One Photograph

Momen'to
Chapter #12

CHAP 11: Chromatic Aberration

Setelah rapat besar FLS3N usai, keempat pengurus inti OSIS masih bertahan di ruang rapat yang mulai sepi. Suara kursi yang digeser, debu yang beterbangan di sinar matahari pagi, dan aroma kopi dari cangkir Dariel yang sudah dingin menciptakan atmosfer pasca-rapat yang intim.

Melin masih duduk di tempatnya, jari-jarinya mengetuk meja kayu dengan ritme tidak sabar. Matanya menatap kosong ke arah pintu, seolah masih memproses sesuatu.

"Jadi kalian bertiga sudah tahu dari kapan?" tanyanya tiba-tiba, suaranya datar namun terdengar getar halus di dalamnya.

Maya yang sedang merapikan tumpukan formulir di sampingnya menoleh. "Aku tahu sejak awal dia masuk klub. Kan aku wakil ketua klub fotografi juga, Mel."

Dariel mengangkat kepalanya dari laptop, mengangguk pelan. "Aku tahu waktu makan siang minggu lalu. Dia bilang mau ikut lomba saat kami makan bersama."

Anastasya menyimpan tabletnya ke dalam tas dengan gerakan hati-hati. "Aku tahu dari Dariel. Tapi kupikir kamu sudah tahu duluan, Mel. Soalnya kamu kan... selalu punya data tentang semuanya."

Melin menghela napas panjang, bahunya turun. "Aku pikir aku yang paling tahu tentang dia. Ternyata tidak. Aku tahu jam berapa dia bangun, rute joggingnya, bahkan berapa kali dia berhenti untuk memotret pagi. Tapi tidak tahu dia ikut klub. Tidak tahu dia dipilih untuk lomba."

"Kamu hanya tahu gerak-geriknya, tapi tidak tahu motivasinya," kata Maya, duduk di kursi di sebelah Melin. Suaranya lembut, bukan menuduh. "Kamu lihat dia lewat CCTV, tapi tidak pernah bertanya langsung kenapa dia melakukan ini-itu."

"Makanya," sambung Anastasya sambil merapikan rambutnya, "kenapa tidak ketemu langsung dan tanyakan? Daripada ribet buka tiga monitor? Interaksi langsung lebih akurat daripada ratusan jam rekaman."

Dariel menutup laptopnya dengan bunyi klik pelan. "Data tanpa konteks bisa menyesatkan, Mel. Kamu tahu setiap langkahnya, tapi tidak tahu peta tujuan perjalanannya."

Melin terdiam. Kata-kata mereka sederhana, tapi justru itulah yang selama ini terlewatkan. Dia telah membangun menara pengamatan yang tinggi, tapi lupa bahwa menara itu hanya memberinya sudut pandang terbatas—bukan pemahaman utuh.

"Mungkin kamu benar," akhirnya gumam Melin. "Aku akan coba."


* * *



Di pagi di taman sekolah, Melin duduk di bangku dekat kolam ikan, pura-pura asyik dengan game di ponselnya. Tapi matanya sesekali mengintip ke arah sosok di seberang taman. Alcel sedang memotret bunga-bunga yang baru mekar, tubuhnya membungkuk sedikit, kamera diangkat dengan stabil. Melin menghitung dalam hati: tiga jepretan per bunga, jeda lima detik, lalu bergerak ke bunga berikutnya. Ritme yang teratur seperti mesin, tapi tidak kaku—masih ada kelenturan manusiawi dalam gerakannya.

Ketika istirahat makan siang di kantin sekolah, Melin mengambil tempat duduk dua meja dari Alcel yang makan sendirian dengan piring nasi goreng dan segelas air putih. Dia pesan yang sama, mencoba merasakan apa yang Alcel rasakan—mungkin tidak ada yang khusus, hanya bahan bakar untuk tubuh. Tak lama, Aditya dan Ivan datang membawa nampan mereka dan duduk bersama Alcel.

"Untuk fotografi, tema 'Harmoni'," kata Aditya membuka percakapan. "Kamu punya ide?"

Alcel mengunyah sesuap nasi dengan tenang sebelum menjawab. "Akan aku potret pola keragaman: garis-garis pagar yang berbeda arah, warna cat yang tidak konsisten di dinding tua, atau bentuk daun yang bervariasi dalam satu pohon. Itu harmoni teknis."

Ivan tertawa geli. "Wah, literal banget! Aku mau bikin eksperimen #401: foto double exposure wajah berbagai suku! Itu harmoni metaforis!"

Aditya membalas. “Kurasa kau potret objek hidup aja deh, Alcel… Seperti foto 3 anak kemarin yang kau foto itu bagus banget.”

Melin mencatat mental: Pendekatan Alcel tetap teknis dan literal, melihat harmoni sebagai pola visual. Ivan melihatnya sebagai konsep sosial.

Saat istirahat di koridor utara, Melin mengikuti dari balik pintu koridor, berpura-pura duduk di kursi sekitar sambil mendengarkan musik, memperhatikan Alcel yang sedang memotret pola cahaya yang terbentuk dari jendela kaca patri. Cahaya berwarna-warni jatuh di lantai, membentuk mosaik yang berubah seiring pergerakan matahari. Tiba-tiba, tanpa peringatan, Alcel menoleh dan mengangkat kamera ke arah Melin yang setengah bersembunyi.

Klik.

Suara shutter yang pelan tapi tegas.

Alcel mendekat dengan langkah tenang, memutar kamera untuk menunjukkan layarnya. "Ini," katanya, suaranya datar seperti biasa.

Foto itu menunjukkan Melin sedang mengintip, separuh wajahnya terlihat dari balik pintu, mata penuh keingintahuan yang belum sempat disembunyikan. Cahaya dari jendela membentuk siluet yang bagus di sekitar tubuhnya, menciptakan kontras antara terang dan gelap yang dramatis.

"Kamu mengikutiku sejak pagi," kata Alcel. "Ada perlu?"

Melin kaget, tapi berusaha tenang. Dia pikir Alcel tidak menyadarinya. "Aku... cuma penasaran. Kenapa kamu ikut lomba?"

"Karena perlu kamera. Sekarang sudah dapat akses."

"Tapi kenapa dua lomba? Fotografi dan film pendek?"

"Fotografi untuk kebutuhan pribadi. Film pendek untuk kewajiban klub."

Lihat selengkapnya