Lampu sorot lapangan basket sekolah menyala kuning pucat, hanya cukup untuk membuat garis-garis lapangan terlihat samar. Udara sore hari sudah mulai dingin, tapi Tanaka terus bergerak. Tembakan demi tembakan. Bounce. Step. Jump. Release. Bola menyentuh ring, kadang masuk, kadang memantul keluar dengan suara keras yang memecah keheningan.
Ia tidak menghitung lagi berapa kali sudah melempar malam ini. Yang ia hitung hanyalah napas yang semakin berat, keringat yang menetes ke mata, dan rasa pegal di bahu kanan yang sudah mulai protes. Tapi ia tidak berhenti. Berhenti berarti berpikir. Dan berpikir malam ini terasa berbahaya.
Di kepalanya, angka-angka berputar seperti skor yang tak pernah selesai:
15 juta.
Sisa yang harus dibayar untuk kamera itu.
Uang yang seharusnya sudah ada di rekening rumah sakit minggu depan untuk obat tambahan ibunya. Obat yang dokter bilang “penting untuk menjaga kestabilan”, tapi tidak termasuk dalam daftar BPJS yang dicover.
Ia ingat kata-kata petugas administrasi rumah sakit dua bulan lalu, nada suaranya datar seperti membaca buku panduan:
“BPJS Ibu Bapak hanya menanggung rawat inap kelas 3 dan obat generik standar. Untuk obat sitostatika jenis ini dan suplemen pendukung, harus ditanggung sendiri. Kalau mau naik kelas, ada biaya tambahan. Kalau mau klaim bantuan sosial, harus bawa surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, lalu verifikasi lagi di Dinas Sosial. Prosesnya bisa 3–6 bulan.”
Tiga sampai enam bulan.
Ibu mungkin tidak punya waktu sebanyak itu.
Tanaka melempar lagi. Kali ini bola memantul keras dari ring, bergulir ke pinggir lapangan. Ia tidak langsung mengejar. Ia hanya berdiri di sana, tangan di pinggang, menatap bola yang berhenti di bawah lampu sorot.
“Kenapa harus sekarang…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Kenapa harus setelah ia sudah hampir mengumpulkan cukup untuk satu bulan ke depan. Kenapa harus setelah senggolan itu. Kenapa harus setelah kamera itu jatuh. Kenapa harus setelah Alcel datang ke ruang latihan dengan suara datar yang lebih menekan daripada teriakan apa pun.
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan wajah Alcel yang selalu tenang itu.
Lalu ia berjalan mengambil bola lagi.
Satu lemparan lagi.
Satu lagi.
Karena kalau berhenti, ia takut ia akan mulai bertanya hal-hal yang tidak bisa dijawab dengan kerja keras.
* * *
(Beberapa minggu lalu. Koridor lantai tiga, jam istirahat siang hampir selesai. Keramaian siswa sudah mulai menipis.)
Tanaka berdiri agak ke pinggir, dekat tangga. Tangan kanannya memegang amplop cokelat tebal yang sudah agak lecek. Di dalamnya: lima belas juta rupiah tunai. Hasil tabungan pribadi + bonus kecil dari turnamen antar kelas bulan lalu + pinjam dari tante yang tinggal di luar kota (dengan janji akan dicicil balik nanti).
Alcel muncul dari arah ruang OSIS, kamera tergantung di leher seperti biasa. Langkahnya tidak terburu-buru. Ia melihat Tanaka, mengangguk sekilas—bukan salam, lebih seperti pengakuan bahwa mereka memang harus bertemu hari ini.
Tanaka maju satu langkah, mengulurkan amplop.
“Ini… setengahnya dulu.”
Alcel menerima amplop itu tanpa ekspresi khusus. Ia membukanya sekilas, menghitung dengan cepat menggunakan jari (gerakan mekanis, tidak tergesa). Lalu menutupnya kembali.
“Cukup untuk sekarang,” katanya datar.
Tanaka menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
“Iya. Sisanya… setelah lomba nanti. Kalau kami menang, ada hadiahnya. Aku janji lunas sebelum akhir semester.”
Alcel hanya mengangguk sekali. Tidak ada “terima kasih”, tidak ada “jangan khawatir”, tidak ada “semangat”. Hanya anggukan. Seolah angka itu hanyalah data, bukan beban hidup seseorang.
Tanaka ingin bilang sesuatu lagi. Ingin jelaskan bahwa uang ini sebenarnya sudah diincar untuk:
Obat suntik minggu depan
Biaya kontrol dokter spesialis bulan ini
Mungkin sedikit tambahan untuk kamar rawat yang lebih baik supaya ibunya tidak terlalu sesak
Ingin bilang bahwa setiap lembar yang ia serahkan tadi terasa seperti mengurangi hari-hari ibunya bisa bernapas lebih lega.
Tapi kata-kata itu tidak keluar.
Karena Alcel sudah memasukkan amplop ke dalam tas kecilnya, mengangguk sekali lagi, lalu berjalan pergi ke arah tangga—seperti orang yang baru menyelesaikan urusan kecil dan tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama.
Tanaka berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama.
Tangan kanannya masih terasa berat meski sudah kosong.
Di kejauhan, bel masuk berbunyi.
Ia baru sadar koridor sudah hampir kosong.
Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menuju ruang kelas.
Di dalam kepalanya, satu kalimat berulang seperti mantra latihan yang sudah terlalu sering diulang:
“Kalau aku menang… semuanya akan lunas.
Semuanya.”
Tapi di suatu sudut kecil pikirannya yang jujur, ia tahu:
Bahkan kalau menang, ada hal-hal yang tidak bisa dilunasi dengan uang hadiah.