Jatuh cinta? Perkataan Gara terus terngiang-ngiang di pikiran Shabira. Gadis itu berpikir, mengapa ayahnya bisa menyebutkan bahwa anaknya sedang jatuh cinta.
Shabira menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Frustrasi! Karena selama ini Shabira tak pernah merasakan perasaan itu terhadap lawan jenisnya. Bahkan selama dekat dengan Rigel pun, dia tak merasakan perasaan itu. Shabira jadi penasaran, apa benar ini dapat dikatakan jatuh cinta?
Gadis itu melihat jam kaktus yang terpasang di dinding. Rupanya sudah hampir jam dua belas, dan kantuk belum juga datang menyapa. Pikirannya masih melanglangbuana entah kemana. Memikirkan yang seharusnya tak pernah dipikirkannya.
Jatuh cinta? Lagi-lagi Shabira menggeram frustrasi. Segera gadis itu mengambil handphone yang sedang diisi daya di atas nakas, mencabutnya dari charger, lalu mendial seseorang yang dibutuhkannya saat ini.
Suara nada tunggu mulai terdengar. Tangan Shabira mengetuk-ketuk nakas, tak mau diam. Inilah yang dilakukannya untuk menghilangkan gugup, mengetuk-ketuk sesuatu.
“Hmm… apa Shab?” Suara serak khas orang tidur mengawali percakapan. Langsung, tanpa basa-basi.
Shabira menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi dia gugup. Dalam hatinya dia merutuki apa yang sedang dilakukannya. Menelepon orang tengah malam, mengganggu orang tidur, demi menanyakan sesuatu yang menurutnya tidak penting, namun berhasil menyita perhatiannya.
Sialan! Umpatnya dalam hati.
“Shab?” entah sudah teguran ke berapa yang dilakukan orang di seberang sana.
“Kalau lo nggak ngomong, gue tutup ya teleponnya.”
Mendengar ancaman itu, Shabira terperanjat. Menyadari bahwa sedari tadi dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“El, lo udah tidur, ya?” tanya Shabira pada akhirnya.
“Belum, kok. Gue lagi kencan bareng Selena Gomez nih, tapi kayaknya setelah ini langsung ambyar.”
Shabira meringis mendengar keluhan sarkas Rigel, sahabatnya yang dia yakini sekarang dalam keadaan mata merem-melek menahan kantuk. Tak seperti lelaki biasanya yang senang begadang, Rigel sudah terbiasa tidur tak terlalu larut sejak dulu. Kecuali ketika ada tugas atau acara yang mengharuskan untuk begadang. Katanya sih, dia membiasakan pola tidur yang sehat.
Keraguan masih menyelimuti hatinya. Apa dia harus bertanya hal ‘itu’? Pikir Shabira sekali lagi.
“Sorry, deh, kalau ganggu. Lo lanjutin aja kencan bareng Selena Gomeznya,” kata Shabira sambil menggaruk tengkuknya. Bingung harus berkata apa.
Gadis itu bingung, penasaran, tapi tak enak karena sudah mengganggu tidur sahabatnya. Meski sebenarnya, Shabira yakin Rigel tak masalah dengan tingkah recehnya, tapi tetap saja dia tak enak.
Lenguhan terdengar dari seberang sana, “Lo kenapa sih, Shab?” tanya Rigel, mencoba untuk biasa saja.
“Nggak apa-apa, kok. Gue cuma lupa tadi gue mau bilang apa. Sorry, ya!”
Setelah itu, Shabira mematikan teleponnya secara sepihak. Tanpa menunggu jawaban Rigel. Sepertinya, menanyakan pada Rigel bukanlah solusi yang tepat. Walau tadi tak dia coba, tapi tetap saja bukan Rigel orang yang tepat untuk ditanyai hal itu.
Menyerah. Shabira meletakan handphonenya yang sedari tadi berdering. Untuk kali ini, Shabira harus mengabaikan panggilan sahabatnya yang tak bersalah itu. Dan memilih untuk bergelut dengan pikirannya sendiri.
Apa jatuh cinta serumit ini?
***
“Anjay! Muka lo kuyu banget!” Shabira mengambil helm yang disodorkan Rigel. Gadis itu berlaku seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Padahal dalam hatinya dia meringis melihat penampilan berantakan sahabatnya itu. Bisa jadi, bukan karena dia kan?
Pagi ini, seperti hari biasa sebelumnya, Rigel memulai paginya dengan menjemput Shabira yang belakangan ini sering diantar oleh sang Ayah. Kesibukan Gara yang mengharuskan berangkat pagi-pagi sekali, membuat lelaki satu anak itu menyuruh Rigel untuk menjemput Shabira seperti biasanya.
“Nggak nyadar, Bu?” Rigel memutar bola matanya sebal.
Tak menjawab, Shabira menyambutnya dengan tawa renyah, dan menepak bahu tegap sahabatnya itu.