One Photograph

Momen'to
Chapter #8

CHAP 7.5 (7): Multiple Exposure

Maya menutup buku catatan OSIS dengan suara klik kecil yang terdengar memuaskan di telinganya sendiri. Halaman terakhir hari ini sudah dicentang semua: rapat kecil dengan bendahara selesai, laporan inventaris aula ditandatangani Dariel pagi tadi, dan bahkan reminder untuk acara donor darah minggu depan sudah dipindahkan ke grup kelas. Tidak ada notif baru yang bergetar di ponselnya. Grup OSIS hening sejak kemarin sore—jarang sekali terjadi.

Ia menghela napas panjang, bahunya turun rileks untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu. Tas ranselnya terasa lebih ringan tanpa map tebal laporan keuangan yang biasanya harus dibawa pulang untuk direvisi malam-malam. Hari ini Jumat, dan untuk pertama kalinya setelah lama, tidak ada rapat dadakan, tidak ada revisi proposal, tidak ada “Maya, tolong cek lagi ya” dari siapa pun. Klub fotografi juga libur—hanya Senin dan Kamis. Hari ini benar-benar kosong.

Saat ia bangun dari kursi belakang kelas dan menyampirkan tas, Alina dan Irene sudah mendekat dari depan. Mereka berdua adalah teman sekelas yang paling sering nongkrong bareng Maya di luar urusan sekolah—bukan tipe yang ikut-ikutan gosip OSIS, tapi cukup akrab untuk tahu kapan Maya lagi capek.

“Hari ini kau beneran gak ada kegiatan kan, May?” tanya Alina sambil menyikut ringan lengan Maya, senyumnya lebar. “Kita mau makan siang di warung deket mall, terus karaoke. Ikut yuk?”

Maya tersenyum kecil, mengangguk. “Iya, hari ini aku free banget. Paling tenang selama… entah berapa minggu ini.”

Irene langsung nyengir. “Akhirnya! Kita udah lama nunggu hari kayak gini. Ayo, buruan sebelum rame.”

Maya hendak melangkah mengikuti mereka, tapi Irene tiba-tiba berhenti, menoleh ke belakang. “Eh, tunggu. Kamu hari ini kan dikabari bibi kamu soal sepupumu? Kondisinya membaik katanya?”

Alina mengangguk cepat, seperti ingat sesuatu. “Iya bener. Kamu bilang mau mampir ke RS, kan?”

Maya mengiyakan, suaranya tetap santai. “Iya, bibi WA tadi pagi. Sepupuku mulai membaik, katanya. Aku cuma mau mampir sebentar, bawa buah tangan aja. Jadi aku ikut makan siang dulu ya, tapi setelah itu aku cabut duluan. Lain kali karaoke-nya.”

“Deal!” Alina angkat jempol. “Yang penting kamu ikut dulu. Udah lama gak makan bareng tanpa buru-buru.”

Mereka bertiga berjalan keluar kelas, melewati koridor yang sudah mulai sepi. Saat melewati gerbang sekolah, Maya sempat melirik ke sisi taman kecil di sebelah kanan. Di sana, seperti biasa, Alcel berdiri agak ke pinggir, kamera tergantung di leher, lensa mengarah ke kolam ikan kecil yang airnya memantulkan cahaya sore. Ia sedang mengatur komposisi—mungkin bayangan daun, atau riak air yang terbentuk gara-gara ikan kecil berenang. Tidak ada yang istimewa, tapi Alcel tetap fokus.

Maya hanya melirik sekilas. Tidak ada rasa kesal, tidak ada pikiran menghakimi. Hanya rasa penasaran kecil yang lewat begitu saja: Lagi-lagi motret hal yang orang lain gak notice. Lalu ia kembali mengikuti langkah Alina dan Irene, tertawa kecil saat Alina mulai bercanda soal menu makan siang.

Hari ini terasa ringan. Setidaknya, untuk sementara.


* * *



Warung makan di pinggir jalan dekat mall sudah ramai saat mereka tiba. Meja panjang kayu di teras terbuka dipenuhi piring nasi goreng, soto ayam, dan es teh manis. Bau bawang goreng dan jeruk nipis menguar di udara. Maya duduk di ujung, diapit Alina dan Irene.

Obrolan mengalir santai seperti biasa. Alina cerita tentang cowok kelas sebelah yang baru putus, Irene mengeluh tugas fisika yang gila. Maya ikut bercanda, tapi pikirannya setengah di sana—setengah sudah membayangkan buah-buahan yang harus dibeli nanti di minimarket dekat RS.

Tiba-tiba Alina menyikut Irene. “Eh, itu… Alcel, kan?”

Maya mengikuti arah pandang Alina. Di meja pojok lain, agak jauh tapi masih kelihatan, Alcel sedang berdiri sendirian—atau setidaknya kelihatan sendirian. Kamera masih tergantung di lehernya, sekarang ia sedang perjalanan pelan-pelan ke warung makan sambal memotret ringan, mata sesekali melirik ke luar pintu yang terbuka lebar. Tidak ada yang aneh, tapi kehadirannya tetap terasa seperti titik hitam di tengah keramaian.

Irene menyipitkan mata. “Dia lagi ikut lomba foto bareng Ivan, ya? Katanya beberapa minggu lagi. Gila, dia beneran masuk klub foto?”

“Iya, dia ikut sekitar 2 minggu lalu,” jawab Maya.

Alina tertawa kecil. “Iya, katanya. Padahal dia tuh… gak ansos sih, tapi aneh banget. Selalu megang kamera kemana-mana. Kayak CCTV hidup gitu.”

Maya diam sejenak. Dia tahu Alcel memang seperti itu—netral, efisien, tidak pernah mencari perhatian. Tapi mendengar teman-temannya bicara begitu, dia merasa sedikit tidak nyaman. Bukan karena membela Alcel, tapi karena dia sendiri masih belum benar-benar paham siapa Alcel sebenarnya.

Lihat selengkapnya