One Photograph

Momen'to
Chapter #6

CHAP 5.5 (5): Candid

Ruang BK terasa lebih sempit sore itu. AC tua berdengung pelan, tapi udara tetap gerah karena jendela hanya dibuka setengah. Bau rokok samar masih menempel di seragam mereka—meski sudah dua jam lalu mereka diminta buang puntung di tong sampah luar.

Kevin duduk paling depan, tangan di atas meja, jari-jari saling kait seperti orang yang sudah hafal prosedur. Dia kapten informal tim sepak bola kelas 11 IPA 2—tinggi, bahu lebar, selalu jadi orang pertama yang ditunjuk kalau ada masalah di lapangan. Di belakangnya berjejer tiga anak lain dari starting eleven yang sama: Felix, playmaker lincah yang mulutnya paling cerewet; Arman, bek tangguh yang jarang bicara tapi gerakannya selalu tepat; dan Adrian, striker muda kelas 10 yang baru naik tim utama musim ini, masih sering grogi tapi punya tendangan keras. Mereka berempat sudah sering terlihat bareng di lapangan—latihan sore, nongkrong di pinggir, dan ya… kadang-kadang nyempil merokok di belakang gudang olahraga saat pelatih tidak ada. Itu yang membuat nama mereka mulai sering disebut di bisik-bisik sekolah akhir-akhir ini.

Bu Nadia, guru BK yang sudah biasa menangani kasus seperti ini, duduk di kursi kerjanya dengan map tebal terbuka di depan. Foto-foto dari kamera Alcel tersebar di atas meja: empat sudut berbeda, waktu tercatat jelas, asap tipis keluar dari mulut mereka di belakang gudang olahraga kemarin siang. Tidak ada close-up wajah marah atau ekspresi ketakutan. Hanya fakta: posisi tubuh, lokasi, waktu. Seperti laporan teknis, bukan bukti dendam.

“Jadi,” kata Bu Nadia, suaranya datar tapi tegas, “kalian tahu kenapa dipanggil.”

Kevin mengangguk pelan. Tidak perlu jawab panjang. Semua sudah tahu prosedur. Apalagi setelah foto-foto itu muncul di ruang OSIS kemarin sore—bukti yang langsung membuat nama mereka disebut-sebut sebagai “tim yang kena laporan anak kamera”.

Bu Nadia menunjuk salah satu foto. “Ini diambil kemarin siang, jam 13:47. Di belakang gudang. Kalian berempat.”

Felix bergeser sedikit di kursi, tapi tidak bicara. Arman menatap lantai. Adrian—yang paling muda—masih berusaha tampak cuek, tapi jarinya sudah mengetuk-ngetuk lutut.

“Kalian tahu aturannya,” lanjut Bu Nadia. “Merokok di lingkungan sekolah, sanksi kerja bakti selama dua minggu. Membersihkan gudang olahraga, cat ulang garis lapangan, dan bantu persiapan upacara Senin pagi. Mulai besok pagi jam 06:30.”

Kevin menghela napas pendek. “Iya, Bu.”

Bu Nadia menutup map. Matanya menyapu mereka satu per satu. “Saya tidak akan tanya kenapa kalian merokok. Saya tahu kalian bukan anak baru di tim. Tapi saya ingin kalian paham: ini bukan hukuman pribadi. Ini konsekuensi.”

Dia berhenti sebentar, seperti memberi ruang untuk protes. Tidak ada yang protes.

“Dan bukti ini,” Bu Nadia mengetuk foto-foto itu sekali, “datang dari siswa lain. Bukan dari guru, bukan dari teman kalian sendiri. Siswa yang kebetulan lewat, melihat, dan melapor… secara langsung.”

Kata “langsung” itu terasa lebih berat daripada kata “merokok”.

Adrian akhirnya buka suara, pelan. “Anak kamera itu ya, Bu? Yang kemarin kasih foto ke OSIS?”

Bu Nadia tidak menjawab ya atau tidak. Hanya mengangguk kecil. “Nama siswa tidak perlu disebut. Yang penting, kalian terbukti melanggar.”

Kevin menatap foto di atas meja. Sudut pengambilan rapi, cahaya cukup, fokus tajam. Tidak ada getar. Tidak ada buram. Seperti orang yang sudah hafal tekniknya. Dia ingat bisik-bisik di lapangan setelah foto itu muncul: “Itu anak yang suka motret random.” “Yang nggak pernah omong dulu, langsung kasih bukti.” “Kayak CCTV berjalan.”

Bu Nadia bangun dari kursi. “Besok pagi jam 08:30, ketemu Pak Marco di gudang olahraga. Bawa sarung tangan dan topi kalau perlu. Selesai.”

