One Photograph

Momen'to
Chapter #5

CHAP 4.5 (4): False Focus

Dariel saat ini sedang duduk sendirian di ruang OSIS.

Dariel Samuel adalah ketua OSIS yang tidak pernah terlambat, tidak pernah salah kata, dan hampir tidak pernah membuat orang lain merasa tidak nyaman. Di sekolah, namanya identik dengan keteraturan—sosok yang selalu tahu harus bersikap bagaimana, bahkan sebelum orang lain tahu apa yang mereka inginkan. Guru percaya padanya, siswa merasa aman di dekatnya, dan pengurus OSIS menggantungkan ritme kerja pada kehadirannya. Tidak banyak yang tahu bahwa semua itu tidak datang secara alami. Dariel tidak lahir dengan ketenangan atau kecerdasan spontan; ia membangunnya dengan latihan, catatan, dan pengulangan. Dan justru karena itu, tidak ada satu hal pun yang lebih ia takuti selain terlihat bodoh.

Meja panjang di depannya penuh tumpukan formulir laporan kegiatan mingguan—penyamaran yang sudah jadi rutinitas. Di antara lembar-lembar itu, terselip buku catatan kecil berwarna hitam polos, ukuran saku, yang sebenarnya adalah diary ketakutannya. Buku itu terbuka sedikit, tapi masih tertutup rapi oleh dua map tebal.

Perutnya sudah bergejolak sejak tadi. Kopi pagi terlalu banyak, ditambah stres simulasi di rumah: lorong sempit dengan wajah-wajah siswa ditempel di dinding, latihan dialog berulang sampai suaranya serak. Dia bisa ke toilet sekarang, tapi kalau ada yang balik dan melihat ruangan kosong? Tidak. Image pemimpin yang selalu siap harus dipertahankan.

Pintu terbuka pelan.

Alcel masuk tanpa ketuk, seperti biasa. Kamera tergantung di leher, tali kulitnya sudah aus. Wajahnya datar, mata tidak mencari-cari. Langkahnya tenang menuju meja.

Dariel langsung tegang.

Alcel. Orang yang paling tidak bisa diprediksi. Orang yang pernah memotret meja kerjanya minggu lalu—dan sejak itu, Dariel selalu menutup buku catatan lebih rapat. Hari ini, Alcel datang sendirian. Tidak ada Maya yang bisa menyelamatkan suasana. Tidak ada Melin yang mengalihkan.

“Ada beberapa anak klub sepak bola yang merokok di belakang gudang olahraga,” kata Alcel tanpa salam. Suaranya datar, seperti membaca berita cuaca. Ia mengeluarkan selembar cetakan foto dari saku jaket, meletakkannya di meja. “Ini buktinya. Waktu dan lokasinya jelas.”

Dariel menarik napas dalam, berusaha terlihat tenang.

“Terima kasih, Alcel. Aku akan tangani.” Ia meraih foto itu, tapi tangannya gemetar—bukan karena foto, tapi karena perutnya sudah di ambang batas. Keringat dingin mengalir di punggung.

Alcel tidak bergerak pergi. Ia hanya berdiri, menatap foto yang baru saja diserahkan, seolah memeriksa komposisinya lagi.

Perut Dariel bergejolak keras.

Ia tidak tahan lagi.

“Alcel… tunggu sebentar ya. Aku ke toilet dulu.” Kata-kata itu keluar terlalu cepat, terlalu gugup. Ia berdiri, kursi bergeser keras. Saat itulah tangannya menyenggol tumpukan formulir—terlalu keras, terlalu panik.

Map tebal pertama tergeser.

Map kedua ikut menyusul.

Buku catatan kecil itu terjatuh ke samping, terbuka lebar di halaman tengah.

Dariel membeku.

Di halaman itu, tulisan tangannya sendiri, dengan huruf kecil dan coretan berantakan:

Senyum: sudut bibir naik 15 derajat, mata setengah tertutup (sketsa wajah sendiri dengan panah “jangan terlalu lebar, kelihatan dipaksa”).

Kalau Anastasya protes: “Tasya, aku paham kekhawatiranmu… (pause 2 detik) kita diskusikan lagi ya?” (ada catatan samping: “Jangan bilang ‘oke’ langsung, kelihatan gampang menyerah”).

Pengingat: JANGAN GROGI!! Hitung sampai 3 dalam hati kalau ragu.

Latihan pose tangan: tangan kanan di saku, kiri pegang pulpen (ada doodle tangan dengan tanda centang dan coretan “terlalu kaku”).

Reminder: Jangan bilang "aku nggak tahu" ganti "nanti aku cek dulu" (ditulis ulang 3 kali dengan warna tinta berbeda).

Semua itu terlihat sangat… bodoh.

Sangat kekanak-kanakan.

Sangat tidak seperti ketua OSIS yang karismatik dan dewasa.

Waktu seperti berhenti.

Dariel merasa darahnya surut.

Alcel berdiri tepat di depan meja. Matanya turun ke buku yang terbuka. Tidak ada ekspresi kaget. Tidak ada senyum mengejek. Tidak ada apa-apa. Hanya tatapan datar, seperti sedang mengamati pola bayangan di pagar koridor.

Dariel ingin berteriak, ingin menutup buku itu, ingin menghilang.

Tapi perutnya sudah tidak bisa ditahan lagi.

Ia berbalik, berlari ke pintu toilet di ujung koridor, meninggalkan Alcel sendirian dengan rahasianya yang terbuka lebar.

Di toilet, Dariel duduk di bilik, kepala di antara lutut.

Muak.

Bukan karena bau toilet.

Muak karena dirinya sendiri.

“Dia lihat. Dia pasti lihat semua gambar konyol itu. Sketsa senyum. Pengingat ‘jangan grogi’. Kalau dia cerita ke Maya… ke Anastasya… mereka bakal ketawa. Aku dianggap orang bodoh. Habis. Semua habis.”

Sepuluh menit kemudian, Dariel kembali ke ruang OSIS.

Perutnya sudah lega, tapi jiwanya hancur.

Ruangan sudah rapi kembali.

Tumpukan formulir tersusun sempurna. Buku catatan sudah tertutup rapat, terselip di antara map seperti semula. Seolah tidak pernah terjatuh.

Alcel masih berdiri di sana, tapi sekarang Maya sudah kembali—sedang membuka laptop di ujung meja.

“Cel, ini laporan merokoknya?” tanya Maya sambil mengambil foto dari meja.

Lihat selengkapnya