One Photograph

Momen'to
Chapter #2

CHAP 1.5 (1): Out of Frame

Cahaya pagi menyapu koridor lantai tiga, memotong sudut-sudut ruang menjadi bidang terang dan bayangan yang tegas. Di lantai, pola garis dari pagar besi terbaring seperti negatif film yang tertata rapi. Suara sepatu, tas bersenggolan, dan obrolan riuh rendah memenuhi udara—irama biasa sebuah SMA di jam pulang pertama.

Di tengah arus siswa yang bergerak cepat, Alcel berdiri agak ke pinggir. Kamera DSLR hitam tergantung di lehernya, tali kulit sudah aus oleh gesekan. Matanya mengamati kerumunan: seragam biru-putih yang berdesakan, ekspresi wajah yang berlalu—lelah, senang, bosan—semuanya berpotensi menjadi bidikan. Tapi hari ini, ia tidak terburu-buru. Ia menunggu ritme keramaian mereda, lalu mengangkat kamera sejenak, mengambil potongan kecil dari gerak yang lewat begitu saja.

Di ujung koridor, keriuhan tiba-tiba meningkat. Seorang siswa tinggi besar dengan jaket basket biru tua—Tanaka—berjalan cepat sambil berbicara kasar ke telepon. Wajahnya tegang, rambutnya acak-acakan oleh keringat. Dua teman satu timnya berusaha mengimbangi langkahnya, tapi Tanaka sudah mendahului.

“Aku tahu, Pelatih! Lima menit lagi, aku janji!” hardiknya ke ponsel. Suaranya memotong keramaian, membuat beberapa siswa menoleh. Tanaka memang tidak asing: atlet basket andalan sekolah, wajahnya sering menghiasi poster prestasi, tubuh atletisnya menjadi bahan bisik-bisik di kalangan siswa perempuan. Tapi hari ini, dia tampak seperti mesin yang overheating.

Tanaka memutuskan telepon dengan kasar, lalu melesat maju. Tas olahraganya yang besar menyenggol bahu seorang siswa tanpa dia pedulikan. Langkahnya cepat, agresif, seperti sedang mengejar sesuatu yang tak terlihat.

Dan kemudian, tanpa sengaja, bahunya menyenggol Alcel yang berdiam di pinggir.

Senggolan itu keras, cukup untuk mengganggu keseimbangan. Tali kamera tertarik, lalu terlepas dari leher Alcel. Dalam hitungan detik, kamera itu meluncur keluar dari genggamannya, melewati pagar koridor, dan jatuh dari ketinggian lantai tiga.

Byur!—Krek!

Suara benturan di bawah terdengar tumpul, memecah keramaian sesaat. Beberapa siswa berhenti, menengok ke bawah. Yang lain terus berjalan, hanya melirik sebentar.

Alcel menoleh. Ekspresinya tidak berubah.

Ia melihat sosok yang menyenggolnya berhenti sebentar. Jaket olahraga biru tua, tas besar di bahu, napas terburu-buru—Tanaka.

Tanaka melirik ke bawah, melihat kumpulan siswa yang mulai mengerumuni sesuatu di lantai dasar. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan—hanya sedikit gangguan dalam ritme buru-burunya. Dia menatap Alcel, mata mereka bertemu.

“Kameraku jatuh,” kata Alcel. Nadanya datar, tanpa tekanan, tanpa tuntutan.

Tanaka menghela napas pendek, seperti orang yang diganggu oleh hal sepele. “Aku lagi sibuk,” katanya, suaranya masih terengah. “Nanti saja.”

Ia melangkah pergi, menyatu kembali dengan arus siswa, tanpa merasa perlu menoleh lagi. Bagi Tanaka, ini bukan masalah yang harus diselesaikan sekarang—ada latihan, ada pelatih yang marah, ada lomba minggu depan yang harus dia menangkan.

Alcel tidak mengejar. Ia berjalan ke tangga dengan langkah tenang, menuruni lantai demi lantai. Di bawah, di depan ruang guru, kamera itu tergeletak di lantai. Bukan sekadar rusak—pecahannya menyebar. Lensa retak seperti sarang laba-laba. Bodi terbelah, mengeluarkan komponen dalam yang hancur. Jatuh dari lima lantai memastikan tidak ada satu pun bagian yang bisa diselamatkan.

Seorang guru tua—Pak Roni, guru matematika—berdiri beberapa langkah dari sana. Wajahnya pucat, tangan menekan dada. Kamera itu hampir mengenai kepalanya.

Alcel mendekat lebih dulu. Ia menundukkan kepala sedikit. “Maaf, Pak,” katanya. “Itu kelalaian saya. Masalah ini akan saya selesaikan. Tidak perlu campur tangan Bapak.”

Nada suaranya tetap datar. Tidak membela diri. Tidak menyebut nama siapa pun.

Pak Roni menatap Alcel beberapa detik. Melihat sikapnya yang tenang, hampir tak terguncang. Lalu mengangguk pelan. “Hati-hati lain kali,” katanya singkat.

Alcel mengangguk kembali.

Tanaka sudah tidak ada di sana. Ia pergi tanpa mengetahui bahwa kameranya hampir mencelakai seseorang, dan tanpa merasa perlu mengetahui akibatnya.

Alcel berdiri sejenak di samping pecahan kameranya. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada kepanikan. Hanya kepastian bahwa benda itu telah berakhir fungsinya, dan bahwa urusan ini belum selesai.

Beberapa saat kemudian, ia berbalik dan melangkah menuju arah ruang latihan basket.


* * *



Lihat selengkapnya