One Photograph

Momen'to
Chapter #4

CHAP 3.5 (3): Selective Focus

Anastasya Isabella tidak pernah kalah dalam hal kedisiplinan. Itu prinsipnya sejak pertama kali terpilih sebagai wakil ketua OSIS. Setiap pagi, pukul 07:00 tepat, ia sudah melangkah keluar dari mobil hitam berpengemudi, seragam tanpa kusut, rambut terkunci rapi, dan tatapan yang sudah siap menghadapi hari. Empat puluh lima menit sebelum bel berbunyi—itu waktu sakralnya untuk mengatur jadwal, menyiapkan rapat, atau sekadar menikmati keheningan sekolah yang masih kosong.

Tapi selalu ada satu pengecualian.

Alcel Meyer.

Hari ini, seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, Anastasya melihatnya dari kejauhan. Di taman dekat gerbang, Alcel sedang berdiri membelakangi jalan masuk, kamera diangkat ke arah setangkai bunga matahari yang baru mekar. Cahaya pagi menyorot dari samping, membentuk siluet tubuhnya yang ramping. Ia tidak bergerak buru-buru—hanya menunggu, lalu klik. Satu jepretan. Lalu ia menurunkan kamera, berjalan beberapa langkah, dan mengamati bunga lain.

Anastasya mengerutkan kening. Dia selalu lebih dulu.

Ini sudah minggu ketiga ia memperhatikan, Alcel selalu ada di sana. Kadang memotret bunga, kadang hanya duduk di bangku sambil melihat langit, atau berjalan pelan mengitari lapangan. Tanpa tergesa. Tanpa beban. Seolah waktu adalah konsep yang tidak berlaku baginya.


* * *



Di ruang OSIS, Anastasya menunggu anggota OSIS yang lain datang sambil membaca buku dan melihat daftar kegiatan OSIS di laptop.

“Aku heran sama kamu, Tasya. Tiap pagi jam 7 pagi udah di sini. Kapan tidurnya?” tanya Maya—sekretaris OSIS—yang datang 20 menit setelah Anastasya datang, menyodorkan segelas air mineral ke meja rapat. Anastasya meliriknya sambil tetap mengetik di laptop.

“Tidur cukup tujuh sampai delapan jam. Justru kalian yang suka begadang hingga datang mepet bel,” balasnya tanpa meninggikan suara.

“Tapi tahukah kamu, ada yang lebih pagi dari kamu,” seru Melin—bendahara OSIS—tiba-tiba yang datang dari belakang Anastasya. “Alcel. Siswa yang suka bawa kamera itu. Aku dengar dia sering datang bahkan sebelum pak Ferry buka gerbang.”

Anastasya berhenti mengetik. “Tidak mungkin. Sekolah baru dibuka pukul 7:00.”

"Dan sejak kapan kau berada di sana, Melin? Aku tidak melihatmu dari tadi!" sambung Anastasya.

"Oh—aku? Seperti biasa, menginap di gudang OSIS sambil mengawasi Alcel dari kejauhan."

"Obsesimu kepada Alcel terlalu berlebihan, Melin."

"Aku tidak mau mendengar hal itu dari orang yang selalu membahas keberangkatan Alcel tiap pagi."

“Ya itu benar,” kata Maya, bersandar ke kursi. “Tetangga di sekitar sekolah sering bilang bahwa Alcel sering nunggu di luar pagar sambil memotret jalanan pagi di depan gerbang sekolah yang sepi. Kadang pak Ferry kasihan, jadi buka lebih awal.”

Anastasya merasa dadanya sesak. Dia tidak suka merasa tersaingi—terutama oleh seseorang yang tidak pernah ia anggap berada di papan skornya.

“Dia cuma iseng saja,” ujarnya, berusaha terdengar acuh.

“Akui saja kekalahanmu, Nona Wakil Ketua,” sahut Melin sambil mengejek.

"Tarik ucapanmu, Melin. Akan kutunjukkan bahwa ucapanmu itu salah!"

Percakapan beralih ke acara lomba yang sebulan lagi akan datang, tapi rasa tak nyaman itu tetap mengendap di benak Anastasya. Alcel Meyer. Tidak menonjol secara akademis, tidak aktif organisasi, tidak punya latar belakang istimewa—tapi bisa melakukan sesuatu yang bahkan Anastasya dengan segala disiplin besinya tidak mampu: datang lebih awal tanpa alasan yang jelas.


Lihat selengkapnya