Mereka bangun satu per satu. Tidak ada kata terima kasih, tidak ada protes. Hanya langkah keluar ruangan yang pelan, seperti orang yang sudah terbiasa dengan akhir seperti ini.

Di koridor luar, saat pintu ruang BK tertutup, Felix baru berbisik.

“Kalau bukan gara-gara anak kamera itu…”

Kevin tidak menjawab. Hanya terus jalan. Tapi di kepalanya, sudah ada hitungan baru: besok pagi, terik matahari, bau thinner, tangan kotor cat, dan garis lapangan yang harus lurus.

Dan di suatu tempat, dia tahu: anak itu mungkin sedang lewat koridor lain, kamera tergantung, mata menyapu sekitar, mencari pola cahaya atau bayangan—bukan mencari mereka, tapi tetap menemukan.

Mereka tidak lagi bicara soal itu di koridor. Tapi nama itu sudah menggantung lagi di udara, seperti asap yang belum benar-benar hilang.


* * *



Kevin masih ingat kemarin siang, tepatnya jam 13:42, saat asap pertama kali naik dari mulutnya di belakang gudang olahraga. Bau kretek manis-pahit langsung memenuhi hidung, campur keringat yang sudah mengering di kaos setelah latihan. Puntung panas menyengat jari, tapi enak rasanya—seperti jeda kecil dari dunia yang selalu minta mereka jadi “tim terbaik”. Angin sore bertiup pelan, membawa aroma rumput basah dan besi panas dari gudang. Di kejauhan, suara bola memantul di lapangan utama masih terdengar samar, seperti detak jantung sekolah yang tidak pernah berhenti.

Mereka berempat duduk bersandar dinding gudang yang retak, lutut ditekuk, bahu saling sentuh tanpa perlu kata. Kevin, kapten informal yang selalu jadi orang pertama ditunjuk kalau ada masalah, hisap dalam, tahan sebentar, hembus ke atas sambil mata menatap langit jingga. Felix, playmaker lincah yang mulutnya paling cerewet, hisap cepat, hembus ke samping sambil nyengir. Arman, bek tangguh yang jarang bicara tapi gerakannya selalu tepat, hisap pelan, mata menyipit ke arah pinggir gudang. Adrian, striker muda kelas 10 yang baru naik tim utama, hisap pendek-pendek, batuk kecil, tapi tersenyum bangga karena ikut “dewasa” bareng kakak kelasnya.

Felix geleng kepala sambil ketawa kecil. “Eh, lu tau nggak… (hisap) …pelatih bilang minggu depan ada seleksi beasiswa. Kalau lolos, bisa kuliah gratis.”

Kevin angguk pelan, mata masih ke langit. “Lolosnya susah, bro. Tapi… ya, lumayan lah.” Dia hembus asap lambat, seperti orang yang lagi hitung beban di pundaknya. Klub sepak bola bukan cuma hobi buat mereka—itu escape dari rutinitas sekolah, tempat cari prestasi yang bisa bikin orang tua bangga, dan yang paling penting: tempat mereka merasa punya satu sama lain. Kevin butuh beasiswa itu supaya bisa lanjut kuliah tanpa beban orang tua. Felix butuh tim supaya tetap jadi pusat perhatian. Arman butuh tempat di mana dia bisa diam tapi tetap diperlukan. Adrian butuh bukti bahwa dia bisa diterima di “geng besar”.

Adrian tersenyum kecil, puntungnya hampir habis. “Gue pasti ikut latihan ekstra mulai besok. Biar nggak malu-maluin kalian.”

Felix ketawa, pukul bahu Adrian pelan. “Lu udah lumayan, bro. Tendangan lu keras. Cuma perlu lebih percaya diri.”

Arman tidak ikut ketawa. Dia hisap lagi, mata menyipit ke arah pinggir gudang. Di sana, Alcel lagi jongkok, kamera diangkat ke arah dinding retak yang cahayanya pas sore ini. Mereka sudah biasa lihat dia begitu—seperti pohon atau tiang lampu. Selalu ada di sekitar sekolah, tapi nggak pernah nyamperin, nggak pernah ngobrol, nggak pernah jadi ancaman. Hanya hantu dengan kamera yang suka motret hal-hal aneh: pola retak, bayangan pagar, cahaya yang jatuh di lantai.

Felix lihat sekilas ke arah sana, lalu balik ke rokoknya. “Lihat tuh, si anak kamera lagi motret tembok gudang. Emang hobinya apa sih?”

Lihat selengkapnya