One Photograph

Momen'to
Chapter #10

CHAP 9: In Frame

Aditya duduk di kursi ketua, laptop terbuka di depannya. Formulir pendaftaran lomba fotografi sekolah sudah terisi lengkap. Nama "Alcel Meyer" tercantum di posisi pertama daftar peserta utama.

Tangan Aditya mengetuk-ngetuk meja kayu. Dia memandangi nama itu lama, seperti mencari pola dalam huruf-hurufnya.

Di sisi ruangan, Maya sedang memisahkan dokumen—arsip klub yang tercampur dengan laporan OSIS. Dia menemukan formulir keuangan klub yang seharusnya sudah ditandatangani Aditya seminggu lalu.

"Adit," ucap Maya sambil menyodorkan formulir, "ini belum kamu tanda tangani. Padahal deadline pengiriman ke bendahara OSIS besok."

Aditya menoleh, mengambil formulir tanpa antusiasme. "Aku lupa. Terlalu fokus ke lomba ini." Matanya kembali ke laptop. "Speaking of which..."

Dia memutar layar ke arah Maya. Di spreadsheet analisis peserta, kolom Alcel mencolok karena kosongnya catatan khusus.

"Lihat ini," kata Aditya, suaranya datar tapi penuh pertimbangan. "Dia sempurna secara teknis. Kehadiran 100%. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah menolak tugas. Fotonya selalu sesuai brief."

Maya mendekat, membaca data. "Lalu?"

"Tapi itu yang membuatku... penasaran." Aditya menutup laptop. "Orang normal punya variasi. Punya hari buruk. Punya preferensi. Alcel tidak. Dia seperti—" Dia berhenti mencari kata.

"Seperti apa?" Maya duduk di kursi di seberangnya.

"Seperti fungsi murni. Input -> proses -> output. Tidak ada noise." Aditya memandang Maya. "Kamu sering berinteraksi dengannya. Di klub, di koridor. Menurutmu, apa yang membuat seseorang bisa begitu... konsisten tanpa alasan yang terlihat?"

Maya tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada kalender dinding. Tanggal lomba dikelilingi lingkaran merah—tepat di hari Jumat.

"Konsistensi butuh alasan, Adit," ucap Maya pelan. "Tapi alasan itu tidak selalu untuk ditunjukkan."

Aditya mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Maya berdiri, mengambil tasnya. "Aku pernah dengar cerita tentang orang yang melakukan hal sama setiap Jumat selama bertahun-tahun. Bukan karena dia terpaksa. Tapi karena itu satu-satunya cara dia tahu bagaimana 'ada' tanpa harus bertanya 'untuk apa'."

Maya duduk di kursi yang disediakan di depan Aditya. "Mungkin Alcel sudah menemukan jawaban atas pertanyaan yang bahkan tidak kita pikirkan untuk ditanyakan."

Maya melanjutkan. "Ya. Beberapa orang melakukan hal sama berulang-ulang bukan karena mereka terpaksa, tapi karena itu tidak memberi mereka... apa-apa, dan mereka melakukannya dengan penuh kesadaran." Maya menatap pola cahaya di lantai—garis-garis persegi dari kisi jendela. "Misalnya, ada orang yang setiap Jumat sore pergi ke tempat yang sama, melakukan hal yang sama, bertemu orang yang sama. Bukan karena harus, tapi karena itu adalah hal yang dia lakukan tanpa henti."

Maya terdiam sejenak setelah berkata demikian. Matanya tertuju pada pola cahaya di lantai yang semakin miring. Pola itu sama persis dengan pola paving block di taman sekitar tiga tahun lalu.


* * *



Tiga tahun lalu sebelum Rayan koma di usianya yang 9 tahun, ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Rayan bermain dengan kedua temannya, Elric dan Mira di taman bermain.

"Rayan, lempar ke sini!" teriak Elric, berdiri di dekat ayunan besi yang berkarat.

Rayan tertawa, menendang bola plastik merah ke arah temannya. Tapi tendangannya melambung tinggi, melewati kepala Elric dan menggelinding ke arah bangku kayu di sudut taman.

Di bangku itu, seorang remaja lelaki dengan kamera DSLR hitam sedang duduk. Kamera diangkat ke arah pola bayangan daun di tanah.

"Duh, maaf!" Rayan berlari mengambil bola.

Mira yang berdiri di dekat Elric menyipitkan mata. "Eh, itu om-om kamera lagi."

"Om-om?" Elric menoleh. "Itu masih kakak-kakak kali. Tapi iya, tiap Jumat dia di sini."

Rayan sudah mengambil bola, tapi tidak langsung kembali. Dia memperhatikan remaja itu—Alcel (usia 14 tahun kelas 2 SMP)—yang sekarang memotret genangan air kecil di dekat bangku.

"Kenapa ya dia selalu sendiri?" bisik Mira.

Elric mengangkat bahu. "Mungkin nggak punya temen. Atau emang suka sendiri."

"Tapi nggak serem sih," kata Rayan sambil memantulkan bola. "Kemaren aku jatuh di sini, dia bantuin ngambil bolaku. Sambil bilang 'hati-hati lain kali ya' lalu pergi begitu aja."

Mereka melanjutkan bermain. Tapi sesekali, mata mereka tertuju ke bangku itu. Alcel tidak terganggu. Dia tetap memotret dengan ritme yang sama: angkat kamera, tahan napas sebentar, klik, turunkan, periksa layar.

Saat matahari semakin rendah, Elric dan Mira dipanggil pulang. Rayan tinggal sendirian, duduk di rerumputan sambil memperhatikan Alcel.

Rayan mendekat pelan. Alcel sedang membersihkan lensa kamera dengan kain microfiber.

"Kakak," ucap Rayan.

Alcel menoleh. "Ya."

"Kenapa kakak selalu motret hal-hal yang biasa aja? Kayak daun, genangan, bayangan?"

Alcel memandang Rayan. "Kamu pikir itu biasa?"

"Iya. Semua orang bisa liat itu."

"Tapi nggak semua orang lihat polanya." Alcel memutar kamera, menunjukkan layar. "Lihat. Bayangan daun ini bentuknya seperti peta pulau."

Rayan mengamati. Benar, bayangan itu memang seperti gambar pulau di buku geografinya.

"Oh... iya juga." Rayan duduk di bangku sebelah. "Tapi buat apa difoto?"

"Buat dilihat."

"Terus? Habis dilihat?"

"Udah." Alcel menyimpan kamera. "Selesai."

Rayan mengernyit. "Aneh deh. Tapi... seru juga kayaknya."

"Kenapa seru?"

"Karena kakak kayak lagi cari harta karun. Tapi harta karunnya cuma buat kakak sendiri."

Alcel tidak menjawab. Dia sedikit tersenyum melihat wajah Rayan yang saat itu terkena cahaya dalam posisi yang sempurna.

"Kamu sering ke sini?" tanya Alcel.

"Kadang. Aku nggak sakit, tapi ibuku kerja. Jadi aku sering nunggu di sini." Rayan mengayunkan kaki. "Kakak tiap Jumat selalu di sini ya?"

Lihat selengkapnya