Gelap.
Dingin.
Kosong.
Itulah yang pertama kali Bima rasakan saat kesadarannya perlahan kembali. Seperti tenggelam di lautan hitam tanpa dasar, ia melayang dalam kegelapan yang tak berujung. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Hanya kehampaan yang memeluk tubuhnya dengan erat.
Kemudian, sebuah sensasi aneh menyeruak. Seperti ditarik oleh tangan raksasa yang tidak terlihat, kesadarannya terseret ke atas dengan kecepatan luar biasa. Gelap mulai memudar. Dingin berganti hangat. Dan tiba-tiba—
"HUAAAH!"
Bima terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya meloncat bangun dalam posisi duduk. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya yang gemetar. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke depan sambil mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
"Apa... apa yang..."
Suaranya serak, hampir tidak terdengar. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir. Bima mengangkat tangannya, menatap kedua telapak tangannya yang bergetar. Tangannya. Tangannya sendiri. Tapi kenapa rasanya... asing?
Perlahan, ia mulai menyadari lingkungan sekitarnya. Pasir putih membentang di bawah tubuhnya. Langit biru cerah terbentang luas di atas kepala. Suara deburan ombak terdengar tidak jauh dari tempatnya berada. Hembusan angin laut menerpa wajahnya dengan lembut.
Pantai. Ia berada di sebuah pantai.
"Dimana... ini?" gumam Bima pelan, otaknya masih mencoba memproses informasi yang membanjiri inderanya.
Ia mencoba mengingat. Apa yang terakhir kali ia lakukan? Dimana ia sebelumnya? Siapa... siapa dirinya?
Fragmen-fragmen ingatan mulai bermunculan seperti pecahan kaca yang berserakan. Gedung tinggi. Lampu lalu lintas. Suara klakson yang memekakkan telinga. Sebuah truk besar yang melaju kencang. Rasa sakit yang menusuk. Kemudian... kegelapan.
"Aku... mati?"
Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya, dan entah kenapa, ia tahu itu benar. Ia sudah mati. Di dunia yang lain. Di kehidupan yang lain. Tapi sekarang... ia hidup lagi?
Bima bangkit berdiri dengan sempoyongan, kakinya hampir tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Ia menatap sekeliling dengan pandangan bingung. Pantai yang landai membentang ke kiri dan kanan sejauh mata memandang. Di belakangnya, hutan lebat dengan pepohonan tinggi menjulang. Tidak ada tanda-tanda peradaban. Tidak ada bangunan. Tidak ada manusia.
"Pulau terpencil?"
Perutnya tiba-tiba berbunyi keras. "Kruyuuuk!"
Rasa lapar yang luar biasa menyerang. Bukan sekadar lapar biasa, tapi seperti tidak makan selama berhari-hari. Lututnya hampir lemas, kepalanya pusing, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Harus... mencari makanan..."
Dengan langkah gontai, Bima mulai menyusuri pantai. Setiap langkah terasa berat, tubuhnya seperti ditarik ke bawah oleh gravitasi yang berlipat ganda. Ia mencoba mencari kepiting, kerang, atau apapun yang bisa dimakan. Tapi pantai ini tampak terlalu bersih, terlalu sepi.