keduanya.

***

Ini nggak bisa dibiarin! Batin Shabira berulang kali meneriakan kalimat itu.

Berulang kali pula Shabira mengusap-usap dada, berharap ketenangan menghampiri dirinya. Sedari tadi detak jantungnya berdebar tak karuan, ditambah lagi dengan perasaan aneh yang Shabira rasakan. Bahkan tangan kirinya yang sedang dibalut pun tak lagi jadi perhatian.

Sejak pulang lari pagi, Shabira langsung menenangkan dirinya yang tiba-tiba terserang perasaan aneh di taman kecil yang terletak di belakang rumah. Taman yang dulu dibuat oleh ibunya untuk mengisi waktu luang.

 Ada sedikit perubahan setelah terakhir menginjakkan kaki di sini. Rupanya sang ayah telah menambahkan koleksi anggrek baru terpajang di antara anggrek-anggrek kesukaan mediang ibunya. Lalu ada beberapa kaktus dan sukulen milik Shabira di salah satu sudutnya. Mata Shabira terpaku pada satu kaktus penghuni baru di taman kecilnya, yang sengaja tak dia simpan di kamar.

Sweetheart Hoya

Jantung Shabira kembali bergetar tak karuan. Lelaki itu benar-benar memberi pengaruh tak baik untuk jantungnya. Buktinya, hanya dengan melihat kaktus pemberian lelaki bernama Erlangga itu, rasanya benar-benar aneh.

Ini semua gara-gara tragedi tadi pagi. Awalnya semua berjalan normal. Dimulai dari Shabira mengantarkan Elang membeli bubur titipan mamanya, kemudian mereka turut membeli bubur mang Ade dan makan di tempat, sambil berbincang tentang perkuliahan dan organisasi. Namun, semua tak lagi normal ketika ada seseorang yang tak sengaja menumpahkan bubur—yang masih panas—ke tangan Shabira.

“Aww!” pekik Shabira ketika bubur panas itu tumpah tepat di tangan kirinya.

“Yah, bubur gue~” keluh lelaki berheadphone ketika melihat buburnya sudah tak berwadah lagi. Lelaki itu meletakan mangkuknya begitu saja di meja, tanpa mau membereskan tumpahan bubur. Dan berniat meminta ganti pada mang Ade, selaku tukang bubur. Namun langkahnya tertahan ketika ada sebuah lengan memegang bahunya.

“Buka headphone anda!”

Lelaki itu melepaskan benda itu dari telinganya. Alis tebalnya seketika mengangkat begitu melihat orang yang berbicara padanya menatapnya begitu tajam dan dingin.

Lihat selengkapnya