Alcel bangun pukul 04:30 tanpa alarm, seperti biasa.
Tubuhnya bergerak mengikuti rutinitas yang sudah lama tertanam. Ia jogging di jalan yang masih sepi, lalu berhenti di titik yang sama untuk push-up, sit-up, dan latihan kebugaran jasmani lainnya. Napas teratur. Tidak ada rasa dikejar waktu.
Selesai olahraga, tangannya refleks bergerak ke tempat kamera biasanya ia ambil.
Gerakan itu berhenti sejenak.
Ia ingat kameranya hancur.
Tidak ada perubahan ekspresi. Tangannya turun kembali. Ia tetap keluar rumah, berjalan menyusuri jalan kecil yang biasanya ia foto saat fajar. Cahaya pagi tetap ada, menyapu dinding tua dan atap genting dengan gradasi oranye samar. Biasanya ia akan mengangkat kamera, mengukur komposisi, membekukan momen itu. Kali ini cahaya hanya lewat begitu saja, tanpa dibingkai.
Di pinggir jalan, seekor kucing belang duduk dekat selokan, menatap air yang menggenang. Alcel jongkok dan mengulurkan tangan, telapaknya terbuka ke atas. Kucing itu menatap sebentar, hidungnya berkedut, lalu berbalik dan berlari pergi dengan langkah cepat.
Alcel berdiri, mengamati kucing itu menghilang di balik pagar. Biasanya ia akan memotretnya—bukan karena lucu, tapi karena pola bulunya yang kontras dengan aspal basah. Hari ini tidak.
Ia melanjutkan jalan.
Di depan rumah tetangga, seorang wanita tua yang sering menyapu halaman berhenti ketika melihatnya lewat.
"Kok nggak bawa kamera?" tanyanya, nadanya penasaran, bukan menuduh.
"Kameranya rusak," jawab Alcel singkat.
Wanita itu mengangguk pelan. "Sayang ya. Biasanya kamu motret pagi-pagi. Dulu waktu kucingku hilang, kamu yang nemuin lewat foto kan? Aku selalu ingat itu."
Alcel mengangguk. "Iya."
"Kalau butuh bantuan, bilang ya. Aku ada kenalan yang jual kamera bekas."
"Terima kasih, Bu. Tapi saya sudah ada pinjaman."
Wanita itu tersenyum. "Ya sudah. Hati-hati di jalan."
Alcel menangguk lalu melanjutkan langkahnya.
Beberapa rumah berikutnya, seorang bapak setengah baya sedang memindahkan pot bunga. Ia melirik ke arah Alcel, lalu ke bahunya yang kosong.
"Loh, kameranya?"
"Rusak, Pak."
"Oh," bapak itu mengangguk, lalu tertawa kecil.
Alcel tidak menanggapi. Ia berjalan lagi.
Di warung kopi dekat persimpangan, pemiliknya yang sedang membuka gerai melambai.
"Alcel, kopinya nggak kamu foto hari ini nih?"
"Kameranya rusak, Pak."
"Waduh, padahal tadi cahayanya bagus lho—nyemplung tepat di teko kacanya."
Alcel hanya mengangguk. Ia tidak berhenti. Langkahnya tetap sama: tidak diperlambat oleh percakapan, tidak dipercepat untuk menghindar.
Di jalan menuju sekolah, Alcel melewati orang-orang yang biasa melihatnya dengan kamera tergantung di leher. Seorang ibu berjualan nasi uduk di gerobak biasanya tersenyum jika Alcel mengangkat kamera ke arah uap nasi yang mengepul. Hari ini, ibu itu hanya melirik, lalu kembali melayani pelanggan.
Seorang anak sekolah dasar yang sering ia lihat di halte berjalan di depannya, lalu menoleh ke belakang. Matanya berkedip.
"Kok nggak motret, Mas?"
"Kameranya rusak."
"Oh..." Anak itu mengerenyit, seperti kecewa, lalu berlari mengejar temannya.
Di sekolah, ia masuk kelas dan duduk di tempatnya.
Beberapa teman melirik. Ada yang berbisik. Mereka sudah dengar kabar.
"Katanya kameramu jatuh, ya?"
"Parah nggak rusaknya?"
Alcel menoleh sebentar.
"Hancur total."
"Terus gimana kejadiannya?"
"Kesenggol orang lewat ketika aku lagi motret," jawab Alcel. "Terus jatuh."
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada keluhan. Tidak ada nada kesal.