Maya selesai membayar porsi makanannya lebih lambat dari biasanya. Dia sengaja memperlambat gigitan terakhir, menyendok sisa kuah soto pelan-pelan, sambil sesekali melirik ke arah meja Alcel. Alcel sudah selesai lebih dulu—dia memang makan lebih cepat, tapi bukan karena terburu-buru. Dia hanya makan dengan ritme biasa, tanpa mempercepat atau memperlambat, lalu langsung berdiri, mengangguk singkat ke orang-orang di mejanya, dan keluar warung tanpa pamit panjang.
Maya tahu pola itu. Dia sudah sering melihat Alcel di klub: selalu efisien, selalu tepat waktu, tidak pernah membuang gerak yang tidak perlu. Dan hari ini, Maya memutuskan untuk menyesuaikan—agak lebih lambat sedikit, cukup untuk bisa menyusul nanti tanpa terlihat terlalu mencolok.
Aline menyenggol lengannya. “May, kamu kok makan kayak lagi mikirin sesuatu? Masih mau tambah?”
Maya tersenyum tipis. “Enggak. Aku harus ke RS. Kalian lanjut aja karaoke-nya.”
Irene mengangguk. “Hati-hati ya. Salam buat sepupumu.”
Maya mengangguk, mengambil tasnya, lalu berjalan keluar. Di trotoar depan warung, Alcel sudah berjalan beberapa meter ke depan—langkahnya tenang, kamera tergantung di leher seperti aksesori yang tak pernah lepas. Maya mempercepat langkah sedikit, lalu menyusul hingga sejajar.
“Cel,” panggilnya pelan.
Alcel menoleh, tidak terkejut. “Maya.”
“Kamu mau ke mana?” tanya Maya, nada suaranya berusaha santai.
“Sedang ada urusan,” jawab Alcel datar.
Maya terkejut, tapi berusaha tidak terlalu kentara. “Tumben kamu gak langsung pulang ke rumah. Biasanya kan setelah ini langsung cabut.”
Alcel mengangguk kecil. “Setiap hari Jumat ada kegiatan rutin.”
Maya diam sejenak. Dia ingat betapa kosongnya harinya hari ini—tidak ada OSIS, tidak ada klub. Tapi Alcel punya rutinitas yang tak pernah disebutkan sebelumnya. Dia balik bertanya, “Tumben kamu gak langsung pulang atau ada kegiatan OSIS?”
Maya menggeleng. “Hari ini kosong. Aku mau ke RS juga. Bibiku WA tadi pagi, bilang kondisi sepupuku mulai membaik. Mau bawa oleh-oleh buah-buahan dulu sebelum ke sana.”
Mereka berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Di depan minimarket kecil di pinggir jalan, Maya berhenti. Alcel ikut berhenti. Maya mengambil satu kantong, tapi perasaan risih mulai muncul. Alcel ikut masuk, mengambil dua kantong plastik, lalu mengisi buah—jeruk, apel, pisang—dengan gerakan cepat tapi rapi.
Kenapa kita beli buah bareng-bareng gini? pikirnya. Jangan-jangan Alcel juga mau ke RS? Juga kenapa 2 kantong?
Dia menelan ludah, lalu bertanya eksplisit. “Cel… kamu juga ke RS ya? Maksudku, sekarang?”
“Iya,” jawab Alcel sambil membayar di kasir. “Ada orang yang perlu kukunjungi.”
Maya merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Mereka keluar minimarket, berjalan lagi ke arah halte bus. Sepanjang jalan, Maya mencoba mencerna informasi itu. Alcel punya rutinitas Jumat ke RS—Maya juga datang hari ini meskipun jarang-jarang. Kebetulan yang terasa terlalu pas.
* * *
Di dalam RS, mereka naik lift ke lantai 3. Saat pintu kamar nomor 310, kamar sepupunya Maya terbuka, bibi dan pamannya langsung berdiri dari kursi pengunjung.
“Maya! Wah, datangnya bareng Alcel ya?” kata bibi sambil tersenyum lebar, matanya berbinar.
Maya langsung memerah. “Eh… iya, kebetulan ketemu di jalan.”
Maya merasa sedikit curiga, menoleh sekilas ke Alcel lalu kembali ke bibinya. “Tunggu dulu, bibi kenal siapa Alcel ini?”
Bibi memeluk Maya erat, lalu menoleh ke Alcel dengan hangat. “Alcel ini sudah tiga tahun setiap Jumat datang ke sini, Nak. Cuma sekedar nanya kabar Rayan, bawa oleh-oleh kecil-kecilan. Kadang foto juga, biar kalau dia bangun nanti ada kenangannya.”
Maya terdiam. Tiga tahun? Dia tidak pernah tahu. Tidak pernah dengar satu pun keluarganya dari sepupu, bibi, maupun pamannya cerita soal Alcel. Tidak pernah lihat foto-foto itu di ponsel keluarga. Semuanya berjalan diam-diam, seperti rutinitas yang tidak perlu diumbar.
Rayan—sepupu Maya—terbaring tenang di tempat tidur. Selang oksigen di hidung, monitor detak jantung berbunyi pelan dan teratur. Dokter bilang kondisinya stabil, dan dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, ada kemungkinan besar dia bisa terbangun dari koma. Hanya butuh waktu.
Alcel meletakkan kantong buahnya di meja samping tempat tidur, lalu mengeluarkan kamera. Dia memotret dari sudut lembut—cahaya jendela sore menyapu wajah anak itu dengan hangat, tanpa dramatisasi. “Buat kalau dia bangun,” katanya pelan ke bibi.
Bibi mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Kamu ini baik sekali, Cel. Maya beruntung punya pacar kayak kamu.”
Maya langsung gelagapan. “Bibi! Kami cuma—”
Bibi tertawa kecil, mengedipkan mata. “Iya iya, bercanda. Tapi serius, kalau Maya menikah sama kamu, Bibi setuju banget.”
Maya ingin protes keras, tapi Alcel hanya mengangguk kecil seperti tidak mendengar lelucon itu. Dia tetap fokus, memeriksa foto di layar kamera, lalu menyimpannya kembali.
Maya memperhatikan sepupunya yang masih tertidur. Dulu, sebelum koma, anak itu pernah bilang kepada keluarga: kalau ada orang yang boleh memotret dia, hanya Alcel. Tidak dijelaskan kenapa. Hanya “sesuatu” yang membuatnya memilih Alcel.
Sekarang, Maya hanya bisa diam. Dia tidak tahu bahwa selama tiga tahun ini, Alcel sudah menjadi bagian dari hidup orang-orang di kamar ini—tanpa pernah menceritakannya, tanpa pernah mencari pengakuan. Rutinitas yang sederhana, tapi konsisten.
Dan ironi itu semakin terasa: Maya yang selama ini merasa paling dekat dengan Alcel di klub foto maupun ruang OSIS, ternyata paling tidak tahu tentang sisi ini.
Bibi menepuk bahu Maya. “Kalian mau duduk dulu? Bibi ambilkan air.”
Maya mengangguk pelan. “Baik, Bibi.”