One Photograph

Momen'to
Chapter #11

CHAP 10: Negative Space

Cahaya pagi samar menyusup lewat celah pintu gudang OSIS, yang sebenarnya lebih mirip markas rahasia daripada gudang biasa. Melin tergeletak di sofa usang, tubuhnya meringkuk di bawah selimut tipis, keyboard gaming RGB masih menyala redup di meja. Semenjak terpilih jadi bendahara OSIS di semester 2 kelas 1, dia punya akses istimewa: kunci gudang, password CCTV sekolah, bahkan database siswa. Dia suka mengawasi segalanya dari balik layar—seperti GM di game RPG favoritnya, mengatur quest tanpa terlihat. Tapi malam kemarin, seperti biasa, dia begadang grinding level di game, sambil otomatisasi script hack untuk farming item. Jarang pulang ke rumah, alasannya “masalah” yang tak pernah dia bahas.

Suara pintu ruang OSIS terbuka, diikuti langkah Anastasya yang selalu tepat waktu. Anastasya tahu kebiasaan Melin—dia yang sering membangunkannya, seperti rutinitas pagi mereka.

“Melin, bangun sekarang. Waktunya bersiap-siap. Bangun dalam 30 detik atau kusiram dengan air satu ember,” kata Anastasya, suaranya tegas tapi tidak marah. Ini sudah jadi kalimat standar.

Melin bergumam, “Iya… iya…” tapi mata masih tertutup, tubuh bergeser sedikit lalu diam lagi.

Anastasya menghela napas, ambil ember kosong dari pojok, diisi dengan air, dan masuk kembali ke gudang. Tapi sebelum dia sempat mengguyurnya, Melin sudah duduk, rambut acak-acakan, mata setengah terbuka. “Udah, Tasya. Aku bangun. Jangan siram beneran.”

Anastasya meletakkan ember. “Kau perlu perbaiki kebiasaan ini, Mel. Sekolah bukan hotel. Dan jangan lupa rapat persiapan FL3SN pagi ini—anggaran harus siap.”

Melin mengangguk, berdiri pelan, dan menuju kamar mandi sekolah. Anastasya menggelengkan kepala, tapi diam-diam khawatir—masalah rumah Melin makin parah, tapi tak pernah dibahas.


* * *



Melin kembali ke gudang setelah bersiap, seragam rapi, rambut disisir. Gudang ini sebelah ruang OSIS, pintu langsung terhubung—markas sempurna. Dia nyalakan tiga monitor:

           Monitor 1: Feed CCTV sekolah, 16 kamera split-screen, menangkap siswa pagi yang mulai datang.

           Monitor 2: Akses database siswa + tracking ponsel (hack pribadinya, via script custom).

           Monitor 3: Game RPG paused, karakter level 85 di dungeon.

Melin duduk, mata menyipit. Obsesinya ke Alcel mulai dari CCTV: Dia lihat Alcel sebagai “dalang balik layar” yang selesaikan masalah tanpa sengaja. Kasus barang hilang ditemukan karena foto Alcel. Pencurian berhenti saat Alcel lewat. Bullying bubar karena tatapannya netral. Bahkan konflik kelas mereda saat Alcel motret di dekatnya. “Dia seperti script auto-resolve,” gumam Melin. “Nggak pernah ribut, tapi semuanya beres.”

Dia buka folder tersembunyi di komputernya: “Observasi_Alcel”. Ada beberapa file:

           Alcel_Movement_Pattern.xlsx – catatan rute harian dan waktu.

           Alcel_Interaction_Log.docx – interaksi dengan siapa saja, durasi, konteks.

           Alcel_Photography_Analysis.pdf – analisis komposisi foto, pola cahaya, preferensi subjek.

Melin membuka log interaksi. Beberapa entri:

           Tanggal 12/10: Alcel bantu cari kunci hilang Pak Roni dengan memotret area yang mungkin jatuh. Kunci ditemukan di bawah pot bunga.

           Tanggal 15/10: Alcel lewat koridor saat ada perkelahian kecil. Hanya berdiri dan memotret cahaya dari jendela. Perkelahian berhenti sendiri.

           Tanggal 18/10: Alcel memotret papan pengumuman yang rusak. Besoknya diperbaiki tanpa diketahui siapa pelakunya.

“Seperti dia punya aura penyelesaian masalah,” bisik Melin. Tapi dia penasaran: apakah Alcel sengaja atau hanya kebetulan?

Dia putar rekaman CCTV sekolah beserta CCTV di jalanan yang dia retas pada Jumat lalu. Dia lihat:

           13:30: Alcel dan Maya makan di warung makan.

           14:15: Mereka di minimarket beli buah.

           14:45: Mereka masuk rumah sakit bersama.

“Hmm…” Melin mencatat. “Ini berbeda. Biasanya Alcel sendirian.”

Dia simpan catatan itu. Waktunya menuju rapat. Tapi sebelum itu, dia pause game dan simpan progress. Di layar monitor 2, dia lihat notifikasi: ada akses tidak sah ke database siswa malam tadi. Tapi itu bukan prioritas sekarang.

Melin berdiri, ambil tas dan buku anggaran. Dia melirik sekali lagi ke feed CCTV, melihat Alcel sudah sampai di taman sekolah, seperti biasa memotret bunga pagi.

“Dia konsisten,” gumam Melin. “Tapi apa motivasinya?”

Pertanyaan itu akan dia bawa ke pra-rapat. Mungkin hari ini dia bisa dapat jawaban, atau setidaknya petunjuk baru.


* * *



Melin masih duduk di gudang, mata tertuju pada monitor ketiga yang menampilkan game RPG-nya. Karakternya sedang berada di tengah pertempuran melawan bos level 85, tangannya menari cepat di atas keyboard. Dari monitor samping, CCTV menunjukkan lorong-lorong sekolah yang mulai ramai dengan siswa pagi.

Pintu gudang terbuka tanpa ketuk. Maya berdiri di ambang pintu, seragam rapi, tas masih tergantung di bahu.

"Melin, rapat internal dulu. Yang lain udah nunggu di ruang OSIS," katanya, suaranya datar.

Melin tidak menoleh. "Aku sibuk. Boss battle nih."

Maya menghela napas, melangkah masuk, dan langsung menjewer telinga Melin dengan gerakan cepat yang sudah terlatih.

"Aduh! Iya iya, aku datang!"

Melin mematikan game dengan enggan, menyimpan progresnya, lalu mengikuti Maya ke ruang OSIS yang hanya terpisah satu pintu. Di dalam, Dariel sudah duduk di kepala meja, dokumen tersusun rapi di depannya. Anastasya berdiri di dekat jendela, memeriksa catatan di tabletnya.

Melin duduk di kursinya, masih mengusap telinga yang merah. Matanya lalu berbinar licik.

"May, kamu lagi pacaran ya?" tanyanya tiba-tiba. "Belakangan ini lebih lembut. Biasanya jewerannya brutal."

Lihat selengkapnya